Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Perempuan Yang Meradang


__ADS_3

Eka berdiri mematung melihat kepergian dokter Sam. Hatinya terus bicara agar ia tak membiarkan lelaki itu pergi begitu saja. Ia mencintai Sam dan tak mau lelaki itu meninggalkan dirinya, namun ia menyadari bahwa memang ternyata sampai kapanpun tak bisa menggantikan Rissa. perempuan itu punya tempat istimewa yang sampai kapanpun tak terganti. Bisa dikatakan ia sudah kalah dan tak akan pernah menang dari sahabat yang sebenarnya dianggap seperti saudara sendiri namun karena perasaan iri maka Eka membenci Rissa di lubuk hati paling dalam.


Ia sudah tak tahu lagi bagaimana cara mengalahkan teman sekamarnya itu semenjak masih kecil. Senakal apapun Rissa tetap saja ia yang lebih disayang.


"Jangan pergi!" kata Eka. "Aku mohon jangan pergi. Sekali saja, tolong menangkan aku darinya. semua sudah aku korbankan, kenapa tetap tak bisa lebih unggul?"


Langkah dokter Sam terhenti.


"Aku ... aku duluan yang menemukan kamu. Aku duluan yang jatuh cinta padamu. Tapi Rissa yang mendapatkan kamu. Setelah darinya, tetap saja aku tak bisa memiliki kamu.


sama seperti dahulu. Aku yang mendapatkan apapun dahulu, tapi selalu Rissa yang dahulu ditanya. Apakah ia mau atau tidak.


Bahkan, ketika ada yang mau mengadopsi, Rissa dahulu yang ditanya. Ketika ia tak mau, mereka tetap tak memilih aku sebab mereka merasa aku tak lebih dari Rissa. Aku tak akan pernah bisa istimewa di mata siapapun sebab Rissa.


Ya, Rissa. Selalu saja Rissa. Ialah yang istimewa sementara aku, aku tidak. Aku hanyalah bayangan yang tak tampak, diabaikan. Tak ada gunanya aku ada di sini!" Eka menangis, meraung dalam ratapannya. Menyesali betapa tak berartinya dirinya ketimbang Rissa.


Namun sayangnya, tangisan Eka tak bisa mengubah keputusan Sam. Bahkan, Sam terlihat tak peduli. Cintanya hanya untuk Rissa. Ia tak bisa membaginya pada siapapun. Termasuk Eka!


Sam masuk ke dalam mobil, ia hendak pergi, baru saja menginjak gas tiba-tiba seseorang berlari kencang kearah mobilnya hingga terjadi suara keras seperti hantaman. Eka, nekat menabrakkan dirinya sendiri pada kendaraan Sam sebab hatinya kecewa.


***


Rissa masih berusaha membuka pintu. Suaranya telah habis, bersama dengan air matanya yang mulai kering. Ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Badannya semakin lemas sebab sejak pagi tak makan apa-apa padahal ia tengah berbadan dua.


Cekrek. Pintu dibuka. Ketika bibi Erna masuk membawakan makanan untuk Rissa. Ia langsung menghampiri perempuan itu.

__ADS_1


"Kamu lemas sekali, makanlah sesuatu, nak!" pinta bibi Erna. Namun Rissa tetap bersikeras menolak. "Setidaknya makan untuk anakmu. Jangan biarkan ia kekurangan. Ia masih bayi. Butuh sekali makanan darimu, Rissa. Ayolah!" bibi Erna tetap bersikeras, namun Rissa pun sama, tekadnya sudah bulat.


Sebenarnya Rissa sudah punya rencana untuk kabur dari sini. Ia tak Sudi berada di tempat ini lagi setelah apa yang dilakukan Dasril. Namun Rissa belum punya akal apapun.


"Kalau kondisimu sudah sehat, aku akan bujuk Dasril untuk melepaskan kamu, Ris." ungkap bibi Erna lagi.


"Kenapa tak sekarang saja?" kata Rissa.


"Kondisi kamu masih begini. Lihatlah, lukamu Juba belum kering seratus persen. Ditambah suamimu akan menikah lagi, kan. Kamu yakin ia akan sama seperti dulu dengan kamu seperti ini?" tanya bibi Erna.


