
Aku sudah bersiap-siap. Hari ini akan berangkat ke panti asuhan tempatku dulu di besarkan. Panti yang telah ditinggalkan selama dua tahun. Ya, aku memilih kabur secara diam-diam demi mengikuti ajakan mas Fian sebab hubungannya dilarang oleh bunda-bunda panti.
Di sana memang ketat, pengurusnya agamais, penghuni panti asuhan dilarang pacaran. Namun karena masih labil, aku hanya mengikuti emosi saja, nekat pacaran secara backstreet sejak usia lima belas tahun. Segala rintangan di hadapi, aku bahkan tak kapok meski sering mendapatkan hukuman. Yang terpenting jadi pacar mas Fian.
Di mataku saat itu, mas Fian adalah lelaki terbaik yang akan jadi sumber kebahagiaannku. Aku mengenal lelaki itu ketika masih kelas satu SMA. Mas Fian kuliah praktek di sekolahku. Sebulan cukup bagi kami untuk menjalin hubungan. Sebagai cinta pertamaku, mas Fian adalah harapan satu-satunya yang aku lihat saat itu meski banyak rintangan yang harus dihadapi, aku benar-benar tak goyah.
Di usia tujuh belas tahun, aku nekat pindah ke kosan di dekat kontrakan mas Fian. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, aku bekerja di pabrik obat sebagai buruh. Awalnya tak mudah bagiku mendapatkan pekerjaan sebab usia yang masih tujuh belas tahun. Aku memang masuk sekolah dasar lebih awal. Sehingga luluspun lebih cepat. Tetapi aku cukup beruntung saat itu.
Enam bulan pertama akubterpaksa bekerja sebagai pelayan di salah satu rumah makan masih di bilangan Jakarta Selatan. Pendapatan hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari dan kosan. Untuk tambahan, aku berjualan makanan kecil yang dibeli di pasar Mayestik, lalu dikemas ulang dengan ukuran lebih kecil. Barulah setelah usiaku genap delapan belas tahun, aku pindah kerja di Pratama Group, bagian pabrik kimia.
Kini aku ingin kembali ke panti, untuk silaturahim dengan para Bunda yang sudah membesarkanku. Aku sudah siap jika akhirnya harus diusir karena kelakuan nakalku dahulu. Aku hanya berharap mendapatkan maaf agar hati ini benar-benar tenang.
Baru hendak keluar, di pagar kosan, aku bertemu dengan Mayang. Adiknya mas Fian lagi? Awalnya aku menebak ia ingin menyerangku karena Juan kemarin. Ahhh, sebenarnya aku tak ingin berkelahi, apalagi dengan Mayang yang usianya dua tahun di atasku. Aku dan Mayang sejak dulu memang tak pernah baik. ia tak pernah bisa menerimaku sebagai seseorang yang dekat dengan abangnya. Ia sama seperti ibunya. menolak aku mentah-mentah. Sekarang kami sudah berpisah, harusnya ia tak perlu lagi menemuiku
"Halo Ris. Apa kabar? Kamu segar sekali hari ini Ris? Oh ya, maaf atas kejadian di mall tempo lalu ya. Aku nggak bermaksud untuk menyerang kamu, aku hanya terpancing teman kamu itu. siapa namanya? yang butuh itu?" tanya Mayang.
"Ya, Alhamdulillah aku baik-baik saja." jawabku, seadanya.
"Kamu mau pergi, Ris? Kelihatannya sudah rapi. Mau berangkat kerja, ya?"
"Enggak. Mau ke Mampang."
"Oo."
__ADS_1
"Kamu mau ngapain ke sini? Bukan mau cari kosan, kan?"
"Hahahaha, kamu ini bisa aja Ris. Aku ke sini nyari kamulah."
"Aku? Nggak salah."
"Enggak Ris."
"Ada apa?"
"Hmm, jadi gini Ris. Aku mau nanya sama kamu. Tentang motor yang kamu cicil itu, bulan ini tagihannya belum kamu bayar, ya Ris?"
"Belum."
"Ya sudah."
