
"Kasihan sekali dokter Sam dan Rissa. Mereka harus melalui kisah cinta yang amat rumit." gumam Tari lagi.
"Ya. Makanya aku berharap agar kisah cinta kamu bisa berjalan mulus." kata Abas
"Aku?
"Ya."
Tari tertawa kecil.
"Tar, aku serius." Abas sudah berniat untuk berterus terang sebab ia tak ingin kejadian seperti pada Rissa terulang lagi.
"Ya. Terimakasih untuk doanya mas..tapi aku tidak memikirkan jodoh saat ini."
"Kenapa?"
"Aku masih punya banyak tanggungan. Jadi rasanya tak mungkin memikirkan diri sendiri."
"Aku semakin salut sama kamu, Tar. Tapi aku serius. Bukannya kalau kamu menikah, maka beban kamu akan berkurang karena ada teman yang akan membantu kamu."
"Hah? Nggak sesimpel itu, mas. Pertama aku nggak mau nyusahin lelaki yang akan jadi pasanganku. Kedua, lagian siapa lelaki yang mau diajak memikul beban hidup bersama-sama?"
"Ada. Aku Tar."
Tari diam, ia tak percaya dengan pendengarannya. Awalnya ia merasa tersanjung, tapi cepat-cepat sadar. Tari bukannya tidak tahu kalau sebenarnya putra pemilik kosan yang ditempatinya itu menyukai Rissa. Ia tak mau, Abaa sama seperti Fian. Menjadikan dirinya pelarian meski sebenarnya Tari juga menyukai Abaa. Lelaki itu berhasil membuatnya terpesona sebab baktinya pada Bu Yana.
"Tar, bagaimana?" tanya Abas, hati-hati. "Aku sadar Tar, harusnya menyatakan cinta di tempat yang tepat, bukan di depan kosan dengan situasi yang kurang tepat seperti ini. Tapi aku harus melakukannya cepat karena aku nggak mau kehilangan kamu. Aku sungguh-sungguh Tar, siap membantu kamu sebagai tulang punggung keluarga. InsyaAllah secepatnya aku akan dapat pekerjaan dan ku harap kamu mau menikah denganku karena aku tak mau berlama-lama dengan pacaran yang ujungnya kadang nggak pasti."
__ADS_1
"Aku nggak tahu harus jawab apa."
"Jawab saja, apa kamu mau jadi calon istriku atau nggak?"
"Maaf mas, aku nggak bisa."
"Secepat itu? Kamu nggak mau berpikir dulu? Aku nggak keberatan kok kalau kamu butuh waktu untuk berpikir. Aku akan bersabar kok Tar."
"Nggak mas. Aku tahu kok kalau sebenarnya mas Abaa suka sama Rissa dan aku ...."
"Tar, apa kamu keberatan kalau aku pernah suka sama Rissa? Makanya kamu langsung nolak aku? Tar, aku memang pernah suka sama Rissa. Tapi aku sudah move on darinya. Aku memilih kamu bukan sebagai pelarian. Aku mengamati kamu dan merasa kamu adalah calon istri yang tepat untukku. Jujur, aku benar-benar kagum dengan kerja keras kamu untuk ibu dan adik-adik kamu. Makanya aku ingin minta izin agar bisa membantu meringankan beban kamu. Ayo kita berjuang bersama-sama untuk menyelesaikan tugas kamu sebagai tulang punggung keluarga."
"Mas ... tapi bagaimana dengan ibu?"
"Kamu tenang saja. Ibu sudah memberikan restu. Bahkan ibu yang berharap agar kamu menjadi calon menantunya."
"Ya Tar. Jadi kapan kamu ngizinin aku ke rumah orang tua kamu?"
"Bagaimana kalau kita ketemu Bu Yana dulu?" Tari agak ragu-ragu. Sejujurnya ia bingung, kenapa semua terasa begitu mulus sekali? Ia benar-benar ingin melihat sendiri, sambutan Bu Yana untuk dirinya.
***
Rissa masih berbaring meski matanya tak kunjung terpejam. Sementara di luar, malam telah gelap gulita. Tiba-tiba Tari masuk ke kamarnya. Menyalakan lampu hingga membuat mata Rissa silau. Ia sampai menggeliat, menarik selimut untuk menutup wajahnya yang belum bisa beradaptasi dengan sinar.