Rissa tak menjawab. Ia hanya bersenandika. Betapa beratnya ujian yang harus dilalui. Entah bagaimana caranya menghadapi semua ini nanti. Baru saja menemukan cinta sejatinya tapi ternyata ia harus melewati luka bakar dan juga suaminya akan menikah dengan teman masa kecilnya.


Sedih yang begitu mendalam membuat kondisi Rissa melemah. Ia kembali memuntahkan darah segar seperti waktu kondisinya terpuruk. Bibi Erna panik, namun untungnya Dasril yang berada di ruang tamu langsung bergerak cepat ketika Bibi Erna berteriak.


"Suntikkan cairan itu!" kata Dasril pada bibi Erna.


"Setidaknya kita berusaha dulu!" perintah Dasril lagi yang agak gemas dengan gerakan bibinya yang dianggap lambat. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa sebab Dasril bukan tenaga medis. Ia tak paham bagaimana cara menyuntikkan obat pada orang.


Selama di negeri orang ia memang belajar tentang obat-obatan, di sana Dasril memiliki ayah angkat yang seorang profesor namun tidak lagi mengabdi, hanya menghabiskan waktunya untuk melakukan penelitian mandiri. Dari lelaki itulah Dasril belajar membuat obat untuk gejala seperti yang dialami ibunya saat itu.


Benar saja, setelah mendapatkan suntikan obat tersebut, Rissa langsung berhenti mengeluarkan darah. Namun tubuhnya sudah teramat pucat.


"Kita harus bawa dia ke rumah sakit, kalau tidak aku tak yakin dia bisa selamat. Kondisinya amatlah lemah " kata bibi Erna.


"Tapi bi," Dasril masih khawatir. Namun melihat bibinya yang begitu cemas akhirnya Dasril ikut saja

__ADS_1


Mereka membawa Rissa menuju rumah sakit daerah setempat. Ia didaftarkan dengan identitas yang sudah dibuat oleh Mr Y.


***


Rumah sakit yang sama. Di IGD. Rissa dan Eka berada di tempat tidur yang bersebelahan. Mereka sama-sama sedang mendapatkan tindakan. Eka yang luka di kening dan beberapa bagian tubuh memar sedang dibersihkan. Sementara Rissa, ia sendiri mendapatkan infus vitamin dan juga penguat kandungan karena saat ini kondisinya begitu lemah.


Sementara itu, Sam dan ibu kepala menunggu di luar. Atas permintaan ibu kepala panti, Eka dibawa ke rumah sakit ini, terdekat dari panti.


"Dok, kalau dokter mau pulang, silakan. Biar kami saja yang menjaganya." kata ibu kepala.


Sam sebenarnya ingin pergi, tapi entah kenapa ia merasa ada yang menahan langkahnya di sini, makanya, sejak tadi ia belum juga beranjak. Masih menunggu, entah apa yang ditunggu.


"Dok?" panggil ibu kepala lagi.


"Boleh saya di sini sebentar lagi, Bu?" pinta dokter Sam.


ibu kepala mengangguk. "Ini bukan kesalahan dokter." kata ibu kepala. "Atau apa ...."


"Rasanya hati saya tidak tenang." Sam tak bisa mengungkapkan isi hatinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Saat itu ibunya datang bersama adiknya Ash.


"Sam!" panggil dokter Ines. "Bagaimana Eka?" melihat Sam yang begitu khawatir dokter Ines menyangka putranya mengkhawatirkan calon istrinya. "Ibu mengerti."


"Ada ... ada sesuatu yang entah apa," kata Sam.


"Sudah ibu bilang Sam, pikirkan baik-baik sebelum membatalkan semuanya. Penyesalan memang datang terakhir. Belum terlambat. Setelah Eka membaik, minta maaf padanya." kata dokter Ines.

__ADS_1


Sam menggeleng. Bukan itu yang ia maksud. Namun semua yang ada di sana sudah salah menangkap. Sam tak bisa menjelaskan sebab ia pun tak tahu kenapa begini rasanya. Ia tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa ... apa?" Aghhh, Sam mengacak kepalanya sendiri. Ia kembali terduduk dengan kepala tertunduk.


__ADS_2