Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Suamiku, Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Rissa sudah tak sabar menemui Sam, namun luka parut yang belum sempurna sembuh di pipinya membuat ia menunda pertemuan itu. Ia ingin saat suaminya melihat dirinya kembali dalam kondisi cantik seperti sebelum-sebelumnya. Padahal Rissa sangat ingin memberitahu Sam tentang kehadiran calon anak mereka.


Ia juga sudah memikirkan untuk pindah dari rumah ini. Bagaimana pun rasanya tak elok jika ia terus tinggal seatap dengan lelaki yang bukan mahramnya. Dasril memang laki-laki baik, tapi ini akan jadi jalan fitnah jika ia bertahan di sini. Rissa begitu ingin menjaga perasaan suaminya. Awalnya Rissa ingin menumpang di kosan Tari, setidaknya sampai lukanya sembuh, namun ternyata Tari sudah pulang sebab melangsungkan pernikahan. Ia baru kembali sekitar sepekan lagi.


Makanya pilihan terakhir akhirnya jatuh ke panti. Di sana ia sebelumnya tinggal. Ibu kepala pernah menawarkan bahwa kapanpun ia mau kembali pintu rumah panti selalu terbuka untuk dirinya. Makanya tempat itulah yang paling cocok menurut Rissa.


Sayangnya, saat disana, Rissa tak sengaja melihat dokter Ines. Awalnya Rissa ingin menghampiri namun ia sadar bahwa kondisinya belum bisa bertemu sekarang, untungnya ia memakai cadar sehingga mertuanya itu tak mengenali Rissa. Ia hanya mendekat untuk mengetahui tujuan kedatangan dokter Ines ditemani Ash.


Saat itulah Rissa terkejut ketika kedatangan dokter Ines untuk mengantarkan gaun pengantin untuk Eka. Yang membuatnya terkejut ternyata sahabatnya itu akan menikah dengan suaminya, Sam. Entah bagaimana ceritanya namun sukses membuat Rissa sesak.


"Nak, kamu siapa ya?" tanya ibu kepala yang melihat Rissa berbalik. "Ada perlu apa?" tanya ibu kepala lagi.


Pertanyaan itu tentunya diabaikan oleh Rissa, ia buru-buru berlalu tanps memperlihatkan dirinya. Jantungnya rasa ingin berhenti berdetak. Cepat sekali suaminya melupakan dirinya padahal Sam mengaku hanya mencintai dirinya. Apakah semua ucapannya bohong belaka? Padahal baru tiga bulanan ia pergi dari hidup Sam. Itupun karena kejadian kebakaran yang benar-benar diluar kendalinya


Rissa menangis pilu saat mengetahui tentang pertunangan suaminya dan Eka. Ia terus bertanya-tanya, kenapa semua ini bisa terjadi? Saat kacau seperti itu ia yang baru sampai secara tak sengaja mendengar percakapan Dasril dan bibi Erna dimana mereka tengah mengakui kekhilafannys sebab sudah membakar rumah sakit.


"Jadi kamu anak Bu Ani?" tanya Rissa. "Gara-gara kamu aku sekarang kehilangan suamiku. Kamu sudah menghancurkan hidupku. Kamu tahu, suamiku akan menikah dengan temanku sendiri padahal sekarang aku sedang mengandung anaknya. Bagaimana ini? Aku benar-benar sudah tak punya siapa-siapa lagi. Aku sendiri dan akan selalu sendiri untuk selamanya!" Rissa sudah tak bisa menahan kesedihannya, ia menangis, meraung menjadi-jadi tanpa memikirkan dirinya lagi.

__ADS_1


"Maafkan aku Ris, maaf." Kata Dasril. "Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku. Aku akan ceritakan semuanya pada suamimu. Aku yang salah dan akan menanggung hukuman darinya asalkan kamu bisa kembali padanya." Ungkap Dasril.


"Kembali bagaimana? Setelah luka ini ada. Suamiku tak akan melihatku lagi " Rissa masih terus menangis. Ia masuk ke dalam kamar, mengurung diri sambil terus meratapi nasibnya.


