Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Lelaki Asing


__ADS_3

Ketika Rissa membuka mata, ia nyaris melompat mendapati seseorang yang tak dikenalnya berdiri tepat di hadapannya, ia merasa yakin laki-laki itu baru saja menyentuh pipinya. Sementara itu, tak ada orang lain di ruangan ini. Suaminya sedang mengurus persiapan keberangkatan mereka besok, harusnya ada Tari di sini, tapi entah kemana sahabatnya itu.


"Si ... si ... siapa anda?" tanya Rissa dengan takut-takut, sambil memegang erat tempat tidurnya.


"Anda tak kenal saya? Oh ya, kemarin terlalu banyak orang. Anda pasti lupa. Kakak ipar, boleh saya panggil seperti itu, kan? Saya Max, saudara tirinya Sam." Kata Max, sambil mengulurkan tangannya, namun Rissa tak menyambut uluran itu sebab ia takut sekaligus bertanya -tanya, saat ia tidur, apa yang sudah dilakukan laki-laki itu tadi? "Maaf kalau saya mengganggu anda Kakak ipar, sebagai saudara, saya belum pernah membesuk anda sebelum ini sebab saya sangat sibuk, makanya baru bisa datang sekarang. Sekali lagi maafkan saya."


"Ya tak apa." jawab Rissa dengan harapan laki-laki itu segera pergi atau Tari segera datang. Entah kemana anak itu, bisa-bisanya ia pergi tanpa pamit. Rissa ingat, Max adalah kakaknya Bu Carissa. Lelaki itu memang tak terlalu tampil saat akad nikahnya dengan Sam.


"Apa saya mengganggu anda?"


"Ya." jawab Rissa secara spontan. "Maaf, maksudnya, bukankah tidak baik dua orang yang bukan mahram berduaan tanpa ada yang menemani. Sebaiknya anda pergi dulu, nanti datang lagi kalau suami saya sudah datang "


"Oh begitu ya. Maaf kalau saya salah, kakak ipar. Kalau begitu saya pergi dulu." Ia menundukkan kepalanya, lalu meninggalkan ruangan itu.


Rissa bernafas lega, akhirnnya ia bisa tenang juga. Apalagi tak lama Tari masuk sambil membawa makanan dan minuman.


"Maaf Ris, aku tadi tidak pamit karena kamu sudah tidur nyenyak. Aku nggak mau menganggu." Kata Tari.

__ADS_1


***


Ini pertama kalinya Rissa melakukan perjalanan jauh, ke tempat yang masih sangat asing baginya dan naik pesawat. Namun karena ditemani suaminya, ia tenang-tenang saja. Entah kenapa, sejak menikah dengan dokter Sam, ia tak lagi memiliki beban pikiran apapun, ia selalu yakin suaminya akan ada untuknya.


"Sedang melamun apa?" Sam memencet hidung istrinya yang lumayan mancung.


"Enggak apa-apa. Hanya merasa bersyukur saja, hidupku itu seperti cerita di novel-novel. Setelah mengalami hal buruk, lalu mendapatkan ganti suami sebaik kamu ... sayang." Kata Rissa, masih malu-malu memanggil Sam sayang. Sebelumnya ia sudah mempertanyakan pada suaminya harus memanggil apa, tak mungkin terus memanggil dokter kan? Kalau mas Sam, rasanya tak enak di dengar, Abang Sam juga tidak cocok, makanya ia mau memanggil sayang saja.


Sepanjang perjalanan, Rissa yang banyak bercerita tentang dirinya. Suaminya hanya mendengar saja. Sesekali tersenyum mendengar celotehan istrinya. Tentang bagaimana nakalnya Rissa diwaktu kecil, sukanya ia menjahili Eka dan bunda Nida serta hukuman-hukuman yang kerap ia terima.


Selama satu jam lima puluh menit Rissa tak berhenti berbicara. Sam sampai geleng-geleng kepala sebab energi istrinya meski sedang sakit seperti tak ada habisnya.


