
Pagi-pagi, Sam bangun, bersiap menuju kantor Pratama Grup. Ia sudah menghubungi Carissa dan ibunya untuk hadir di meeting pagi ini. Melihat Sam sudah rapi dengan jas hitamnya; membuat ibu dan adik-adiknya terkejut.
"Sam, kamu mau kemana, nak?" Tanya dokter Ines yang sedang sarapan dengan dua adiknya Sam. Sejak rumah sakit kebakaran ia memang memilih menghabiskan waktu di rumah. Memasak, berkebun dan berbincang banyak dengan anak-anaknya. Seolah menebus waktu yang pernah terbuang karena kesibukannya mengejar karir. Bukankah tiap peristiwa itu ada hikmahnya.
"Ke kantor untuk membicarakan pembangunan ulang rumah sakit." kata Sam. "Oh ya Yoga, Ash ... aku butuh kehadiran kalian berdua karena kata Carissa ada masalah dengan keuangan pabrik yang tak bisa diakses. Ada dana keluar Sampat seratus milliar."
"Wow, kau tahu siapa pelakunya, kak?" tanya Ash.
"Siapa lagi ... Kemungkinan calon iparnya Yoga." ujar Sam sambil melirik adiknya yang sedang meneguk minuman di gelasnya.
"Apa?" kata dokter Ines dan Ash bersamaan. Sementara Yoga langsung tersedak.
"Apa maksudmu, Sam?" dokter Ines meminta penjelasan.
"Bu, sepertinya aku harus ikut Sam ke kantor. Iya kan Sam? Ayo kita berangkat sekarang." tak mau diinterogasi, Yoga langsung menyeret abangnya agar segera pergi. Sampai di dalam mobil ia langsung protes karena ucapan abangnya tadi yang nyaris mengundang marah ibunya. "Kau mau aku diamuk ibu?" ia melotot.
"Kenapa kau begitu pengecut? Harusnya jangan menyimpan perasaan seperti itu. Kalau suka ya katakan saja. Masalah ditolak atau tidak urusan nanti, yang penting berjuang dulu." kata Sam dengan enteng.
***
__ADS_1
Sampai di kantor, rapat dimulai. Sam didampingi Yoga memeriksa keuangan. Bagian keuangan rumah sakit aman sehingga pembangunan bisa segera dilaksanakan, ditambah ada asuransi yang turun juga. Namun tidak dengan pabrik karena keuangan berantakan. Laporan pengeluaran tak jelas sementara uang di bank hanya tinggal seperempatnya.
"Max, jelaskan sekarang. Kalau kau tetap bertele-tele maka aku akan memanggil polisi sekarang agar semua diselesaikan lewat jalur hukum saja." Sam menegaskan. Ia memang paling tidak suka yang namanya kecurangan.
"Aku tak tahu, kenapa kalian terus menyudutkan aku. Terjadi kebakaran, semua pembukuan terbakar. Lalu bagaimana aku bisa membuat laporan?" kata Max, masih mencoba mengelak.
"Max, perusahaan kita ini sudah sangat maju. Pembukuan tak hanya manual jadi jangan macam-macam!" Sam menegaskan agar Max segera membuat laporan keuangan.
Berbeda dengan abangnya, Yoga tak mau ada kompromi, ia langsung memanggil polisi sehingga membuat suasana di ruang rapat menjadi gaduh.
"Bisa yang lain tinggalkan ruangan rapat dulu " pinta Bu Amelia pada para karyawan yang menghadiri rapat. Serentak mereka keluar. "Sam, Yoga ... Ada apa ini? Bukankah kita sudah menjadi keluarga, kenapa kalian menyudutkan Max seperti itu? Kalau ada masalah kenapa tak bicara baik-baik." kata Bu Amelia yang merasa kehormatan anaknya sedang dipertaruhkan. Kalau Max sampai di periksa maka Bu Amelia sudah sangat yakin anaknya bersalah, makanya ia tak mau sampai melibatkan polisi.
"Kalau Max tak mau mengaku juga biar polisi saja yang menyelesaikan. Kita tak usah buang-buang energi untuk orang yang tak jujur, apalagi yang makanya keluarga." kata Yoga.
