Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
20.000 Hari


__ADS_3

Sam menggandeng tangan istrinya ketika berjalan memasuki pesawat. Sejak awal ia benar-benar tak melepaskan tangan perempuan itu, bahkan setelah duduk di kursi pesawat pun mereka masih bergandengan tangan.


Keputusan untuk kembali ke tanah air adalah atas permintaan Rissa. Memang sebenarnya Sam masih ragu, apalagi profesor menyayangkan jika mereka harus kembali sebelum mencoba, begitu juga dengan ibu dan pamannya Sam yang merasa yakin hanya itu jalan keluar terbaik.


"Aku sangat yakin, feelingku ini benar. Setidaknya aku akan bertahan hingga dua puluh ribu hari." kata Rissa, sembarangan.


"Dua puluh ribu hari?" Sam melihat istrinya. Ia masih bingung.


"Yap, aku sangat yakin akan bertahan dua puluh ribu hari dimulai dari hari ini." ia tersenyum, berusaha meyakinkan suaminya meski ia sendiri sebenarnya tak terlalu yakin sebab semuanya diucapkan secara asal demi menghibur diri sendiri dan suaminya.


"Berarti sekitar 55 tahun?"


"Ha, segitu ya. Kalau sekarang dua puluh tahun, ditambah lima puluh lima tahun, berarti aku akan mati diusia tujuh puluh lima tahun. Aku rasa segitu cukup."


Rissa tersenyum senang. Sam terus menatap istrinya tanpa kedip.


"Janji, akan bertahan selama itu?" Sam mengulurkan tangannya pada Rissa.


"Hah? Oh, ya." Rissa mengangguk, membalas uluran tangan itu. "Kata bunda Nida, saat safar atau dalam perjalanan adalah waktu yang mustajab dikabulkan doanya. Kalau begitu mari berdoa agar kita bisa hidup lima puluh lima tahun lagi. Bagaimana?"


"Baik. aku akan berdoa untuk kamu agar bisa bertahan selama itu. Bagaimana dengan kamu?"


"Aku akan meminta agar suamiku lebih lama satu hari dariku."


"Kenapa begitu?" Sam mengernyitkan dahinya.


"Agar kamu bisa melihatku pergi. Agar kita tak saling lama berpisah. Aku akan menunggu!"

__ADS_1


Sam tak tahan lagi, ia memeluk erat istrinya. Untung saja mereka berada di kursi bisnis, jadi ada celah agar tak terlalu jadi perhatian untuk penumpang lain. "Kau harus bertahan, apapun itu. Aku tak mau kehilangan kamu cepat!" Sam meneteskan air mata untuk pertama kalinya ia memperlihatkan pada istrinya betapa sebenarnya ia sangat khawatir, ia takut kehilangan Rissa sebab perempuan itu sangat berarti untuknya.


***


"Kenapa nggak mencoba saja, Sam? Kenapa harus kembali? Kamu tahu betapa bahagianya ibu ketika akhirnya kalian berangkat ke Singapura. Ibu merasa ada angin segar, tapi kamu malah kembali. Kesampingkan dulu perasaan kamu, Sam. Ini juga demi kebaikan Rissa!" Dokter Ines mencecar anaknya. Ia pun sama khawatirnya, makanya agak kecewa saat Sam kembali ke tanah air. Sejak ia mengabari saja, dokter Ines sudah berulang kali melarang, tapi ternyata tak diindahkan.


"InshaAllah ini yang terbaik. Kami akan mencoba pengobatan lain." kata Sam.


"Bagaimana caranya? Profesor Tao itu jauh lebih paham dari kita." ujar dokter Ines.


"Rissa ingin pengobatan alami." jawab Sam.


"Apa maksudnya? Alami seperti apa? Tidak berobat? Dijalani saja, begitu?"


"Ya, kurang lebih begitu. Ia ingin memperbaiki pola hidupnya, belajar sehat secara alami."


"Sam, kamu itu dokter!" Bu Ines menegaskan. Mengingatkan kembali profesi keluarga mereka. "Jangan remehkan ilmumu dan kamu tahu apa yang harus dilakukan kalau ada orang sakit. Apalagi sakitnya seperti Rissa. Ini nggak main-main, Sam. Berhubungan dengan nyawa!" Bu Ines terpaksa menegaskan sebab ia merasa anaknya sedang tidak baik-baik saja.


