Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Tari sudah tak sabar ingin berjumpa dengan Rissa. Ia sengaja cepat-cepat pulang. Mengabaikan siapapun, termasuk Abas yang sudah resmi menjadi kekasih yang akan menikahinya. Tujuannya, ingin tahu bagaimana hubungan Rissa dan dokter Sam setelah pertemuan mereka tadi pagi. Berita ini sangat penting bagi Tari untuk diketahuinya sebab ia merasa baru akan bahagia kalau tahu Rissa bersama orang yang tepat.


Sayangnya, Tari mendapati Rissa terbaring di lantai kamarnya yang setengah terbuka, dengan banyak darah mengalir dari mulutnya.


"Aaaaaa!" teriak Tari. Ia benar-benar kaget melihat kondisi Rissa yang cukup parah. Tidak butuh lama, anak-anak kos yang masih berada di kamar masing-masing segera keluar. Mereka membantu Tari membawa Rissa ke rumah sakit dengan mobil tua yang disetir Abas.


Sepanjang perjalanan, tak lupa tari mengabari dokter Sam. Ia benar-benar takut. Baru bisa sedikit tenang saat dokter Sam menyambut kedatangan mereka. Rissa langsung dibawa ke ruang gawat darurat.


***


Hanya ada dokter Ines, dokter Sam dan seorang dokter senior yang berada di ruangan tempat tindakan. Wajah mereka pias. Entah harus melakukan apa. Yang paling panik tentu dokter Sam, ia terus berusaha membangunkan Rissa namun gadis itu tetap tak bisa membuka matanya.


"Apakah waktunya sudah dekat?" Tanya dokter Ines pada profesor Hamis, senior di rumah sakit ini. Yang juga sepupu dokter Syahril.


"Sepertinya," kata profesor Hamis.


"Kalian bicara apa? Jangan sembarangan bicara!" Sam sampai berteriak. Ia tak rela jika harus melepaskan perempuan yang dicintainya sekarang. "Lakukan sesuatu, tolong lakukan sesuatu!" Kata dokter Sam lagi sambil berteriak. Air matanya tumpah karena begitu takut kehilangan Rissa. Hidup gadis itu belum baik selama ini, ia belum merasakan kebahagiaan yang sebenarnya, makanya Dokter Sam tak mau melepasnya. "Rissa ... bangunlah. Kau harus bangun. Kalau kamu pergi sekarang aku tak akan memaafkan diriku sendiri. Tak akan!"


Dokter Sam segera berlalu keluar dari ruang tindakan, ia tak peduli pada orang-orang yang menunggui dan bertanya tentang perkembangan Rissa. Ia tak punya kekuatan untuk menyadari bahwa dirinya pun sebenarnya tak sanggup menerima kenyataan pahit itu.


Carissa kini berada di hadapan dokter Sam. Sepasang mata dokter Sam yang terlihat cemas sudah bisa menyadarkan perempuan itu bahwa ia sudah tak punya kesempatan apapun. Ia tahu, lelaki yang berdiri di hadapannya itu kalau sudah jatuh cinta sekali saja tak akan pernah bisa berpaling. Makanya Carissa hanya bisa diam.


***

__ADS_1


"Ia sudah diberikan satu kantong darah lagi. Ku harap ini bisa membantunya. Setidaknya, gadis ini harus bangun untuk Putraku." Kata dokter Ines. Iapun sama frustasinya dengan putranya. Untuk mengobati luka Sam dari kekecewaan usai kehilangan ayahnya, butuh waktu yang teramat lama. Apalagi kalau ia harus terluka lagi untuk kedua kalinya. Entah bagaimana Sam nantinya menghadapi hidup.


"Aku sudah memberinya obat-obatan juga. Tapi sepertinya belum ada angsuran sedikitpun. Ia masih tetap tak sadarkan diri. Kalaupun ia bisa bangun aku gak yakin ia bisa seperti sebelumnya." Kata profesor Hamis.


"Jadi?"


"Mungkin akan ada kelumpuhan otak."


"Oh tidak!" Dokter Ines menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar iba melihat gadis itu. Masih sangat muda namun ujian hidupnya begitu luar biasa.