"Kok gitu sih Ris. Harusnya kamu bayar dong. Cicilannya kan sudah mau lunas. Gara-gara nggak dibayar, akibatnya motornya ditarik."
"Itu bukan urusan aku lagi. Aku juga nggak peduli ditarik atau enggak. kan bukan aku yang Makai?"
"Lho, bagaimana sih. Kan kamu yang bayar cicilannya tiap bulan. Kenapa bulan ini mangkir!"
"Kamu punya malu nggak sih, May. Aku dan mas Fian sudah putus. Sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Lalu kenapa juga aku harus bayar cicilan motor yang kalian pakai?"
__ADS_1
"Tapi kan itu motor sejak awal kamu yang bayar cicilannya, harusnya kamu selesaikan sampai akhir dong."
"Apa?"
Aku memandang Mayang. Rasanya benar-benar kesal. Anak ini datang hanya untuk menuntut tagihan motor padaku. Padahal selama ini sikapnya tak pernah baik. Apa ia dan keluarganya benar-benar setudak tahu malu ini? Aghh, aku malah lebih kesal karena baru sadar kenapa aku bisa sebodoh itu dimanfaatkan oleh mereka . Rasanya benar-benar kesal, benar-benar tidak tahu malu. Mereka langsung terlibat adu mulut. Aku tetap pada pendirian tidak mau nyicil, sementara Mayang terus menagih pembayaran.
"Eh apa-apaan ini. Pagi-pagi sudah ribut di depan rumah orang!" Bu Yana keluar bersama mas Abas. Melihat kehadiran Mayang, Bu Yana langsung terlihat kesal, ia memang tak pernah suka dengan mas Fian bersaudara karena merasa mereka hanya memperalat aku yang polos dan agak bodoh ketika jatuh cinta pada mas Fian
"Kamu itu nggak tahu malu sekali, harusnya mas Fian yang membiayai Rissa, tapi ini kebalikannya. Selama ini saya diam saja kalian berlaku semena-mena terhadap anak kos saya, mulai sekarang saya nggak akan tinggal diam!" kata Bu Yana sambil berkacak pinggang.
"Lho, apa hubungannya sama ibu. Cuma ibu kos nggak usah ikut campur deh!" Mayang tambah sewot karena merasa urusannya dicampuri orang lain.
"Kamu mau tahu siapa saya? Saya bukan hanya ibu kos Rissa, tapi saya ini calon ibu mertuanya Rissa. Paham!" ungkap Bu Yana sambil berkacak pinggang. "Mending sekarang minggat deh atau saya beri pelajaran kamu!" Bu Yana mengambil sapu yang berada di dekat tembok rumahnya, lalu memukul Mayang sampai ia berteriak kesakitan.
Mayang memutuskan untuk kabur sebab ia sudah tidak sanggup menghadapi pukulan Bu Yana yang cukup keras. Bahkan meski Mayang sudah menjerit, Bu Yana tetap tak mau berhenti.
"Rasanya puas sekali sudah bisa mengusir anak itu. Selama ini rasa kesal ku simpan sendiri. Ia berbuat seenaknya. Tidak tahu malu. Dikiranya ia siapa. Satu keluarga tak tahu malu semua!" Bu Yana masih ngomel dengan nafas ngos-ngosan. Sementara aku hanya nyengir. "Ris, kalau ada apa-apa, bilang sama ibu saja supaya ibu usir dia!"
"Eh, iya bu. Kalau begitu saya pamit ya Bu."
"Kamu mau kemana, Ris? Katanya cuti kerja?"
"Mau ke panti, bu. Mau silaturahim sama bunda-bunda di sana."
__ADS_1
Sudah terlalu lama aku tak bertemu dengan orang-orang yang sudah berjasa dalam hidupku. Bunda-bunda panti. Sejak memutuskan kabur dari panti, aku tak berani lagi ke sana karena takut sebab menyadari sudah membuat kesalahan. Sebenarnya mereka pernah beberapa kali mencari, tapi aku menghindar. Ya karena aku tahu aku sudah mengecewakan mereka.