Tapi tetap saja Sam bersikeras mendukung keputusan istrinya, makanya dokter Ines jadi geram.


Namun dokter Ines tak habis akal, ia mengajak Rissa untuk bicara, menggunakan akal sehat dan kepala dingin. Tapi tetap saja, Rissa pun sama seperti Sam, keras pendirinya untuk tak memakai penelitian baru menghadapi sakitnya.


***


"Ini benar-benar lelucon!" dokter Ines bergumam di meja makan, saat ia makan malam bersama Yoga, putra keduanya. Usai berbincang dengan anak dan menantunya. "Sudah lama kita belajar ilmu medis. Butuh waktu lama dan uang yang gak sedikit. Tak hanya aku, tapi generasi di atasku dan juga anak-anakku. Semuanya kami arahkan belajar medis dan sekarang putra yang sangat aku harapkan malah menyangkal pilihan yang aku beri dengan alasan yang tak jelas. Padahal ia seorang dokter. Benar-benar aneh!" dokter Ines tertawa miris.


"Lalu?" Yoga terpancing.

__ADS_1


"Kamu tahu, ini seperti sedang menghancurkan reputasi para medis." tambah dokter Ines.


"Padahal ia kepala rumah sakit!" Yoga ikut menambahkan.


Dokternya Ines menatap Yoga. Merasa yang dikatakan anak tengahnya benar


"Bu, apa ibu tak berpikir untuk melakukan sesuatu demi menjaga kepercayaan masyarakat. Maksudku, kalau Sam saja yang istrinya sakit tidak diobati di rumah sakit malah dibiarkan begitu saja, padahal ia kepala rumah sakit, bagaimana tanggapan para pasien bahkan tenaga medis lainnya yang bekerja dengan kita? Ini seperti lelucon." tambah Yoga.


"Ia tidak membiarkan Rissa begitu saja!" tegas dokter Ines, masih membela putranya.


"Kenyataannya ia melakukannya."


"Sam tak begitu. Sam itu percaya bahwa kalau sakit ya berobat. Mungkin karena ...."


"Rissa? Ya, pasti karena Rissa, kan? Perempuan itu yang mempengaruhi Sam. Iya kan, Bu?"


"Kamu bicara apa?"


"Bu, kredibilitasnya Sam sedang dipertaruhkan. Kalau keluarganya Clarissa


tahu, bisa-bisa mereka protes dan meminta Sam diganti. Ibu tahu kan siapa yang akan maju? Yap benar, Max! Ayah sudah menulisnya. Ibu mau pemuda urakan yang bahkan hidupnya tak jelas itu menggantikan memimpin rumah sakit padahal ia tak punya pengalaman apapun dan malas belajar. Yang ada, rumah sakit ini akan hancur. Rumah sakit ini didirikan oleh kakek kamu, Max tak berhak sedikitpun, ia bisa dapat kesempatan karena ibunya menikah dengan ayah. Meski ia tak berkompeten. Amat sangat disayangkan!" Yoga menekankan.


Yoga sengaja melakukan itu. Tujuam utamanya agar Sam mau beralih pada Carissa. Yap, ia ingin perempuan pujaan hatinya tak lagi mengalami patah hati meski yang ia pertaruhkan adalah hatinya. Kadang, cinta itu memang aneh. Demi perempuan yang dicintai rela menderita. Dan Yoga sedang menjalaninya.


Dokter Ines sendiri merenungi kata-kata Yoga dalam diamnya. Benar juga, kalau kinerja Sam menurun maka istri mantan suaminya akan mengajukan penggantian kepemimpinan padahal Dokter Ines yakin hanya Sam orang yang tepat sebab anaknya benar-benar berjiwa sosial dan tak gila harta. Kalaupun bukan Sam, setidaknya Yoga atau bahkan Ash bisa menggantikan nantinya. Namun dua anaknya yang lain terhalang oleh Max yang berada di urutan kedua sebagai calon kepala rumah sakit.


Saat seperti ini dokter Ines kesal, kenapa kala suaminya membuat keputusan itu ia gak protes. Kenapa ia tak memaksakan agar nama ketiga putranya diurutan pertama, kedua dan ketiga. Kenapa harus ada nama Max?

__ADS_1


__ADS_2