Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Bertahanlah Rissa!


__ADS_3

Sejak sepuluh tahun lalu, dokter Sahril Pratama sudah berencana untuk menciptakan obat khusus kanker. Ia membuat penelitian dengan dibantu beberapa orang ahlinya. Dokter Sahril sampai mengeluarkan dana besar untuk proyeknya ini. Sebagai ahli kanker, dokter Sahril sudah begitu sedih melihat kondisi pasiennya.


Untuk ujicoba hasil penelitiannya, para Professor yang dibayar dokter Sahril meminta tiga orang relawan. Mereka diminta bekerja di ruang biru tempat alat tersebut dipasang tanpa diberitahukan semua itu. Yang mereka tahu adalah mereka harus merakit obat-obatan di ruangan steril bertiga dengan bayaran cukup tinggi.


Siapa sangka, dua orang buruh sudah meninggal dunia, tertinggal Rissa dengan diagnosa kanker otak karena ada benjolan di kepalanya.


Mendapati kenyataan pahit tersebut, dokter Sahril benar-benar terpukul. Ia tak menyangka bahwa rekanan yang dipercayainya tega menjadikan tiga orang buruh sebagai kelinci percobaan. Dokter Sahril semakin frustasi sebab ialah yang diminta bertanggung jawab. mendengar kabar kematian dua orang buruh, menbuatnya tambah stress dan akhirnya bunuh diri dari atas rooftop.


Dokter Sam yang waktu itu masih ada di Amerika secepatnya terbang kembali ke tanah air. Sayangnya, ia hanya mendapati jenazah ayahnya yang sudah terbujur kaku.


Ada rasa penyesalan yang begitu besar, kenapa ia pulang di saat waktu yang terlambat. Harusnya ia segera kembaki agar bisa memperbaiki semua kesalah pahaman di masa lalu. Tapi itulah takdir Allah yang harus dilaluinya.


Tin tin tin. Suara klakson mobil menyadarkan dokter Sam dari lamunan. Ia nyaris ditabrak truk bermuatan obat yang hendak keluar dari halaman pabrik. Sam segera masuk ke dalam mobil, memacunya kembali ke rumah sakit.


***


Rissa sudah terlelap saat dokter Sam datang. Tari yang sedang menunggui hendak membangunkan agar mereka bisa berbincang, tapi dilarang oleh dokter Sam.


"Biarkan ia istirahat." kata dokter Sam. "Aku hanya ingin melihatnya sebentar."


"Kalau Rissa tahu anda datang, ia pasti akan senang sekali." ungkap Tari.


"Nanti saya akan datang lagi. Sekarang biar dia istirahat dulu." dokter Sam segera berlalu meninggalkan ruangan Rissa. Langkahnya terus menuju ruangan ibunya.


"Sam, ada apa?" Tanya dokter Ines, melihat raut wajah Dokter Sam yang keruh.


"Ibu ... tidak bisakah ibu melakukan sesuatu untuk menolongnya?" tanya dokter Sam. "Apa saja, tolonglah!" Lelaki itu memohon dengan sungguh-sungguh.


"Sam, ibu sudah berupaya keras."


"Lalu harus bagaimana?"


"Sam, tak banyak waktu yang ia miliki. Segeralah menikah, lalu bahagiakan ia."

__ADS_1


Dokter Sam menekuk wajahnya. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Yang jelas, hatinya benar-benar hancur. Ia ingin marah, tapi tak tahu harus marah pada siapa.


"Jangan putus asa seolah-olah kamu tak punya Tuhan. Bukankah itu yang selalu kamu katakan pada orang-orang termasuk ibu, Sam?" ujar dokter Ines.


"Bu ....".


"pergilah, minta pada-Nya. Kita terlalu lemah!"


Dokter Sam segera bangkit, langkahnya kini menuju mushalla rumah sakit. Benar yang dikatakan ibunya. Ia tak seharusnya putus asa, bukankah masih ada Tuhan yang akan menolong. Manusia bisa apa tanpa Tuhan?


***


"Yahhj, kenapa tidak mengatakan padaku kalau tadi ia datang ke sini?" Rissa menekuk wajahnya. Ia kecewa, sebab tadi saat dokter Sam datang malah tidur.


"Dokter Sam sendiri yang melarang." kata Tari.


"Lalu kapan ia akan datang ke sini lagi?"


"Ris, sepertinya kamu benar-benar sudah snagat jatuh cinta pada dokter Sam."


Dua orang sahabat itu kembali terkekeh.


