
Acara makan kami terhenti ketika tak sengaja Tari melihat mas Fian. Ya, laki-laki itu tengah berjalan bersama seorang perempuan dengan penampilan sangat menor. Memakai rok pendek dan baju ketat, makeup cukup tebal.
Apa itu kekasihnya? Aku sampai tak bisa berkata apa-apa karena kaget, ternyata benar, secepat itu ia melupakan aku. Meski antara kami sudah tak ada apa-apa, tapi aku gak bisa memungkiri perasaanku saat ini campur aduk. Cemburu dan sakit hati. Lima tahun kami menjalin kasih, kalau saja tak ada musibah ini mungkin tahun depan kami sudah menikah. Tapi Tuhan berkehendak lain.
"Hai siapa yang ada di sini? Rupanya kalian!" Tiba-tiba seseorang muncul dari belakang kami. Mayang, ia adik perempuan mas Fian, dua tahun lebih tua dariku. Seolah ingin membuatku semakin terluka, ia memanggil mas Fian dan teman perempuannya agar mendekat pada kami. Sia-sia tadi aku menghindar. "Lihat ini mas, ada Rissa dan temannya. Kebetulan sekali ya, akhirnya kita ketemu lagi disini. Kenalin, ini Sonya, pacar barunya mas Fian." Kata Mayang.
"Hus, jangan sembarang ngomong," mas Fian berusaha menghentikan adiknya, tapi Mayang sepertinya malah tertantang untuk bicara lebih banyak lagi.
"Oh ya Ris, kata mas Fian kamu lagi sakit ya? Parah ya? Sakit apa? Kanker? Wow, biasanya yang sakit kanker itu umurnya nggak lama lho, jangan-jangan ini kalian lagi ngadain pesta perpisahan ya soalnya aku tahu banget kalian berdua kan enggak pernah Bersenang-senang, hidupnya cuma untuk kerja kerja dan kerja!" Mayang tertawa cekikikan.
"Heh adiknya parasit, bisa nggak jaga mulut kamu? Jangan sampai nanti kamu kena getahnya, diuji Tuhan berkali lipat dari ujian Rissa. Lagian siapa juga yang peduli dengan kalian, juga pacar barunya di parasit ini. Siapa tadi namanya? Tante Sonya ya?" Tari beralih ke pacar barunya mas Fian.
"Tante? Nggak sopan banget, usia kita cuma beda dua tahun!" kata perempuan bernama Sonya.
"Hah beda dua tahun? Tapi kok dempulnya tebal banget? Sudah kayak tante-tante beda dua puluh tahun," Tari cekikikan lagi
"Kamu itu benar-benar nggak sopan ya Tar!" Mayang Tampak marah.
"Ngadepin orang nggak sopan seperti kalian nggak perlu sopan santun juga. Lagian ya mbak Sonya, emangnya sudah siap diporotin sama si parasit ini dan keluarganya? Ingat ya mbak, kalau nanti mbak nggak sanggup ngempanin mereka sekeluarga, bisa-bisa mbak ditendang sama keluarganya!" Kata Tari lagi sambil tertawa mengejek. "Maaf ya mbak, satu lagi, si parasit benar-benar turun grade banget yak, masak dari Rissa dapatnya spek tante-tante!"
"Heh baik-baik ya kalau kamu ngomong!" Tak hanya Mayang, tapi mbak Sonya juga ikutan marah. Aku dan mas Fian terpaksa memisahkan mereka agar tak terjadi pertengkaran. "Awas kamu nanti, akan aku balas kamu!" Ancam Mayang.
__ADS_1
"Balas saja kalau kalian bisa!" Tantang Tari. "Kalau berani hadapi aku, bukan Rissa!"
"Bilang saja kamu cemburu karena sekarang mas Fian sudah dapat pengganti si Rissa!" Mayang berusaha membalas.
"Apanya yang mau dicemburui, lha kekasihnya Rissa saja jauh lebih oke. Nak langit dan bumi kalau sama siparasit!" kata Tari dengan penuh percaya diri. Kali ini aku yang melotot, bisa-bisanya ia mengarang cerita. lagian untuk apa juga membuat cerita seperti itu, yang ada malah jadi senjata makan tuan.
