
Rissa bersorak gembira saat pesan masuk ke ponselnya. Ia meloncat berkali-kali, tak peduli meski Tari sudah memperingati. Pasalnya, karena pesan dari Dokter Sam yang menanyakan kabar.
"Kamu senang sekali, Ris?" kata Tari, sambil menghempaskan badannya di kasur butut Rissa.
"Ya, aku benar-benar bahagia!"
"Iya deh, yang sebentar lagi akan menikah."
"Ku harap kamu juga menemukan jodoh terbaik seperti Dokter Sam, Tar!".
Tari hanya diam, menatap lurus ke depan. Ia tak tahu, lebih tepatnya tidak yakin, apakah kebahagiaan kelak akan berpihak padanya? Ia hanyalah anak yatim yang menanggung beban hutang ayahnya yang sudah meninggal, ia juga harus menanggung biaya hidup ibu dan tiga adiknya.
Tari memang sudah melihat sendiri bagaimana keajaiban jodoh itu ada. Yaitu Rissa. Tapi ia tetap saja tak berani berharap sebab ia hanyalah seorang yang biasa yang rasanya tak pantas memikirkan kebahagiaannya sendiri.
"Tar, kok diam saja." Rissa mengguncang pelan lengan Tari.
"Aku tak tahu Rissa, apakah aku bisa merasakan kebahagiaan seperti kamu." jawab Tari.
"Lho, kenapa? Siapa tahu nanti kamu ketemu dokter tampan yang juga kaya seperti dokter Sam. Lalu kita bisa sama-sama menikah!"
"Hahahah, sudah sudah. Mengkhayalnya jangan terlalu tinggi. Ngelihat kamu bahagia saja aku juga sangat bahagia!"
"Tapi kebahagiaan itu akan terasa lengkap kalau kamu merasakan hal yang sama bahkan lebih dari aku, Tar!"
__ADS_1
"Ris ... kondisi kita berbeda. Kamu sendirian, sementara aku punya beban. Tetap saja tak bisa disamakan."
"Tar ...." Rissa menatap Tari dengan mata nanar. Ia tak rela, jika tetangga kamar kosan yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung sendiri tak bisa merasa kebahagiaan seperti yang ia rasakan. Melihat Tari yang begitu pesimis menambah kesedihan di hati Rissa.
"Ris ... Ris ... Rissa!" suara seseorang memanggil nama Rissa. Berdua mereka melengok dari balik jendela kosan sehingga bisa melihat sosok Fian sedang berdiri di sana dihalangi Abas dan ibunya.
"Mau ngapain lagi dia ke sini?" tanya Rissa.
"Entahlah." kata Tari. "Kamu mau kemana?" Tari mencegah langkah Rissa, ia tahu, sahabatnya itu hendak menemui Fian.
"Kita nggak akan tahu ia mau apa kalau tidak ditemui!" ungkap Rissa.
***
Siapa yang tidak kesal mendengar pernyataan tersebut. Setelah apa yang dilakukannya, berani-beraninya Fian ingin merusak rencana pernikahan Rissa.
"Ini demi kebaikan kamu, Ris. Aku mengatakan semuanya karena aku nggak mau kamu menderita. Kamu tahu, dokter itu punya rahasia besar. Ia mendekati kamu bukan karena cinta, tapi karena ...." kalimat Fian tertahan sebab Abas menarik bajunya dari belakang sehingga ia kesulitan bicara.
"Eh, kamu itu mau apalagi Fian? Nggak sadar, Rissa sekarang sudah menemukan pilihan yang jauh lebih baik dari kamu. Bilang saja kamu iri. Iya, kan?" serang Bu Yana yang benar-benar ingin membalaskan kekesalannya selama ini. ia merasa inilah waktu yang tepat dan mungkin lain kali tak akan ada kesempatan itu lagi mengingat Rissa sudah punya rencana menikah.
"Lepaskan!" Fian meronta hingga cengkraman Abas terlepas. "Kamu sakit gara-gara dokter itu!" teriak Fian.
