Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Ibu Kepala Dan Sam


__ADS_3

"Dokter, bisa kita bicara sebentar?" kata ibu kepala pada dokter Sam saat lelaki itu tengah berdiri sendiri sementara tamu yang lain asyik ngobrol bersama. Eka yang memperhatikan dari jauh dan ingin menghampiri Sam terlihat kaget saat ibu kepala menghampiri tunangannya. Ia semakin tak karuan saat mereka berdua masuk ke ruangan ibu kepala.


"Apa yang mau dibicarakan ibu kepala?" Eka mencoba menebak. Ia lalu pamit pada teman yang sedang berbincang dengannya, menyusul menuju ruang ibu kepala, sayangnya ruangan itu dikunci. Kalau ia memaksa masuk pasti semua perhatian akan tertuju padanya. Keluarga Sam bisa ilfill dengan sikapnya, makanya Eka menunggu dengan hati was-was. "Tolong jangan terlalu tega padaku ibu kepala. Aku hanya anak yatim piatu yang tak pernah merasa bahagia. Aku hanya ingin merasakan punya keluarga utuh." Eka hampir menangis.


***


"Dokter sudah yakin akan menikah dengan Eka?" Tanya ibu kepala. "Saya tak bermaksud apa-apa. Itu hak dokter, tapi, Rissa baru pergi tiga bulan. Rasanya masih seperti mimpi untuk kami." Kata ibu kepala sambil terisak.


"Ya Bu, tapi Rissa yang berpesan seperti itu." Kata dokter Sam.


"Rissa pergi sendiri, kita tak ada yang tahu bagaimana pedihnya ia saat itu. Dalam keadaan sakit, berada di dalam kamar yang terbakar. Mohon jangan cepat melupakannya meski ia tak punya keluarga tapi bagi saya ia sudah seperti anak sendiri."


"Pergi sendiri?" Dokter Sam mengerutkan keningnya, sayangnya pembicaraan mereka terputus ketika terdengar suara teriakan dari luar. Ibu kepala dan dokter Sam segera berlari keluar menuju halaman belakang dimana di sana Eka sudah basah kuyup karena tercebur dalam kolam ikan.


"Eka, kenapa?" Tanya ibu kepala sambil mendekat.


"Ia tercebur ke kolam, Bu." Kata yang menolong Eka.


"Ibu ...." Eka menangis. "Ibu ingat, kan, tempat itu, dimana Rissa suka memanjat pohon jambu itu. Hari ini hari bahagia kami berdua karena akhirnya saya akan mewujudkan harapan terakhir Rissa, saya ingin menceritakan semuanya pada Rissa, tapi seperti biasa, saat kami bermain di sini saya selalu tergelincir dan kali ini tak ada Rissa yang menolong saya. Setelah ia pergi saya akan selalu sendiri dan tak akan ada yang menolong saya." Eka terisak.


"Eka kamu bicara apa?" Bunda pengasuh memeluk Eka. "Ada kami yang juga menyayangi kamu, Ka!" Mereka menegaskan.


"Nggak, nggak akan sama seperti Rissa menyayangi aku." Ia masih menangis.

__ADS_1


"Aku yang akan menggantikan tugas Rissa, Ka. Aku yang akan menjaga kamu seperti janji Rissa." Ucap dokter Sam sehingga membuat Eka berteriak dalam hatinya.


Akhirnya ia berhasil membuat dokter Sam masuk dalam jebakannya. Lelaki itu sudah benar-benar iba padanya dan sampai kapanpun ia akan menggunakan senjata itu untuk mengikat dokter Sam jika lelaki itu mulai mengendurkan ikatannya. Eka ingin menertawai ibu kepala yang ia yakini ingin mempengaruhi dokter Sa. Sayangnya usaha ibu kepala gagal sebab Sam sekarang adalah miliknya.


***


"Penuh drama sekali hidupmu!" Seorang perempuan cantik berdiri di belakang Eka. Ia adalah Carissa yang sejak awal juga memperhatikan Eka tanpa disadari gadis itu. Carissa juga melihat sendiri bagaimana Eka menyeburkan dirinya sendiri ke dalam kolam.


Eka yang baru berganti pakaian dan baru keluar dari kamarnya kaget dengan keberadaan Carissa. Ia tak paham apa yang dikatakan Carissa. "Mbak ini saudaranya dokter Sam juga, kan?"


"Ya, aku adik iparnya Rissa " kata Carissa.


