
Bu Amelia dan Carissa meninggalkan ruang rapat karena mereka sudah tak ada hubungan lagi dengan Pratama Grup. Sebelum pergi, dokter Ines memeluk Carissa. ia sebenarnya masih mengizinkan Carissa bekerja di pabrik karena tahu kinerja kerja Carissa bagus, namun kesepakatan tetap kesepakatan yang sudah ditetapkan dan harus dilaksanakan. dimana kubu siapa yang bersalah maka harus bertanggung jawab dengan melepaskan apa yang jadi haknya.
Sampai di dalam mobilnya, Carissa dan ibunya disambut oleh Max. Rupanya anak itu tak benar -benar pergi. Sebab masih banyak hal yang dirasa belum adil.
"Kau mengkhianati aku, Carissa!" kata Max.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya ku lakukan. Lagipula kau yang curang, Max. Kau tak tahu malu. Ayah memberikan kehidupan yang jauh lebih baik untuk kita tapi ini balasanmu. Memalukan. Aku sungguh -sungguh malu punya saudara seibu seayah seperti kamu!" Carissa membalas abangnya.
"Sudahlah, berhenti bertengkar. Setidaknya mereka masih membiarkan kita tinggal di rumah utama. Juga ada tunjangan yang entah berapa nominalnya tapi aku yakin Ines tak akan pelit, cukuplah untuk kita hidup sederhana dan kalian berdua harus mulai mencari pekerjaan baru. Ohh aku benar-benar tak menyangka, setelah berjuang segini jauh, sulungku ini tetap saja tak berubah, menghancurkan semuanya. Kau benar-benar seperti ayahmu, Max!" kata Bu Amelia. "Sekarang katakan pada ibu, dimana kau simpan uang yang kau selundupkan itu?" ia menengadahkan tangannya pada putranya yang duduk di bangku belakang.
"Uang apa?" tanya Max.
"Jangan pura-pura tak mengerti, kau sudah tertangkap basah anak muda. Jadi katakan dimana uang hasil korupsinya?" tanya Bu Amelia lagi.
"Habis!" jawab Max dengan santai.
"Apa?" kata Bu Amelia dan Carissa bersamaan.
"Kamu sedang tak bercanda, kan, bang? Aku benar-benar takjub dengan apa yang kamu perbuat, bang. Kamu menghabiskannya? Oh Tuhan. Ibu dengarkan. Uang sebanyak itu ...." Carissa melongo. Ia tahu berapa banyak uang yang diselundupkan Max, itu nominal yang tak sedikit. Hidup mewah pun sebenarnya bisa untuk tiga keturunan.
"Max?" Bu Amelia ikut geram.
"Aku bermain judi dan uangnya kalah semuanya!" ungkap Mas.
__ADS_1
"Oh Max!" Bu Amelia geleng-geleng kepala. Ia lupa betapa anaknya begitu suka menghabiskan uang di meja judi dengan harapan bisa kaya padahal itu hanyalah omong kosong. Mana bisa kaya dengan cara instan seperti itu. Yang ada kamu ditipu oleh bandarnya! "Ughhh, kamu Max, aku sudah susah payah dan kamu kembali membuatku jadi gembel seperti dulu. Benar-benar mental u seperti ayahmu. Kalian sebelas dua belas!" Bu Amelia hendak memukul anaknya, tapi juga ia menyadari itu hanya sia-sia saja sebab anaknya sebebal itu.
"Sekarang bagaimana, Bu?" tanya Carissa.
"Ya mau apa lagi. Kita hanya bisa berharap dari tunjangan untuk Jimmy. Bersiap hidup sederhana. Kalian juga harus mencari pekerjaan sebab aku sudah menyerah, aku lelah harus kembali bekerja dan mencari hati direktur. Kalian lihat, kan, aku sudah tua, sudah tak cantik lagi. Tak ada yang menarik dariku!" tegas Bu Amelia. Lalu ia memerintahkan putrinya untuk mengemudi mobil menuju rumah suaminya.
***
Sam, ibu dan adiknya kembali mengatur semua pembangunan rumah sakit dan pabrik. Untuk pabrik, karena Carissa sudah tak memegangnya, makanya mereka mencari bantuan dari luar. Orang yang berkompeten.
