Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Apalagi Sih Mayang?


__ADS_3

Aku dan Tari masih sibuk bercerita membahas dokter Sam dan keluarganya. Tiba-tiba datang seseorang yang membuat kami secara serentak terdiam. Bukan Dokter Apalagi perawat, melainkan Mayang, adiknya mas Fian. Entah untuk apa ia ke sini.


"Rissa, maaf ya aku baru bisa datang sekarang. Aku juga tadi kelupaan membawakan kamu oleh-oleh. Padahal aku sudah mempersiapkan semuanya." cetus Mayang dihadapan aku dan Tari. "Maklumlah, datangnya buru-buru setelah tahu kamu dirawat."


"Nggak apa-apa, tapi kamu nggak perlu repot-repot datang ke sinj." Aku menjawab dengan malas-malasan


"Ris, boleh aku bicara sesuatu?"


"Apa?"


"Sebenarnya aku datang ke sini karena kasihan sama mas Fian. Ia benar-benar patah hati setelah putus dari kamu. Mas Fian sampai mengurung diri di kamarnya selama sepekan. Ia juga mau bunuh diri saking patah hatinya." kata Mayang. "Aku paham, mas Fian sangat tidak siap kehilangan kamu. Ya, hubungan kalian kan sudah lama. Pasti nggak semudah itu untuk saling melupakan sebab dari dulu kalian saling setia. Iya, kan?"


"Masa?" Tari menimpali.


"Tar, tolong jangan menimpali pembicaraan orang lain tanpa izin. Itu sangat tidak sopan!" kata Mayang, sok bijak. "Ris, aku mewakili keluarga benar-benar meminta maaf pada kamu atas perbuatan kami selama ini. Aku sangat menyesal. Aku harap kita bisa jadi keluarga seperti dulu kagi."


"Keluarga? Maksudnya kamu apa May?" Tari kembali menimpali.


"Duh, kamu itu nggak ditanya kenapa ikut bicara sih? Benar-benar nggak tahu sopan santun! Lagian masa kamu nggak paham juga? Rissa itu kan dulu pacaran sama mas Fian. Mereka bahkan akan menikah, hanya karena kesalah fahaman makanya hubungan mereka berakhir. Makanya aku hadir di sini untuk meluruskan kesalahpahaman ini!" kata Mayang. "Anggap saja aku ini perwakilan dari keluarga besar kami."


"Salah paham? Nggak salah kamu? Dimana letaknya salah paham? Sudah jelas-jelas Fian mutusin Rissa. Ditambah kamu dan ibumu yang nggak bisa menerima Rissa. Aku tahu betul bagaimana kalian menghina Rissa meski ia tak pernah buka mulut. Tapi banyak saksi matanya." cetus Tari.


"Hem, siapa yang menghina? Siapa juga yang tidak menerima? Aku dan ibu menerima dengan tangan terbuka!" kata Rissa


"Masa?"


"Ya Tari. Aku dan ibuku benar-benar menerima Rissa."


"Buktikan!"


"Baiklah. Aku akan membawa ibu ke sini untuk bicara langsung dengan Rissa. Ibu sendiri yang akan melamar Rissa.."

__ADS_1


"Silakan!"


Mayang keluar dari kamar tempat aku dirawat. Sementara itu, aku menatap Tari dengan bingung.


"Untuk apa kamu nyuruh ibunya ke sini? Aku nggak mau berurusan lagi dengan mas Fian dan keluarganya. Lagian kamu kan tahu, aku sudah menerima dokter Sam." kataku yang mulai kebingungan.


"Tenang Ris, aku nggak minta kamu untuk kembali pada Fian. Justru aku menentang hubungan kamu dan anak manja itu. Aku hanya ingin melakukan sedikit balas dendam." kata Tari sambil tersenyum.


"Balas dendam?"


"Yap!"


Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Tari saat ini, aku hanya mencium aroma-aroma tidak baik. Meskipun Tari itu baik, tapi dia juga pintar bersiasat. Aku tak berani membayangkan, balas dendam seperti apa yang diinginkan oleh Tari. Lagipula akj juga tak yakin Bu Upi mau datang ke sini. Untuk apa? Bukankah perempuan itu tak pernah menyukaiku. Bahkan Bu Upi berharap agar aku pergi selamanya dari hidup Fian. Kami putus adalah kondisi yang paling membahagiakan untuknya, jelas ia tak akan mungkin datang ke sini, apalagi melamarku. Itu hanya mimpi!