Senyum Eka pudar. Ia sekarang tahu bahwa perempuan di hadapannya adalah musuh. Sebenarnya Eka sudah tahu bahwa Carissa adalah saudara tiri dokter Sam, hanya saja ia tak tahu bagaimana hubungan Sam dengan Carissa


"Rissa sudah tak ada." Kata Eka.


"Saya menghargai anda sebagai saudara calon suami saya, jadi tolong hargai saya juga sebab nanti kita akan jadi keluarga. Ayo jadi keluarga yang akrab saja!" Tawar Eka.


"Aku tidak mau." jawab Carissa. "Aku tidak suka pada perempuan yang banyak gaya seperti kamu, yang demi menarik perhatian orang-orang sampai sengaja menceburkan dirinya sendiri ke kolam. Aneh sekali!"


"Kamu bicara apa?" Eka mulai panik, sayangnya Carissa menolak bicara panjang dengan Eka, ia memilih melambaikan tangan dan meninggalkan Eka.


Sikap Carissa membuat Eka ketar-ketir. Ia tak menyangka ada orang yang melihat perbuatannya dan orang itu keluarga Sam sendiri. Kalau ia bercerita pasti akan didengar oleh Sam. Makanya Eka khawatir dan langsung mengejar Carissa. Namun gadis itu menolak bicara dengan Eka.

__ADS_1


"Biar saja Sam tahu nanti dan memutuskan apa akan lanjut atau tidak sebab jika dibandingkan Rissa, kau tak ada apa-apanya!" Carissa mengejek Eka.


Kenapa, kenapa begitu susah untuk bersatu dengan dokter Sam, ada saja orang orang yang mencoba menghalangi. Eka benar-benar kesal sekaligus takut tapi ia tak tahu bagaimana cara membungkam mulut gadis itu. Eka menyesal dengan kecerobohannya.


Kenapa Rissa selalu bisa mengalahkan dirinya. Bahkan setelah tiada pun ia masih juga kalah. Eka terus menggerutu.


***


"Kapan kamu akan menikahinya, Sam?" Tanya Dokter Ines. Saat mereka sedang sarapan.


"Entahlah, Bu." Jawab Sam. Ia memang belum punya rencana untuk menikahi Eka. Ia bertunangan hanya untuk membuat Eka tenang dan tak terus dihinggapi rasa bersalah pada Rissa. Eka yang terus mengejar-ngejar dirinya membuat Sam tidak nyaman.


"Jangan lama-lama, Sam. Kamu sendiri kan lebih tahu agama ketimbang ibu. Kalau sudah dilamar ya disegerakan. Lagipula apalagi yang harus ditunggu, Sam. Ibu juga pengen kamu memulai hidup baru agar hati ibu tenang kalau kamu tak lagi sedih kehilangan Rissa."


"Bu, sampai kapanpun Rissa tak akan terganti." Sam menegaskan. Lalu ia berlalu meninggalkan rumah untuk mengecek pembangunan rumah sakit.


Apakah ini pilihan yang benar? Sam tak tahu. Ia masih terus melamun hingga tak sadar kedatangan Tari. Ternyata Sahabat istrinya itu ingin mengabari pernikahan diienya yang sempat tertunda. Tari juga sudah tahu informasi tentang pertunangan Sam dan Eka. Ia tak menyangka suami sahabatnya itu berpaling secepat itu mengingat selama ini Sam sangat mencintai Rissa. Tapi sebagai orang asing, Tari tak bisa melarang karena itu haknya Sam dan Eka. Lagipula meski berat ia pun harus menyadari bahwa sahabatnya telah pergi


"Maaf Tar, tapi sepertinya saya tak bisa hadir." Kata dokter Sam.


"Tak mengapa, dok. Saya paham. Saya hanya menghargai dokter sebagai suami ... Rissa, sahabat saya meski dokter akan menikahi Eka yang sudah seperti saudara bagi Rissa." Tari memperlihatkan kekecewaannya. "Semoga kalian bahagia juga meski sebenarnya saya belum rela."


"Tar,"

__ADS_1


"Saya pamit dok!" Tari segera berlalu menuju mobil mas Abas yang menunggu di parkiran. Sepanjang jalan pulang Tari menangis. Ia kesal, kenapa akhirnya seperti ini. Ia memang tak ada hak melarang dokter SMA, tapi kenapa harus dengan Eka dan secepat itu?


"Rissa ... Rissa, harusnya kamu tak pergi secepat itu!" Tari terus mengomel, ia bahkan mengabaikan calon suaminya.


__ADS_2