"Kenapa tak mengajak Carissa saja?" tanya Yoga, yang diikuti lirikan Sam sehingga membuatnya salah tingkah, khawatir abangnya membahas ulang hingga ibunya jadi tahu.
"Tidak mau. Aku tak mau memberi peluang kedua pada orang yang melakukan kecurangan." jawab Sam.
"Ya, ibu setuju meski ibu suka dengan kerja Carissa." sambung dokter Ines.
"Mereka sepaket, Ga. Kamu memberi Carissa kesempatan kembali, maka dua atau tiga bula.ln kemudian ibunya akan memasukkan kembali Max ke perusahaan. Aku tahu betul bagaimana Amelia. Ia adalah asistenku sebelum menjadi asisten ayah kalian!" tegas dokter Ines hingga tak ada lagi yang berani bicara.
Setelah rapat intern selesai, Sam buru-buru pergi. Ia menuju makam Rissa. Meski ia menolak untuk menerima bahwa yang dimakamkan itu adalah istrinya namun ia tetap saja menuju tempat itu.
"Eka?" Sam agak kaget mendapati Eka berada di jalan setapak yang sama menuju makam Rissa.
"Dokter?" kata Eka. "Dokter mau ke tempat Rissa juga?"
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan menuju makam Rissa. Di sana akhirnya tangis Eka pecah. Ia mengaku tak sanggup lagi menanggung beban ini. Tiap malam ia dimimpikan Rissa yang memintanya untuk menggantikan posisi menikah dengan dokter Sam.
"Aku akan kembali ke kampung orang tuaku agar tak lagi dihantui janji pada Rissa." kata Eka.
"Ya." jawab Dokter Sam.
"Dok, apakah anda benar-benar tak mau mengabulkan pinta Rissa?" Eka kembali menanyakan.
"Saya tak bisa mencintai perempuan lain selain istri saya." jawab Sam.
"Baiklah, menikah saja tanpa cinta. Anggap untuk melunasi janji saja. Setelah tiga tahun kita bisa bercerai." pinta Eka
"Tidak bisa."
"Dok ... kenapa anda setega itu pada saya dan Rissa?"
"Justru karena saya menghormati istri saya "
"Lalu seumur hidup anda akan menghabiskan waktu dengan kenangan Rissa. Membebaninya di alam sana padahal Rissa ingin anda memulai hidup baru. Istri mana yang bisa tenang kalau ia menjadi penderitaan suaminya!"
Dokter Sam tak menjawab, menatap nisan Rissa. Entah kenapa ia sama sekali tak tersentuh dengan pernikahan yang ditawarkan Eka. Baginya, hidup seperti ini sudah cukup. Ia hanya mencintai Rissa, selamanya akan begitu.
"Aku tau ini tak mudah bagi anda, tapi perlu anda ketahui, aku dan Rissa seperti saudara. Suatu hari Rissa pernah berkata padaku, apa yang ia miliki bisa jadi milikku. Anda tahu, kita pernah berjumpa di Amerika, waktu saya mengikuti pertukaran pelajar, saya benar -benar berharap Rissa bisa mendapatkan jodoh seperti anda. Lelaki yang baik, berpendidikan dan tentunya kaya raya. Agar bisa mengobati lukanya atas cinta yang tak indah bersama Fian, dan Tuhan mengabulkan doa saya, namun sayangnya jodoh kalian amat singkat dan Rissa ingin melihat anda bahagia. Ia mempercayakan anda pada saya sebab ia sangat menyayangi kita " kata Eka dengan berurai air mata.
__ADS_1
Kalau kamu memang sebegitu mencintaiku, kenapa tak kau saja yang tinggal di sini, Rissa? Sam meneteskan air matanya. Ini terlalu berat, kamu tak akan bisa mencarikan pengganti dirimu. Aku hanya mencintaimu, Rissa, bukan orang lain!
Sam merutuki takdir hidupnya. Kenapa juga harus Rissa yang pergi. Kenapa Tak ia saja duluan sebab ia yang lebih mencintai Rissa.