***


Rissa pulang hari ini. Dokter Sam yang mengantarkan, bertiga mereka menuju kosan. Sampai di sana, sudah ada Bu Yana dan Abas yang awalnya juga menawarkan bantuan menjemput namun ditolak. Dari gelagat Abas, sudah terlihat bahwa ia jeleous pada dokter Sam, tapi ia cukup gentle. Tidak mengganggu meski sebenarnya hatinya sangat panas.


Sejak dulu sampai detik ini ia memang suka pada Rissa. Gadis itu, selain berparas cantik juga punya perangai yang baik. Bu Yana pun juga menyukai Rissa.


"Ingat, jangan pikirkan apapun yang membuat sakitmu kambuh. Kamu harus tetap sehat!" pesan dokter Sam sebelum meninggalkan Rissa.


Mobil Eropa itu akhirnya meninggalkan gang sempit di pinggiran kota Jakarta. Rissa masih berdiri di depan pagar, melihat lurus ke depan, seolah dokter Sam masih berada di hadapannya. Ia benar-benar tak ingin beranjak meski hanya selangkah.


"Sepertinya kamu bahagia sekali. Pulang dari rumah sakit malah tambah segar." kata Abas dengan maksud menyindir Rissa meski yang disindir tidak peduli.

__ADS_1


"Hm," Rissa hanya menjawab pendek, sambil tersenyum. Lalu berlalu masuk ke dalam kosan sehingga membuat Abas jadi gemas.


"Ahhh Ris. Aku sudah menunggumu selama ini, tapi sekarang kau menghadirkan saingan baru yang kali ini benar-benar membuatku tak berani meski sekedar membayangkan bersaing dengannya. Aku sadar diri, Ris. Ia seorang dokter. Sementara aku hanya sarjana yang masih nganggur." kelurh Abas, sambil menunduk menahan patah hatinya.


"Pejuang itu tak seperti itu. Bagaimana bisa mendapatkan Rissa kalau di awal sudah patah semangat. Lagipula apa kata ibu, harusnya setelah Rissa putus dari si Fian itu, langsung saja Pepet sampai dapat meski ditolak berkali-kali pasti luluh juga. Ini malah diundur-undur, begini kan jadinya." cetus Bu Yana, yang tak kalah gemas dengan sikap anaknya yang terlalu lama geraknya.


"Ya gimana Bu, sudah ditolak sekali rasanya belum percaya diri. Aku kira ia masih butuh waktu untuk move on. Taunya cepat banget."


"Halah, cowok kayak si Fian itu nggak pantas lama ditangisi. Nggak rugi juga ngebuang dia. Ibunya saja yang ke PD an, seolah anaknya luar biasa. Sekarang lihatlah. Rissa dapat yang jauh lebih baik dari si Fian. Apa nggak gigit jari tuh." Bu Yana terkekeh. Merasa senang membayangkan nasib Fian tanpa menyadari tatapan miris anaknya.


"Jadi menurut ibu, dokter tadi cocok untuk Rissa?"


Bu Yana diam sesaat. Ia menatap putranya dengan tatapan iba. Mau bilang paling cocok, ia sangat yakin akan membuat anaknya patah hati meski begitulah kenyataannya.


"Hahahaha, aku tak apa-apa Bu. Katakan saja bagaimana penilaian ibu supaya aku bisa move on." ucap Abas, berusaha tegar meski hatinya rapuh.


"Iya sih, mereka cocok sekali. Kesampingkan dulu latar belakang keluarga Rissa, maka akan terlihat kalau mereka pasangan yang paling cocok." kata Bu Yana, hati-hati.


"Oh, begitu ya."


"Tapi denganmu cocok juga. Hanya saja kamu kalah cepat, Bas. Coba ikuti perintah ibu, pasti akan happy ending."


"Begitu ya, Bu?"


"Jangan khawatir, Gi. Ibu yakin, jodoh sudah diatur sebaik mungkin. Ibu melihat ada kandidat lain yang tak kalah dari Rissa. Meski ia tak secantik Rissa."


"Siapa, Bu?"


"Tari. Gadis itu, sama dengan Rissa..tidak banyak ulah. Ia juga tipe perempuan pekerja keras. Ibu yakin, kalau kamu nikah sama dia, kalian akan bisa mengelola kosan ibu dengan baik. Kalian akan jadi pasangan yang saling melengkapi."


"Tari? Tapi Bu ...."


"Sudah, coba saja dulu." Bu Yana berlalu ke dalam. Sementara Abas masih berdiri di depan teras rumahnya sambil melihat lurus ke depan, terus ke jendela kamar Tari yang berada di lantai dua.

__ADS_1


Apakah ia akan mencoba?


__ADS_2