***


Sudah dua jam akuvbolak-balik memeriksa Hp. Memastikan tak ada pesan yang masuk dari dokter Sam. Hasilnya, memang tak ada satu pesan pun yang ada untuknya.


"Kenapa lagi? Manyun seperti itu?" tanya Tari yang baru masuk ke kamar sekembalinya dari makan siang di kantin.


"Kenapa dia tidak menghubungi aku?"


"Siapa? Dokter Sam?"


"Ya. Siapa lagi."


"Memangnya ada yang perlu?"


"Duh kamu itu. Makanya pacaran supaya tahu bagaimana orang yang menjalin hubungan. Biasanya, dengan mas Fian, aku selalu berkabar. Minimal tiga kali sehari kalau tidak bertemu."


"Ihhh, kayak orang minum obat saja. Ya beda kali. Dokter Sam kan sibuk, sementara si Fian kan pengangguran tingkat tinghi." Kata Tari sambil terkekeh. "Dari pada penasaran, terus jadi uring-uringan, lebih baik hubungi duluan."

__ADS_1


Aku menuruti anjuran Tari, mulai sibuk mengetik pesan untuk dokter Sam, tapi pesan yang ku tulis hanya diketik lalu dihapus. Begitu berulang kali tanpa pernah dikirim.


"Kenapa lagi?" tanya Tari.


"Aku malu. Masa aku yang menghubungi duluan. Dia itu kenapa sih, katanya mau menikah, tapi tidak peduli!" Aku langsung memasang wajah cemberut. Baru hendak kembali menggerutu, tiba-tiba pintu kamar diketuk, lalu masuk doktet Sam, membuat aku salah tingkah, sementara Tari tertawa geli.


"Kenapa tiba-tiba diam? Apa jangan-jangan kalian baru membicarakan aku?" tanya dokter Sam.


"Tepat sekali!" kata Tari, sehingga membuatku deg-degan.


"Ti ... tidak seperti itu." ucapku yang sponta menjadi gugup.


"Jadi, kalian membahas apa tentangku?" kini tatapan Dokter Sam tertuju padaku. Senyumnya yang memenangkan justru membuat aku makin gelisah. Kini aku benar-benar salah tingkah.


"Rissa meragukan, apakah dokter benar-benar perduli padanya atau tidak." ungkap Tari.


"Kenapa begitu?" dokter Sam menyelidik.


"Sebab anda tidak kunjung menghubunginya padahal kalian sudah dua puluh empat jam tidak bertemu. Kedengarannya memang agak lebay bagiku, tapi ternyata bagi Rissa ini adalah hal yang penting." tqmbah Tari.


"Oh, jadi karena itu? Baiklah, sepertinya kita harus menyamakan persepsi. Ris, dengarkan aku, bukannya aku tidak peduli padamu. Bagaimana mungkin aku tak peduli padahal aku sudah melamarmu dan kita akan menikah bulan depan. Hanya saja, aku bukan tipe orang yang menjalani pacaran. Aku tak suka dengan hubungan yang seperti itu. Menurutku itu tak baik dalam agama. Komitmen seperti itu tidak bisa dipertanggung jawabkan.


Kalau kamu ingin membantah, bagaimana kita bisa saling kenal satu sama lain jika tak pacaran. Kita punya waktu selama satu bulan sebelum menikah. Kamu boleh tanya apa saja tentangku. Bisa secara langsung saat kita bertemu, atau nanti titip pertanyaannya pada ibuku. Kau sering bertemu dengannya, kan?


Ris, aku tak ingin menjalin hubungan biasa. Aku ingin serius. Aku ingin mempersiapkan rumah tangga yang sakinah bersamamu. Bisakan kita berdua sama-sama belajar?" tanya dokter Sam.


Aku tak bisa berkata-kata karena semua yang dikatakan dokter Sam benar. Kayak akhi-akhi remaja masjid gitu. Hanya saja aku belum tahu batasan-batasan sebuah hubungan dalam islam karena aku terbiasa menjalani semuanya secara bebas. Yang penting tidak melanggar norma kesopanan. Tapi kini aku merasa benar-benar harus beljara banyak.


"Oh ya, mbak Tari, bisa saya minta tolong. Sebelum kami menikah untuk menjaga Rissa?" tanya dokter Sam.


"Tidak masalah dok. Saya senang sekali menjalankan tugas ini. Bersama dengan Rissa selama dua puluh empat jam rasanya akan jadi agenda yang menyenangkan. Iya, kan Ris?" Tari mengerlingkan matanya padaku.

__ADS_1


__ADS_2