Entah kenapa ujian hidupnya seperti ini. Baru saja menemukan kebahagiaan namun semuanya sudah langsung diambil paksa tanpa pernah diizinkan untuk memiliki seutuhnya. Rissa tak tahu bagaimana harus menghadapi semuanya. Apakah harus diam atau menemui Sam.


***


Dasril berjalan mondar mandir di depan kamar Rissa. Antara mau mengetuk tapi takut Rissa masih marah. Sejak pagi perempuan itu belum juga makan, padahal ia sedang hamil. Takutnya malah berefek pada calon anaknya nanti.


"Ris, di meja makan ada bubur dan SOP ayam, dari pagi kamu belum makan, makanlah terlebih dahulu." kata Dasril. "Atau kalau kamu pengen sesuatu bilang saja. Nanti aku belikan." tambahnya.


"Nggak usah." jawab Rissa, lalu berlalu ke kamar mandi.


Dasril sebenarnya kecewa namun ia menyadari semua itu karena perbuatannya. Makanya ia memutuskan bersabar menunggu Rissa selesai agar bisa kembali membujuknya.


Setelah Rissa kembali hendak masuk ke kamar, Dasril kembali menghadang, ia masih membujuk Rissa namun jawaban Rissa tetap sama bahwa ia tak mau makan.

__ADS_1


"Ris, kamu itu sedang hamil, aku tahu kamu marah padaku. Sedih dengan pernikahan suamimu. Tapi kamu harus tahu satu, hal, bahwa aku begini karena ulah dokter Syahril. Anak mana yang tak marah sebab ibunya sudah dijadikan kelinci percobaan. Ibuku meninggal, Ris. Padahal aku ke negeri orang untuk berjuang memenuhi mimpi ibu agar bisa naik haji bersama. Dari kecil hanya ibu yang aku punya, masa atas ketidakadilan yang aku dapatkan aku nggak boleh marah, Ris?" ungkap Dasril.


Rissa diam, ia menitikkan air mata. Tak tahu harus menjawab apa. Perempuan itu sebenarnya bisa menerima kemarahan Dasril, namun ia menyesali keputusan Dasril yang mau terprovokasi hingga mau melakukan pembakaran rumah sakit dan pabrik. Itu perbuatan kriminal sebab apa yang dilakukan Dasril untuk balas dendam tak tepat sasaran. Dokter Syahril sudah meninggal, sementara di pabrik dan rumah sakit itu saat kejadian kebakaran banyak yang jadi korbannya. Mereka yang tak ada hubungan dengan dokter Syahril.


"Kenapa diam? Kamu tak bisa jawab? Atau masih mau membela mereka?" Dasril yang sudah telanjur marah meluapkan emosinya pada Rissa. "Kalau kamu masih menganggap aku jahat, baiklah. Aku akan jahat sekalian. Rissa, mulai sekarang kamu tak boleh keluar dari rumah ini. Kamu ada di bawah kekuasaan saya!" Dasril menarik Rissa masuk ke dalam kamar, lalu ia mengunci pintunya dari luar sehingga membuat Rissa berteriak minta dibukakan kunci.


Bibi Erna yang baru pulang dari pasar langsung minta penjelasan pada Dasril atas sikapnya mengunci Rissa.


"Mulai sekarang aku akan mengurungnya di sini, bi. ia tak boleh lagi keluar dari rumah ini!" Dasril menegaskan.


"Das, kenapa harus begitu? Kamu dan Rissa itu sama-sama korban, jadi jangan terbawa emosi. Jangan sampai kamu mendapatkan masalah. Ingat Das, siapa suaminya Rissa. Bukan orang sembarang. Jangan sampai gara-gara ini kita malah mendapat masalah." ungkap bibi Erna.


Tapi Dasril tak mau mendengar. Keputusannya sudah bulat, seperti saran Mr Y agar Dasril mengurung Rissa, memisahkan dari suaminya agar menjadi balasan untuk keluarga Pratama. Selain itu Dasril juga mengaku mencintai Rissa dan ia ingin hidup bersama perempuan itu.


"Setelah anaknya lahir, aku akan memintanya untuk menikah denganku!" kata Dasril.


"Astagfirullah Das," bibi Erna mengingatkan Dasril bahwa apa yang ia rencanakan itu sudah terlalu jauh. Tapi Dasril tetap saja keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2