Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Aku Kaya!


__ADS_3

Sebelum pulang ke kosan, aku menyempatkan diri ke ATM di depan swalayan untuk mengambil sejumlah uang. Awalnya hanya untuk bayar kosan yang sudah nunggak tiga bulan. Tapi melihat nominal yang cukup besar, sepuluh kali gaji, membuatku merasa jadi orang paling kaya di muka bumi ini. Aku sampai tertawa kecil di depan mesin penarikan uang.


Baiklah, akan ku ambil untuk biaya kos satu tahun. Juga untuk belanja. Selama ini aku selalu hidup berhemat, sebab gajiku, tiga perempat untuk mas Fian. Membantu biaya kuliah dan hidup keluarganya. Bahkan di sepuluh hari terakhir sebelum gajian hanya makan nasi putih dan garam saja. Sekarang, ingin juga menikmati hidup. Kita gak pernah tahu, betapa lama usia ini. Kalau benar-benar tidak panjang, setidaknya aku pernah merasakan makan enak. Tiba-tiba, tawa yang tadi mengembang langsung hilang, berganti jadi kesedihan.


"Menyedihkan sekali menjadi aku. Bisa punya uang banyak tapi malah sakit-sakitan. Fiuff." Aku langsung keluar dari ATM, masuk ke swalayan sambil mendorong troli.


Seperti niat di awal, troli itu ku isi sampai penuh. Tak hanya membeli sabun-sabunan, tapi juga membeli cemilan yang sekiranya aku suka, minuman yang tak pernah ku coba sebelumnya, susu, buah-buahan juga daging, ayam dan ikan. Aku membeli semuanya mumpung masih ada uang, meski sekali seumur hidup aku juga ingin merasakan bisa berbelanja sepuas hati tanpa mikir panjang. Setelah selesai berbelanja, aku segera pulang naik becak karena memang bawaanku banyak.


***


"Hai mas Abas!" Aku menyapa dengan akrab anak Bu kos yang sedang duduk santai di teras depan rumahnya. Usai meletakkan barang belanjaan di dalam kosan.


Kosanku memang berhadapan dengan rumah pemiliknya, jadi kalau keluar masuk bisa diawasi oleh pemiliknya. Itulah kenapa setiap awal dan akhir bulan aku sering sekali kena cegat karena Bu Yana dengan mudah bisa mengawasinya. Namun, meski begitu Bu Yana tergolong ibu kos yang sangat baik, terkhusus kepadaku. Meski ia tergolong cerewet namun sangat pengertian. Bu Yana palingan marah-marah sebab ia tahu uangku dipakai mas Fian, kalau habis untuk kepentingan sendiri, ia biasanya memaklumi. Hanya mengingatian agar bulan depan tidak telat lagi.


Bu Yana memang seperti orang tua pengganti bagi kami anak-anak kosnya. Aku sering diingatkan untuk tidak terlalu bucin hingga mau saja memberikan uangku padanya. Juga harus pintar jaga diri. Jangan mau ngapa-ngapain sebelum sah dalam ikatan pernikahan. Tentu saja nasihat itu sangat berarti mengingat aku yang tak punya orang tua


"Rissa? Duh, sana-sana. Cepetan sana masuk!" pemuda berusia dua puluh empat tahun itu mengusirku dengan isyarat tangan sambil melirik ke dalam rumahnya, khawatir kalau-kalau ibunya melihat keberadaanku. Ia takut kalau-kalau aku kena tagih lagi. Mas Abas mengira aku tak punya uang seperti biasa.


Sebagai anak yang suka membantu ibunya mengurus kosan, mas Abas memang tahu kalau aku nunggak bayar kosan selama tiga bulan. Sebenarnya ia beberapa kali menawarkan pinjaman padaku agar terlepas dari ibunya, tapi aku tak mau menerima sebab merasa sama saja. Hutang pada Bu Yana ataupun mas Abas sebab mereka satu keluarga. Uang mas Abas adalah uang ibunya karena mas Abas belum dapat pekerjaan, ia masih minta uang saku pada Bu Yana.

__ADS_1


"Mas ... ibu ada?" tanyaku, sambil mendekat.