"Maksudnya?" Rissa mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Sudah Ris, jangan dengarkan apa katanya. Sekarang lebih baik kamu masuk dan istirahat. Tar, tolong bawa Rissa masuk!" pinta Bu Yana pada Tari. "Anak ini benar-benar tidak punya otak. Sini!" Plung. Bu Yana memukul sapu yang ia ambil secara cepat ke kepala Fian sampai anak itu menjerit kesakitan.
"Hei, kalian semua dengar dulu. Aku nggak bohong. Aku bisa buktikan semua kata-kataku!" Fian mengambil sesuatu dari tasnya. Beberapa lembar kliping koran yang entah apa isinya. Lalu ia menunjukkan dengan susah payah pada Rissa sebab ia dihalangi oleh tiga orang dan yang paling agresif tentunya Bu Yana, terus memukul sampai ia menjerit kesakitan tetap saja tak dihentikan. "Lihat Ris. Lihat baik-baik. Kamu kena kanker karena bahan kimia yang disalah gunakan oleh pabrik tempat kamu bekerja!"
"Lalu apa hubungannya dengan Dokter Sam?" tanya Tari yang sudah sangat geram. Sebenarnya ia pernah mendengar isu terkait hal tersebut, tapi tidak terlalu ditanggapinya karena ia tak punya waktu dan pabrik benar-benar menutup segala hal tentang informasi tersebut. "Jangan ngarang terlalu jauh Fian!"
"Dokter itu adalah putra pemilik pabrik tempat kalian bekerja. Kalian tidak lupa kan kalau ia adalah pewaris dari Pratama Group?" ujar Fian.
Rissa dan Tari saling lihat. Perlahan, pijakan Rissa goyah. Ia tak perlu penjelasan apapun untuk tahu apa tujuan Fian membongkar ini semua.
"Dokter itu mendekati kamu pasti ada maksud. Bukan semata-mata karena ia mencintai kamu apalagi ingin menikahi kamu. Jangan mimpi Rissa. Ia mendekati kamu karena takut pabriknya kena tuntut!" Ungkap Fian.
Rissa semakin gemetaran. Kalau saja Tari tak memeganginya dengan kuat, mungkin tubuhnya sudah ambruk.
Baru tadi ia merasakan betapa bahagia membayangkan masa depan bersama dokter Sam. Sekarang ia sadar,siapa dirinya. Harapannya pupus sudah.
Harusnya sejak awal ia tak mudah GR. Bagaimana mungkin ia bisa berharap mendapatkan cinta dari lelaki kaya dan tampan yang bisa dikatakan mendekati kata sempurna. Sementara ia hanyalah gadis yatim piatu yang tak punya kelebihan apapun.
Susah payah Tari membopong tubuh Rissa ke kamarnya. Sementara di luar masih terdengar keributan sebab Abas dan Bu Yana mencoba mengusir Fian. Mereka bahkan memanggil hansip sebab kesal dengan ulah Fian yang keras kepala.
***
Meski hampir babak belur dihajar oleh ibu kos Rissa, namun Fian puas sebab ia sudah merasa berhasil melakukan tujuannya. Rissa sudah tahu siapa dokter tersebut dan tujuannya ingin menikahi Rissa. rasanya tak sia-sia Fian membayar teman-temannya yang sudah jadi wartawan sampai ia harus berhutang cukup banyak pada Sari, perempuan yang dijodohkan ibunya untuk dirinya.
__ADS_1
Fian tak peduli bagaimana cara membayar hutang itu nantinya. ia yakin, jika sudah kembali bersama Rissa, mantan kekasih yang nantinya akan jadi kekasihnya itu akan membantunya melunasi hutang pada Sari. selain itu, sebenarnya Fian punya rencana yang tak kalah hebat menurutnya. Setelah kembali bersama Rissa, ia akan membujuk gadis itu agar mau menuntut perusahaan. Setidaknya uang tutup mulut sebesar sepuluh milliar akan didapatkannya. Uang sebanyak itu lebih dari cukup untuk masa depan mereka berdua. ia tak perlu lagi susah payah mengerjakan skripsi apalagi kerja keras mencari nafkah. Dengan uang segitu, jangankan keluarga kecilnya, ibu dan adik-adiknya pun bisa ditanggung. Mereka hanya akan bersenang -senang saja.