
"Tapi aku tidak percaya. Aku yakin kamu masih menyukai mas Fian. Hubungan kalian sudah berjalan selama lima tahun, kamu sudah berjuang banyak untuk mas Fian. Hanya tinggal selangkah lagi, Rissa. Masa kamu mau menyerah begitu saja? Apalagi ibu sebagai salah satu ganjalan besar dalam hubungan kalian sudah memberikan izin. Ayolah Ris, jangan jadi pecundang. Aku tahu, kamu pasti sakit hati karena diputuskan secara sepihak oleh mas Fian, tapi ia melakukannya karena kebingungan. Mas Fian ingin kamu mendapatkan yang terbaik. Ia sudah berkorban merelakan orang yang dicintainya, lalu pengorbanan kamu apa?" tanya Mayang. Ia masih tidak mau menyerah meyakinkanku. Sementara aku benar-benar muak mendengarnya. Begitu juga dengan Tari yang terus geleng-geleng kepala.
"Aku sudah tidak punya perasaan apapun lagi untuk mas Fian. Aku sudah tidak peduli. Sekarang masa depanku adalah dokter Sam! Lagipula aku sudah berjuang selama ini. Jadi bukan aku yang pecundang!" ungkapku dengan tatapan tajam. Siapa yang tidak kesal diperlakukan seperti itu, sudah begitu kenapa masih juga dipojokkan. Kalau Mayang dan ibunya sadar diri, harusnya mereka tahu bahwa mas Fian lah yang pecundang. Ia tak melakukan apapun selain memaksa aku untuk berjuang keras. Hal itu membuat aku menyesal. Merasa seperti seorang yang bodoh selama ini dan bertekad tak akan mengulang kembali kebodohannya.
"Aku tetap tidak percaya!" Mayang masih belum terima.
"Rissa ... tidak apa kalau kamu tidak berjodoh dengan Fian. Justru saya sangat senang sekali. Apalagi sekarang saya tahu kamu tipe perempuan seperti apa. Matre dan tidak tahu diri! Saya benar-benar beruntung kamu berjodoh dengan orang lain sehingga putra saya bisa terhindar dari kamu. Anak saya lepas dari calon istri seperti kamu yang pastinya nanti akan sangat menyusahkan suaminya.
Dengar Rissa, anak saya bukan pecundang. Ia adalah lelaki yang punya masa depan cerah. Kami juga sudah punya calon istri yang cocok untuknya. Sama-sama berpendidikan. Namanya Sari. Kamu tunggu saja, mereka akan segera menikah!" Bu Upi membanggakan putranya.
"Ibu!" Mayang terkejut dengan pernyataan ibunya.
"Sudahlah, ayo kita pulang. Untuk apa bicara dengan anak yatim piatu ini. Kamu tahu, harusnya kita tak datang ke sini. Untuk apa kamu berharap pada gadis ini. Nasabnya saja tidak jelas. Entah benar-benar anak yatim piatu atau jangan-jangan anak hasil perzinaan. Lihat saja tingkahnya. Sombong dan menjijikkan!" Bu Upi sudah tak tahan untuk terus-menerus bermanis-manis padaku . Kata-kata kerasnya kembali dilontarkan.
"Apa maksud Anda bicara seperti itu? Tidak punya hati sekali. Rissa itu punya orang tua. Bukan seperti yang anda katakan. Memangnya dosa kalau jadi anak yatim piatu? Dia juga nggak minta!" Tari meradang, sementara aku sudah gemetaran karena sakit hati.
Tari sudah berdiri di hadapan Bu Upi. Ia sudah begitu geram. Sejak dulu selalu menahan diri untuk tidak ikut campur urusan aku dengan keluarga mas Fian, tapi kali ini ia sudah tidak bisa bersabar.
"Mau apa kamu?" tanya Bu Upi, kini ia yang takut melihat Tari terus mendekat.
"Saya yang tanya, sebenarnya apa tujuan anda dan putri anda datang ke sini? Mau mencari gara-gara dengan Rissa? Belum cukup selama ini kalian menyakitinya?" Tari menarik lengan Bu Upi hingga perempuan berusia lima puluh tahunan itu benar-benar gemetaran.
