
Eka tak bisa berkata-kata, pada akhirnya apa yang ia takutkan terjadi. Sam telah menemukan Rissa. Lalu apakah tak ada lagi harapan untuknya.
Matanya nanar melihat dokter Sam dengan sigap memberikan bantuan pada Rissa. Setelah selesai emergency pun Sam masih berada di sisinya. Menggenggam erat tangan Rissa. Sungguh suatu hal yang sangat ingin didapatkan Eka. Cinta dan kasih sayang tulus dari lelaki yang ia cintai, namun ternyata ia kalah oleh Rissa. Sama seperti sebelum-sebelumnya.
Kini, tirai itu tertutup. Hanya ada Sam dan Rissa di sana. Dokter Ines ikut keluar sambil membawa perempuan yang menemani Rissa. Sepertinya ia masih ingin mengintrogasi bibi Erna.
Kini, Eka bermain dengan pikirannya. Ia merasa tak dihargai sebagai seorang perempuan. Bagaimanapun ia adalah tunangan Sam, tapi lelaki itu seolah tak memperdulikan dirinya.
"Benar-benar mengagetkan, Rissa ada di ruangan yang sama dengan kita tapi kita tak menyadari!" kata bunda Mila yang sejak awal diam mematung karena kaget membuat Eka terperangah. "Ini kejutan yang tak disangka-sangka, tapi begitulah yang namanya jodoh. Orang yang kita kira sudah tak ada ternyata masih hidup dan Tuhan mempertemukan kembali. Rissa disini!" bunda Mila masih takjub dengan takdir Tuhan.
"Tidak usah diulangi, aku juga bisa lihat sendiri!" jawab Eka yang kesal.
"Wahhh jadi nggak sabar untuk mengabari ibu kepala dan bunda-bunda yang lain. Semua orang pasti bahagia mendengar berita ini!" kata bunda Mila.
"Berlebihan!" Eka memalingkan wajahnya dari bunda Mila, melihat tajam ke arah tirai yang memisahkan dirinya dan Rissa. Sedang apa mereka berdua di sana? Apa yang mereka lakukan? Kenapa tak terdengar suara apapun. Hatinya benar-benar dibakar cemburu buta. Ingin sekali ia menerjang menyibak tirai itu, tapi Eka sadar, sikapnya itu hanya akan membuat dirinya semakin jauh dari Sam.
Sekarang yang harus dilakukan adalah berpikir cepat agar nanti saat Rissa bangun, tak membuka semua kebohongannya.
***
Sam menggenggam erat tangan Rissa seolah ingin mengatakan bahwa ia tak akan pernah meninggalkan perempuan itu. Ia menangis haru sebab ternyata feelingnya benar bahwa Rissa masih hidup.
"Istriku, maafkan aku. Hal buruk apa yang menimpamu hingga seperti ini. Kamu pasti sangat menderita sekali selama tiga bulan Lebih." Sam mengusap pelan kepala Rissa, lalu mengecup keningnya. "Aku janji, tak akan membiarkan kamu sendirian lagi. Aku akan selalu berada di sisi kamu."
__ADS_1
***
Dokter Ines terkejut mendengar semua cerita bibi Erna. Ditambah keterangan dokter yang menyatakan bahwa Rissa tengah mengandung.
Bibi Erna juga menceritakan secara jujur apa yang telah terjadi, termasuk luka bakar di pipi Rissa.
"Kami tak bermaksud jahat pada Rissa. Keponakan saya memang marah pada dokter Syahril, tapi kami tengah berusaha melakukan yang terbaik untuknya. Makanya Dasril terbang ke Malaysia menemui ayah angkatnya untuk menemukan formula tersebut. Sebuah obat yang diyakini bisa menyembuhkan Rissa." jawab bibi Erna.
"Baiklah, saya akan diskusikan semuanya dengan anak saya dulu. Tapi walau kalian sudah membantu Rissa, tetap saja kalian sudah melakukan penculikan." ungkap dokter Ines. "Lain kali jangan pernah melakukan hal tersebut lagi. Dan saya menunggu keponakan anda. Kalau ia mau menyelesaikan ini sampai tuntas maka saya akan memaafkan semua perbuatannya!" kata dokter Ines. "Tapi kalau ia coba-coba kabur maka kami akan proses hukum."
