Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Darurat


__ADS_3

Silau. Perlahan, aku membuka mata, lalu aku melihat sorot lampu yang berada di atasku persis. Sampai harus mengerjapkan mata beberapa kali agar terbiasa dengan kemilau cahaya tersebut. Tapi kemudian aku tersadar, ada tiga orang yang tengah melihat ke arahku.


Tari, Bu Ines dan dokter Sam.


Berat, tapi aku berusaha memaksakan senyum sebab menyadari wajah mereka bertiga amat tegang.


"Kamu sudah bangun?" tanya Tari.


"Hm," jawabku. Agak kikuk karena ada dokter Ines dan dokter Sam.


"Sekarang apa yang dirasakan?" tanya dokter Ines.


"Sedikit pusing, tapi tidak sepusing tadi." kataku.


"Jangan dipikirkan semua yang dikatakan orang-orang tadi. Itu hanya akan merugikan kamu sendiri." dokter Sam buka suara. Ia sudah tahu semuanya dari Tari. Aku tak bisa berkata apa-apa selain hanya mengangguk-angguk.


Aku tak mengerti makna mimpi tadi. Apakah ini petunjuk kalau ternyata pilihannya pada dokter Sam tidaklah salah. Meski sebenarnya masih bimbang, tapi aku berusaha memantapkan hati agar tetap memilih dokter Sam.


***


Ini hari terakhir aku di rumah sakit. Jika hasil pemeriksaan bagus, maka aku bisa pulang dan menjalani rawat jalan.


Dokter Ines sudah berada di kamarku. Usai memeriksa, ia meminta Tari untuk keluar sebentar. Aku jadi bertanya-tanya, apakah gerangan yang ingin dibicarakan perempuan yang sebentar lagi akan menjadi mertuaku itu jika aku dan dokter Sam jadi menikah.


"Ris, kamu mungkin bertanya-tanya, tentang Sam dan keluarganya. Banyak hal tentang kami yang belum kamu ketahui. Padahal sebentar lagi kamu akan jadi bagian dari keluarga kami.


Keluarga kami adalah keluarga yang tak pernah perduli dengan status sosial orang lain meski kami jarang bergaul dengan orang lain. Jadi, mulai sekarang jangan pernah memikirkan apalagi sampai merasa tertekan. Tegakkan kepalamu, nak. Bagi kani, kamu sama dengan kami meski kamu sejak lahir adalah anak yatim piatu. Bahkan jika kamu tak punya orang tua sah pun kami tak perduli.


Saya sendiri punya dua putra, yaitu Sam dan Yoga. Sementara Ash adalah putra dari ibu tirinya Sam. Ia punya tiga orang saudara tiri. Sejak Sam kecil, sayabdan ayahnya memutuskan berpisah karena cara berpikir kami sudah berbeda. Kami sempat berselisih hingga akhirnya Sam kehilangan sosok ayahnya. Ia tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya. Nanti Sam sendiri yang akan menceritakan semuanya padamu setelah kalian menikah.


Aku hanya ingin menekankan padamu bahwa ketika Sam memilihmu, maka itu tandanya ia benar-benar menyukaimu. Sam bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta, tapi jika ia sudah menyukai seseorang maka ia akan berjuang untuk kebahagiaan orang yang dicintainya.


Jadi, aku minta padamu. Kelak, apapun yang kau tahu ataupun kau dengar, entah itu menyakitkan. Jangan ragukan cinta Sam. Ia benar-benar tulus padamu.

__ADS_1


Aku juga mendengar bahwa kau tak pernah merasakan sosok ayah dan ibu. Meski aku bukan wanita yang sempurna, aku siap menjadi ibu untukmu. Nanti, jika kau menikah dengan putraku, maka kau bukan sekedar menantu, tapi bagiku kau seperti putri sendiri. Jadi jangan sungkan padaku. Apapun masalah yang kau hadapi, kau bisa lari padaku. Aku akan berusaha selalu ada untukmu. Tolong, tetaplah berada di sisi putraku." pinta dokter Ines. "Jadi, bisakan kita saling melengkapi untuk Sam? Kamu akan mendapatkan seorang ibu dan aku mendapatkan seorang putri yang sama-sama kita tidak punya sebelumnya. Demi Sam. Bagaimana?"


"Bu ...." panggil ku.


"Ya."