__ADS_1
"Apa ini?" kata Bu Upi.
"Cepat pergi atau saya panggil satpam untuk menyeret kalian berdua!" ungkap Tari.
Awalnya Mayang tak mau, ia masih ingin meyakinkan aku agar mau kembali pada abangnya. Tapi melihat Tari yanh sudah hendak mengamuk, akhirnya ia memilih mundur sambil menggandeng ibunya keluar.
"Ini semua gara-gara ibu." cetus Mayang, dengan sangat marah. "Kalau saja ibu bisa menahan diri sedikit lagi pasti rencana kita akan berhasil!" anaknya mengomel sambil berjalan meninggalkan ruanganku.
"Lho, kok ibu?" Bu Upi tak terima. Akhirnya antara mereka malah adu cekcok.
***
Kepalaku rasanya benar-benar sakit. Hingga tak sanggup berkata apa-apa selain meneteskan air mata. Kata-kata Bu Upi benar-benar keras. Hanya karena anak yatim piatu lalu menuduh sebagai anak haram hasil perzinaan.
"Ris, sabar sebentar ya. Dokter sudah menuju ke sini!" Kata Tari. Ia tampak cemas melihat kondisiku, sekaligus geram pada duo ibu dan anak tadi. Kalau saja Mayang dan ibunya tak datang mungkin aku tak akan merasakan sesakit ini.
Tak berapa lama, dokter Ines sekaligus ibu dokter Sam, yang menangani aku selama ini masuk bersama dua orang perawat. Dengan sigap mereka memeriksa dan memberikan pertolongan padaku hingga aku dibuat terlelap.
***
Semua terasa sesak. Aku berada di suatu tempat yang tidak ku kenali. Tempat yang membuatku tidak nyaman. Aku ingin menangis, tapi air mata tak kunjung bisa keluar. Sesak sekali.
__ADS_1
Siapa ia sebenarnya? Kini pertanyaan itu ikut muncul. Jujur, pernyataan Bu Upi masuk ke hati kecilku, meninggalkan banyak pertanyaan yang akhirnya mempersulit diri sendiri.
Selama ini aku hanya tahu kalau aku adalah anak yatim piatu. Tanpa diberitahukan oleh ibu panti, aku bisa tahu nama kedua orang tua dari yang terpampang di ijazah sejak SD hingga lulus SMA. Tapi selama itu, aku tidak pernah mempertanyakan pada ibu kepala panti, siapa orang tua kandungku yang sebenarnya. Dimana mereka tinggal, kenapa meninggal, lalu mengapa ia bisa tinggal di panti asuhan. Karena selama ini aku merasa, masuk panti berarti tidak punya ayah dan ibu. Sudah, sampai disitu saja
Meski aku tidak tahu jati diri ini, bukan berarti aku hina, kan?
Ahhh, apa ini balasan karena dosaku begitu banyak selama ini?
Aku memilih duduk sambil menundukkan kepala. mencoba mengingat, betapa banyaknya kesalahan yang dibuat selama ini. Hingga akhirnya satu-persatu air mata itu tumpah.
"Aku hanya ingin menjadi orang baik. Aku ingin merasa bahagia sebelum akhirnya pergi untuk selamanya." tangisku.
Tiba-tiba, sebuah tangan terulur padaku. Saat aku mengangkat kepala, rupanya dokter Sam. Ia tersenyum padaku.
"Sudah kukatakan, jangan pikirkan apapun lagi yang membuatmu sedih. Kini ada aku di sini. Ada Tuhan juga. Aku akan jadi jembatan untukmu menemukan kebahagiaan." kata dokter Sam.
"Tapi bagaimana caranya? Aku nggak akan bisa bahagia sebab selama ini aku sendiri. Dokter tahu, kan, aku tak punya keluarga. Aku hanya anak yatim yang entah siapa kedua orang tuaku!" ujarku, masih dengan hati yang begitu terluka.
"Kau tak butuh keluarga, kalau kau punya Tuhan."
Aku diam.
__ADS_1
"Ayo, cepatlah kembali. Aku menunggumu. Nanti akan kukatakan bagaimana cara untuk bahagia!" ujar Dokter Sam, lalu berjalan meninggalkan aku yang masih duduk berpangku tangan.