***


Seseorang sudah menunggu. Mereka mengantar Sam dan Rissa menuju apartemen yang letaknya tak jauh terlalu jauh dari rumah sakit Ratu, tempat Rissa akan menjalani pengobatan nantinya. Sampai di sana, Sam meminta Rissa untuk beristirahat, sementara ia akan keluar untuk menemui beberapa profesor yang akan membantu pengobatan nantinya. Mereka memang sudah janjian ketemu di lobby.


"Di kulkas sudah ada makanan dan minuman. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya." Sam mengecup kening istrinya, lalu berlalu meninggalkan kamar apartemennya.

__ADS_1


Laki-laki itu melangkah begitu cepat. Ia seperti berlomba dengan waktu sebab memang semuanya akan begitu cepat. Virus yang ada di kepala Rissa akan bergerak cepat merusak organ lainnya. Sebuah keajaiban perempuan itu bisa bangun tanpa ada yang kurang satu apapun sebab sebelumnya, salah satu yang terkena virus usai pingsan langsung lumpuh sebagian badannya, lalu tak sampai sepekan meninggal dunia.


Profesor Tao Ming adalah dua orang yang diminta profesor Hamis, pamannya untuk mendampingi Sam meneliti sekaligus melakukan pengobatan terhadap Rissa. Mereka cukup alot berdebat saat Profesor Tao meminta agar Rissa melakukan uji coba 103.


Uji coba 103 adalah sebuah ujian dimana Rissa diminta memiliki anak, setelah itu ia harus ditidurkan hingga anaknya besar dan bisa menjadi pencangkok organ untuk Rissa.


"Gila. Ini benar-benar gila. Kenapa kalian orang-orang pintar bisa berpikir seperti itu?" Sam menggelengkan kepalanya. "Aku tak akan membiarkan istriku jadi bahan percobaan siapapun. Dia tak akan jadi mayat hidup dan anak kami tak akan pernah jadi sampel uji coba juga!" Sam menegaskan.


Andai saja masih ada orang lain yang bisa diajak kerjasama, atau setidaknya diskusi maka Sam akan meninggalkan profesor berdarah Tionghoa ini, namun sebelumnya pamannya sudah mengingatkan agar Sam bisa menahan diri, jangan membawa perasaan. Pamannya kenal profesor Tao, ia juga orang yang sangat baik, ia hanya bisa mengajukan opsi sesuai dengan apa yang diketahuinya.


"Maaf Prof, tapi saya tidak bisa." Kata Sam sambil menahan emosi.


"Kalau begitu saya angkat tangan Sam." jawab profesor Tao.


Sam tak bisa menahan perasaannya. Ia terbawa emosi, sudah terbang ke sini dengan begitu besarnya harapan namun para akhirnya mereka angkat tangan sebab virus yang ada di kepala Rissa bukan virus sembarangan. Makanya Sam benar-benar kacau. Ia ingin marah, tapi penyebabnya adalah ayahnya sendiri. Sedih, tak bisa melakukan apapun untuk istri yang sangat dicintainya. Apalagi tadi Rissa mengatakan bahwa ia benar-benar menyandarkan semuanya pada Sam, Rissa sangat mempercayainya. Bagaimana mungkin ia tega mengecewakan perempuan itu.


"Sam, pikirkan baik-baik. Kalau kamu setuju, kita buat duplikat Rissa. Hanya sembilan belas tahun sejak anaknya lahir maka ia bisa disembuhkan." Kata profesor Tao lagi.

__ADS_1


Sam menggeleng. Dengan langkah gemetar ia meninggalkan profesor tersebut. Berjalan gontai tanpa tujuan. Hatinya kalang kabut. Hingga lima belas menit kemudian ibunya menelepon, meminta Sam untuk memikirkan baik-baik. Satu tahunan sejak sekarang sudah lumayan lama bagi Rissa, jangan diperlambat lagi


"Bu, bagaimana aku bisa membuat istriku menjadi mayat hidup. Aku begitu marah saat ayah menjadikannya sebagai kelinci percobaan, lalu sekarang aku harus melakukan hal yang sama. Tak hanya dia, tapi anak kami juga kelak akan dibegitukan. Aku tak bisa Bu." Jawab Sam. Lalu ia menutup teleponnya sebab hatinya sudah teramat galau.


__ADS_2