Dokter Ines sudah merencanakan akan membawa Rissa ke rumah sakit yang lebih besar. Rencananya besok pagi akan dipindahkan, mengingat kondisinya belum stabil. Harus dalam pantauan dokter usai tindakan emergency tadi.
***
"Kau akan punya anak, nak. Rissa tengah mengandung anakmu." kata dokter Ines.
"Ya Tuhan, seberat itu ujian hidupnya dan aku membiarkan ia melewati semuanya sendiri!" Sam kembali meneteskan air mata. "Aku berhutang banyak padanya. Aku harus membayar semuanya. Aku tak akan pernah meninggalkan dirinya lagi " ungkap Sam.
***
Malam ini, dalam satu ruangan yang sama. Sam ditemani Rissa. Eka sendiri sebab bunda Mila izin pulang sebentar.
Sejak tahu ada Rissa di sini, semua orang seolah mengabaikan Eka. Bahkan ketika ibu kepala panti datang, yang disamperin adalah Rissa, Eka sendiri diabaikan. Makanya ia merasa begitu tak berharga
__ADS_1
Aku harus melakukan sesuatu! Eka terus memikirkan cara agar dirinya tak diabaikan. Ia berusaha bangkit, meski sebenarnya kepalanya masih pusing. Benturan di aspal memang membuatnya sering merasa pusing tiba-tiba.
Kini, ia berada di depan tirai. Menyibakkan perlahan sehingga tampaklah Dokter Sam tengah memegang erat tangan Rissa. Tatapan dokter Sam tak pernah beralih dari istrinya. Eka tersenyum miris, menertawai dirinya sendiri. Betapa malangnya ia yang selalu bermimpi suatu saat bisa mengalahkan Rissa meski hanya sekali. Tapi tetap saja, ia kalah!
"Dok," panggil Eka, usai menguatkan dirinya sendiri. "Dokter belum makan sejak siang. Apa tidak sebaiknya dokter makan dulu " kata Eka.
"Saya belum lapar." kata dokter Sam.
"Tapi sebaiknya dokter makan. Kalau dokter sakit, siapa yang akan menjaga Rissa. Bukankah sekarang Rissa sudah ditemukan. Itu artinya tugas dokter untuk menjaga Rissa!" ungkap Eka. "Sebaiknya dokter makan di kantin, saya bisa temani Rissa sebentar." kata Eka lagi.
Awalnya Dokter Sam menolak. Namun ia tak memungkiri kalau perutnya teramat lapar. Awalnya ia tak menyadari, namun setelah diingatkan Eka barulah rasa lapar itu terasa.
"Bagaimana?" tanya Eka. "Mumpung Rissa belum bangun. Kalau dia sudah bangun, dokter tak perlu meninggalkan dia lagi " kata Eka
Dokter Sam setuju, ia lalu pergi menuju kantin rumah sakit.
"Ya ... anda memang tak akan pernah meninggalkan Rissa, dok. Sebab Rissa lah yang akan meninggalkan anda!" ungkap Eka sambil tersenyum sinis menatap Rissa yang masih terbaring.
Perlahan, Eka mendekati ranjang Rissa sambil menarik tiang infus. Entah setan apa yang menghinggapi hatinya, namun Eka benar-benar dipenuhi perasaan benci yang teramat besar pada Rissa.
"Kamu ... selalu saja kamu Ris. Sudah bagus kamu tak kembali, malah ke sini lagi. Gara-gara kamu, aku seperti ini. Aku jadi jahat karena ulah kamu yang selalu mengambil apa yang aku mau Rissa. Kalau aku tak bisa mendapatkan dokter Sam, kamu juga tak boleh!" ungkap Eka. Ia menarik kasar bantal yang dipakai Rissa hingga kepala Rissa terlempar ke atas kasur.
Bantal itu berada di atas kepala Rissa, begitu Eka hendak menutup wajah Rissa dengan bantal, kedua mata Rissa terbuka.
__ADS_1