***


Di atas sajadah itu, Sam masih bersujud. Ia kembali menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan semua kesedihannya. Rasa takut itu datangnya dari Tuhan, Dialah yang bisa menghilangkannya. Sam sadar bahwa ia hanyalah seorang hamba. Rissa pun begitu. Kalau Tuhan berkehendak, apapun bisa terjadi. Hanya saja ia menyadari bahwa dirinya tak seshalih itu, entah amalan apa yang akan ia banggakan di hadapan Tuhannya agar doanya bisa dikabulkan.


***


Dalam lelah itu, Rissa merasa teramat panas. Dahaganya begitu kering. Ia ingin segelas air dingin. Namun, lagi-lagi sepanjang mata memandang hanya ada tanah yang lapang. Bahkan rumput pun tak ada


"Dimana ini?" Rissa mulai risau. Ia kehabisan tenaga namun sadar tak bisa berhenti di sini sebab dahaganya sudah sangat haus. Perutnya pun begitu. Sejak tadi keroncong. "Seseorang, tolong aku!" Pinta Rissa, ia berusaha berteriak sekuat tenaga namun tak ada yang mendengar suaranya. "Bagaimana ini, aku aman mati kelaparan dan kehausan." Ia hampir menangis ketika tiba-tiba sadar ada sesuatu yang berjalan menujunya.


Sam. Ya, dokter Sam yang tampak olehnya, berjalan ke arahnya. Lelaki itu datang, membawa sebotol minuman dan memberikannya untuk Rissa


"Hanya itu yang aku bisa beri. Selebihnya harus kamu yang mengusahakan." Kata dokter Sam.

__ADS_1


"Air ini sudah sangat membantu.. setidaknya aku sudah tak lagi dahaga." Kata Rissa. Memaksakan senyum meski ia masih ingin ditemani namun dokter Sam malah pamit


"Pulanglah Rissa. Kamu pasti bisa!" ucap lelaki itu.


"Kenapa tak sama-sama saja pulangnya?" Tanya Rissa


" Karena setiap orang harus berusaha sendiri dengan usahanya. Orang lain hanya bisa membantu sebatas ini, Rissa. Kalau kamu punya tabungan banyak maka kamu bisa mendapatkan banyak bantuan dan petunjuk."


"Tapi ... aku tak punya!" Rissa menunduk, ia sadar, selama ini tak punya tabungan apapun. Bahkan mungkin minus. Ia hidup hanya sekedar hidup. Tak pernah terpikirkan untuk menyiapkan sesuatu untuk kembali nantinya. Bekalnya benar-benar kosong. Makanya ia merasa menyesal sekali.


Dokter Sam beranjak pergi. Rissa begitu cemas. Ia meminta agar lelaki itu tak meninggalkan dirinya sendiri. Setidaknya kalau ada apa-apa ada yang akan menemani. Tapi dokter Sam menyatakan ketidak bisaannya. Ia malah berlalu cepat, membuat Rissa kehilangan petunjuk.


"Oh bagaimana ini," Rissa benar-benar tak tahu lagi harus kemana. "Tolong buat aku kembali, aku belum punya apa-apa. Bagaimana bisa aku kembali tanpa sedikitpun bekal. Aku tak mau mati langsung masuk neraka. Di dunia aku sudah sangat kesusahan, aku tak mau lebih susah lagi di akhirat kelak!" Rissa memohon, berharap ada petunjuk untuknya.


***


Carissa terlihat kacau. Ia hendak minum tapi tiba-tiba seorang lelaki muda yang usianya lebih muda satu tahun mengambil gelas itu, menyingkirkan dari hadapan Carissa.


"Kembalikan Yoga!" Pinta Carissa


"Kamu kenapa lagi Caris? Sam? Apa karena itu? Sudah tahu bakal patah hati masih saja nekat memelihara cinta padanya. Caris, kau tahu, Sam itu gak akan pernah jatuh cinta padamu. Buka matamu Caris. Kau hanya sedang menghancurkan hatimu saja. Ia menganggap kamu sebagia adiknya. Selamanya!" Yoga menegaskan.


"Biarkan! Biarkan aku hancur karena akupun tak bisa mengendalikan hatiku, Yoga." Carissa tersedu.

__ADS_1


"Ayo pulang, jangan biarkan dirimu jadi tontonan di sini." Yoga menggandeng tangan Carissa keluar dari bar itu. Ia tak peduli meski Carissa berusaha menghentakkan. Ia terus membawanya pergi.


__ADS_2