"Ada, makanya sana cepetan pergi, Ris!" ia masih berusaha mengusirku.


"Tapi aku ...." omonganku terpotong.


"Bas, siapa itu?" suara Bu Yana dari dalam rumahnya.


"Duhhh tuh kan, ibu datang. Sana pergi!" ia masih berusaha mengusir meski ternyata keduluan ibunya datang. Tampak betul raut wajah geregetannya mas Anas.


Apa yang ditakutkan mas Abas akhirnya terjadi, ibunya keluar dan mendapati aku di sana. Rasa-rasanya ia tak tega jika ibunya menagih lagi. Tapi kini ia tak bisa membantu banyak sebab aku juga selalu menolak bantuannya. Disuruh pergi cepat-cepat malah makin mendekat.


"Hah?" Mas Abbas tercengang.


"Nah, akhirnya dilunasi juga. Kamu baru dapat rezeki banyak Ris?, Katanya kemarin mau bayar bulan depan."" tanya Bu Yana.


"Alhamdulillah Bu, kompensasi cuti." jawabku, usai membayar lunas tunggakannya selama tiga bulan serta kosan untuk satu tahun ke depan. Bu Yana dan mas Abas sampai kaget, ngerasa ini seperti mimpi. Aku yang biasanya rajin nunggak tiba-tiba membayar lunas untuk jangka waktu panjang. Satu tahun!


"Kamu mau cuti?" tanya Bu Yana lagi. "Oh ya, kemarin Tari cerita, katanya kamu sakit? Lalu sekarang bagaimana Ris?"

__ADS_1


"Alhamdulillah sekarang lagi jalan pengobatan Bu, makanya perusahaan memberikan saya izin cuti untuk berobat. Saya juga dapat uang kompensasi untuk cuti." Aku menjelaskan secara singkat.


"Cuti dapat kompensasi juga ya Ris?" Bu Yana kebingungan. "Ya sudah deh, semoga cepat sembuh Ris. Satu lagi, jangan boros. Uangnya ditabung, jangan dikasih ke cowok lagi. Keenakan tuh si Fian!" celoteh Bu Yana.


"Iya Bu, enggak bakalan Saya sudah putus Bu." jawabku.


"Putus?" Bu Yana dan mas Abbas saling pandang. "Benar Ris kamu sudah putus?"


"Ya Bu." jawabku lagi.


"Kenapa? Eh maaf lho ya, ibu bukannya kepo, tapi kan setahu ibu kalian mau nikah, kok putus? Ada masalah apa tho?" Bu Yana mulai menyelidiki.


"Karena saya sakit, bu." jawabku, berusaha bersikap biasa meski sebenarnya perih. Bagaimana nggak perih, sudah lima tahun, tapi sekarang semuanya sia-sia saja. padahal sebelumnya sudah sepakat akan menikah


"Kurang ajar itu laki-laki. Apa nggak punya perasaan, giliran Rissa sehat-sehat dia mau, setelah sakit malah diputusin. Padahal dia juga nggak ada bagus-bagusnya. Cuma bisanya morotin Rissa saja!" Bu Yana ngomel. "Kamu sih Ris, sudah tahu laki-laki ngga punya masa depan kayak gitu masih juga mau. Kamu itu cantik, Ris. Pekerja keras juga. Baik lagi. Pasti banyak yang mau sama kamu. Ibu saja mau jadi mertua kamu, Ris!" celetuk Bu Yana, membuat mas Abas jadi salah tingkah.


Aku nyengir, tak tahu harus menjawab apa. Tapi setidaknya hati ini lega sebab masalah keuangan aman meskipun ia tak bekerja selama masa penyembuhan.


Pembicaraan mereka terhenti, seorang remaja memakai seragam putih abu-abu berdiri di hadapan mereka. Ia adalah Juan, datang untuk berbicara denganku.

__ADS_1


"Baik-baik ya Ris, kemarin abangnya, sekarang adeknya yang datang ke sini. Semoga aja nggak untuk morotin kamu lagi. Sepertinya mereka sudah mencium kamu lagi berduit Ris, makanya pada datang!" Sindir Bu Yana, sebelum aku dan Juan berlalu ke teras kosan untuk bicara.


__ADS_2