"Kekasih? memang benar Ris kamu sudah punya pacar?" Kini mas Fian yang terlihat tak terima. "Secepat itu? Paling ini bohong, kan? Kamu kan cinta mati sama aku!" tegasnya.
"Kata siapa? Wong hari itu juga Rissa langsung dapat pengganti yang jauh lebih baik dari kamu. Lagian dengar ya, kalian sendiri bisa lihat kan bagaimana Rissa. Cantik, baik, rajin bekerja, nggak parasit seperti kalian. Ya pasti gampang lah menemukan pengganti yang levelnya jauh di atas kamu. Beruntung akhirnya kalian putus sebab akhirnya dia dapat lelaki yang terbaik!" Celoteh Tari. Yang membuat aku semakin pusing.
"Pembohong!" Tuduh Mayang.
"Kalau nggak percaya ya sudah. Bilang saja kalian sakit hati, kan? Rissa ngebuang batu Kali dapat penggantinya berlian, eh si parasit ngebuang berlian dapatnya ...." Tari sengaja tertawa sambil menutup mulutnya.
"Buktik!" Tantang Mayang.
"Apanya yang harus dibuktikan? Lagian kalian siap? Awas lho, ntar malah insecure." Tari mengejek.
"Sudah Tar," aku menjawil Tari agar tak berlanjut karena melihat sinar mata Mayang dan mbak Sonya sudah penuh dengan kemarahan. Kalau dilanjutkan aku sangat yakin akan ada adegan adu fisik dan aku paling nggak suka itu. "Sudah, mas, tolong bawa adik dan pacarmu!" kataku.
"Hah, oh iya. Tapi Ris, benar kamu sudah punya pacar?" tanya mas Fian dengan polosnya.
__ADS_1
"Itu bukan urusan kamu!" aku menegaskan.
"Halah, bilang saja bohong!" Mayang masih mengejek.
"Memang bukan pacar, tapi calon suami!" aku menegaskan lagi.
"Kok begitu sih Ris?" mas Fian tampak tak terima. Melihat sikapnya yang cemburu padaku, memancing cemburu mbak Sonya. Hingga giliran mereka yang ribut.
Tiga orang itu akhirnya pergi juga setelah menjadi bulan-bulanan Tari. Tetapi aku tak suka dengan cara sahabatku memperlakukan mbak Sonya. Terserah jika sekarang ia adalah kekasih mas Fian, tapi tak perlu juga ada body shamming, sampai mengatakan mbak Sonya seperti tante-tante meski dandanannya sangatlah berlebihan.
"Sekarang bagaimana, aku pun sudah terlanjur ikut berbohong!" kataku dengan rasa menyesal.
"Ya mau bagaimana lagi, sudah terlanjur. Kadang kita harus melakukan sesuatu hal untuk melindungi harga diri kita." kata Tari.
"Tapi nggak pakai acara bohong juga."
"Ya sudah terlanjur, Ris. Tapi Kamu tenang saja, cepat atau lambat kamu akan menemukan orang yang tepat. aku yakin itu."
"Dengan kondisi seperti ini bagaimana mungkin Tari. Yang ada malah giliran aku yang jadi bahan bully mereka."
"Rissa, kamu itu cantik, aku sangat yakin banyak yang mau sama kamu. Jadi jangan patah semangat seperti itu!" Tari mengepalkan tangannya memberi isyarat agar aku terus bersemangat. Maunya sih begitu, tapi tak bisa dipungkiri akupun merasa insecure dengan kondisi sekarang ini. Secantik apapun, tetap saja tak ada laki -laki yang menginginkan pasangan penyakitan seperti aku. Yang ada sama saja mereka menyusahkan diri sendiri karena harus merawatku. "Aku yakin kok kamu akan menemukan jodoh yang baik!" kata Tari lagi.
__ADS_1
Entahlah, apa aku harus percaya dengan apa yang dikatakan Tari atau tidak, yang jelas saat ini aku merasa tak istimewa sedikitpun. Mungkin selamanya akan seperti ini. Sendiri.