"Terimakasih."


"Ya. Akupun berterima kasih. Setelah lama akhirnya aku bisa melihat putraku bahagia. Setelah hatinya membeku bertahun-tahun, kini ia bisa hangat. Itu pasti karena kamu."


"Bolehkah saya minta satu hal?"


"Apa?"


"Saya ingin merasa bagaimana rasanya di peluk seorang ibu. Maukah ibu memeluk saya? Sekali saja."


"Tentu saja. Tak hanya sekali, kamu boleh memelukku kapanpun kamu mau." Bu Ines mendekati tempat tidurku, ia memeluk ku, menepuk pelan punggungku hingga aku bisa merasakan kehangatan seorang ibu.


Kamar yang semula hening, kini mulai terdengar suara Isak tangis. Aku menangis, bukan karena sedih, tapi karena terlalu haru mendapatkan kebaikan yang begitu besar dari dokter Ines dan keluarganya. Rasanya, beban yang selama ini ku pikul sendiri hilang. Kesedihan ini akan berganti kebahagiaan.


"Terimakasih ... terimakasih banyak!" ucapku, masih dengan Isak tangis.


***


POV 3 (SELANJUTNYA CERITA AKAN MEMAKAI POV PENULIS)


Sam berlari menuju mobilnya. Setelah masuk, ia langsung memacunya dengan kecepatan penuh menuju pabrik kimia tempat Rissa bekerja. Sampai di parkiran, ia memarkir mobil keluaran Eropa tersebut sembarangan, lalu masuk terburu-buru menuju ruangan direksi.


"Katakan apa yang sudah kamu ketahui!" kata dokter Sam pada Carissa, gadis berusia dua puluh enam tahun yang kini jadi saudara tiri Sam karena ibunya menikah dengan ayah Sam. Carissa yang baru lulus dari Universitas langsung diangkat jadi tangan kanan ayahnya untuk mengurusi pabrik ini.


"Positif!" kata Carissa, meski dengan suara pelan, namun penuh keyakinan.


"Apa? Kamu tidak sedang bercanda, kan? Caris, apa maksudmu?"

__ADS_1


"Sam, formula yang dibuat papa benar-benar meracuni tiga orang buruh. Dua orang sudah meninggal, cepat atau lambat, satu lagi juga akan meninggal."


"Tapi ... bukankah itu cancer?"


"Bukan. Formula itu telah berubah jadi virus yang mematikan. Gejala yang dihadapi pasien hampir sama dengan pengidap kanker. Tapi cepat atau lambat, ia akan mati."


"Tidak. Itu tidak mungkin!" Sam berteriak pada Carissa.


"Aku sudah meminta pihak perusahaan untuk memberi santunan pada dua orang keluarga korban. Tinggal satu lagi yang masih dirawat Tante Ines. Kamu bisa menghandle, kan. Agar tak ada yang curiga lalu mempermasalahkannya hingga berpengaruh pada citra perusahaan."


"Aghhhh. Sebenarnya apa yang ingin kalian buat?" Sam benar-benar geram.


"Sam, papa ingin membantu orang-orang yang sakit. Papa ingin menemukan sebuah formula yang bisa menyembuhkan penyakit langka dan mematikan, tapi ....."


"Tapi malah membahayakan tiga orang buruhnya. Bagaimana kalian bisa berpikiran sejahat ini, mengorbankan tiga nyawa sebagai kelinci percobaan."


"Bukan begitu. Sam, ini demi orang banyak."


"Harusnya tidak melakukan percobaan berbahaya seperti itu."


"Tapi papa sudah menyesalinya. Ia sampai depresi dan akhirnya bunuh diri "


"Aghhhhh!"


"Sam, apa yang harus kita lakukan untuk menutup kasus ini "


"Kalian harus bertanggung jawab pada Rissa!"


"Bukankah kamu sudah merawatnya dengan sangat baik hingga berencana untuk menikahinya."


"Itu bukan urusan kamu!"


"Sam!"

__ADS_1


Dokter Sam berlalu meninggalkan pabrik. Bayangan menakutkan tentang kondisi Rissa membuat Sam benar-benar bingung. Ia tak mau hal buruk menimpa gadis itu. Tapi secara tidak sengaja ia sudah membaca jurnal ayahnya yang menyatakan bahaya apa yang sedang mengintai Rissa.


__ADS_2