"Ya ampun, sudah jam segini kamu masih betah berbaring di kegelapan? Bukannya biasanya kamu tak nyaman berada di ruangan yang terlalu gelap?" tanya Tari, sambil duduk di samping Rissa. Ia tahu suasana hati sahabatnya tidak baik-baik saja, tapi ia tak bisa membiarkan Rissa terus mengurung diri sambil meratapi nasibnya. "Ris, bangun! Ayo makan. Kita dapat kiriman nasi rendang dari Bu Yana. Kamu juga masih harus makan obat, kan? Jadi sekarang ayo bangun!" Tari berusaha menarik tangan Rissa, tapi gadis itu tetap menolak. "Ris ... aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, tapi jangan nyiksa diri sendiri seperti ini. Yang merasakan sakit itu justru kamu sendiri. Ayolah Ris! Kalau kamu nggak mau dengar, aku bisa marah!" Tari menaikkan nada suaranya agar Rissa tahu bahwa ia sungguh-sungguh khawatir dengan kondisi sahabatnya itu.
"Tar, pergilah. Kalau kamu lapar makan saja. Tidak perlu pedulikan aku!" kata Rissa, sambil menepis tangan Tari.
__ADS_1
"Nggak. Aku nggak akan makan kalau kamu belum makan. Kita kan sudah sama-sama mengikat janji bahwa kita adalah saudara. Susah senang akan kita tanggung bersama."
"Tar ... kamu jangan begitu. Kalau kamu kenapa-kenapa, masih ada ibu dan adik-adik yang harus kamu pikirkan. Sementara aku hanya sebatang kara. Tak akan ada yang rugi juga kalau aku kenapa-kenapa."
"Kata siapa? Kalau kamu kenapa-napa, aku juga sedih, Ris. Atau selama ini kamu hanya berpura-pura menganggap aku saudaramu? Iya, begitu Rissa?"
"Nggak, bukan begitu Tar. Aku ...."
"Lalu kenapa kamu bisa sampai hari bicara seperti itu?"
"Tar!" Rissa sudah tidak bisa tahan, ia menghambur dalam pulukan Tari sambil berurai air mata. "Kenapa nasibku begini. Aku kira semua akan berakhir indah seperti di negeri dongeng, tapi ternyata semua hanyalah fatamorgana. Seperti ada tapi nggak ada. Aku nggak akan benar-benar bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang aku harapkan karena nyatanya Kebahagiaan untukku itu nggak ada. Iya kan Tar?"
"Siapa bilang? Jangan cepat menarik kesimpulan Rissa."
"Tapi buktinya dokter Sam mengajak menikah karena ia merasa bertanggung jawab atas perbuatan ayahnya. Tidak benar-benar karena ia menginginkan aku sebagai istrinya. Itu sangat menyedihkan sekaligus memalukan, Tar."
"Tidak seperti itu, Rissa."
"Kenyataannya begitu. Ia tidak mencintaiku. Sekarang aku tak ingin mengingat dia lagi." Rissa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia ingin menangis tapi ditahan. Rasanya sangat sesak. Ia lelah dengan semua ini. tak ada lagi harapan bahagia untuknya. ia yakin tak akan bahagia menikah dengan orang yang hanya kasihan dan melakukan pernikahan karena tanggung jawab saja. Bukan karena cinta.
"Baiklah, kamu boleh kecewa pada dokter Sam, tapi bukan berarti kamu harus menghancurkan diri sendiri. Ingat Ris, kebahagiaan kita harus kita usahakan sendiri. Jangan menggantungkannya pada oeang lain.
Satu hal lagi, kamu tidak sendiri, Ris. Ada aku, sebagai saudara kamu. Kalau kamu sedih, aku juga merasakan hal yang sama. Apapun keputusan kamu, aku akan selalu mensupport!"
"Tar, terimakasih." Rissa kembali memeluk Tari.
"Sekarang ayo kita makan, aku benar-benar sudah lapar." ajak Tari lagi. Kali ini Rissa mengikuti dari belakang meski ia belum ingin makan. ia tak bisa membuat sahabatnya itu kecewa.
__ADS_1