Suasana masih tegang ketika dokter Ines dan Ash datang. Max belum juga mau mengaku hingga dokter Ines menegaskan tentang perjanjian kalau ada salah satu dari pihak Bu Amelia yang berkhianat maka ia harus melepaskan semua yang sudah diberikan ayahnya Sam.
"Sepertinya memang tak bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Ayo persilahkan polisi masuk saja." kata Yoga yang memang paling tak sabar menghadapi kasus ini.
"Tunggu dulu," kata Carissa. "Aku menjadi saksi bahwa Max melakukan kecurangan." ia mengeluarkan sebuah map dari kopernya. Dalam koper tersebut terdapat salinan rekening koran penarikan uang yang dilakukan Max, juga beberapa bukti Sam mengambilnya secara langsung ataupun transfer. "Ini semua sudah ku kumpulkan sejak jauh hari. Aku berharap sebenarnya Max menyadari kesalahannya dan mau bertaubat tapi Max tetap keras pendirian menyembunyikan kesalahannya..Sekarang silakan Tante Ines memutuskan tentang Max." kata Carissa.
__ADS_1
"Caris!" Max benar-bemar marah, ia tak menyangka dikhianati oleh adiknya sendiri yang tega membongkar kejahatannya hingga kini ia berada di tepi jurang.
"Baiklah, sekarang hanya ada dua opsi. Kalian serahkan Max ke polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya atau kami ampuni tapi kalian harus lepaskan semuanya." kata dokter Ines. "Rumah sakit dan pabrik di pegang oleh Sam, Yoga dan Ash."
Ini adalah pilihan yang berat untuk Bu Amelia. Ia sudah menyerahkan semua hidupnya pada keluarga Pratama yang sudah mengubah nasibnya dan dua anaknya dari pernikahan terdahulu namun perjuangannya sia-sia. Anak sulungnya yang ia harap bisa menopang hari tuanya namun menghancurkan semuanya.
"Bagaimana?" Tanya dokter Ines.
"Baiklah, kami akan lepaskan." Bu Amelia berusaha tenang seolah tak masalah meski sebenarnya hatinya berkecamuk. Ia benar-benar marah pada Max.
"Bu!" Max protes.
"Diamlah Max, setidaknya mereka sudah mengampuni kesalahanmu. Sekarang minta maaf pada Bu Ines, Sam, Yoga dan Ash." kata Bu Amelia.
Sayangnya sulungnya tak peduli. Ia marah, mengecam ibunya. "Kau tahu Bu, Carissa sudah bekerja banyak untuk mereka tapi kau malah mengembalikan semuanya. Kalaupun aku bersalah, yang aku ambil juga hakku dan Carissa. Hak keluarga kita. Memangnya ada Tapinya ang gratis dimuka bumi ini? Bu, kau sudah melayani dan membersamai ayah mereka. Bahkan kau memberinya satu putra lagi. Tapi ini balasannya. sepertinya mereka memang sudah mengatur siasat agar bisa menyingkirkan kita sekeluarga. Mereka memang keluarga yang pandai bersandiwara, pura-pura saja baik padahal sebenarnya busuk!" kata Max.
Plak. Sebuah tamparan melayang di pipi Max. Bu Amelia terpaksa melakukannya untuk menghentikan ocehan anaknya yang sudah sangat keterlaluan.
"Bu!" tentu saja Max tak terima, ia pergi meninggalkan ruang rapat.
__ADS_1
"Maafkan atas kelancangan anakku. Aku yang salah karena tak bisa mendidiknya." Bu Amelia berusaha mengambil hati dokter Ines dan anak-anaknya.
"Kami sudah mempertimbangkan, kalian tetap bisa tinggal di rumah utama dokter Syahril, kami juga akan memberikan tunjangan bulanan, terutama untuk keperluan Jimmy. Sampai ia lulus kuliah akan ditanggung perusahaan. Nanti pun ia bisa bergabung bersama kakak-kakaknya di rumah sakit." ungkap dokter Ines.