
"Bagaimana Rissa, dok? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Tari dengan penuh harap, namun melihat dokter Sam diam saja membuatnya kehilangan harapan. "Dok, saya dan mas Abas mendengar ada tiga mayat yang kemarin ditemukan, namun kami tak bisa melihat, mereka tak mengizinkan. tolong lakukan sesuatu agar Rissa ditemukan!"
Mendengar tiga mayat, Eka kembali dibisikkan. Jika mayat itu salah satunya adalah Rissa, berarti dokter Sam akan jadi duda Ia tergoda dah merasa mendapatkan kesempatan untuk memiliki dokter Sam. Hal yang kotor itupun diikutinya. Membayangkan kelak bisa mengganti posisi Rissa.
"Jangan. Itu tak boleh Rissa. Ia sudah janji, dua puluh ribu hari. Ya, dua puluh ribu hari akan berada di sisiku!" Dokter Sam kembali kacau. Ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.
Dua puluh ribu hari? Jadi Rissa berjanji akan berada di sisi dokter Sam selama itu? Eka terus menyimak. Sesekali ia memasang wajah sedih. Rasa cinta pada dokter Sam sudah membuat dirinya kehilangan akal sehat.
Eka merasa selama ini sudah sangat mengalah pada Rissa. Sejak kecil ia sering dijahili namun selalu sabar menghadapi teman sekamarnya itu hingga suatu hari Rissa menyadari kenakalannya dan janji pada Eka apa yang ia punya boleh menjadi milik Eka.
Termasuk Sam, kan?
Eka menunduk, menyembunyikan perasaan bahagianya sekaligus berterima kasih pada Rissa sambil terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lakukan tidaklah salah. Selama ini Eka selalu membawa dokter Sam dalam doa-doanya, mungkin ini adalah jawabannya. Awalnya Tuhan memberikan Sam untuk Rissa, namun karena Rissa pernah berjanji akan memberikan apa yang jadi miliknya untuk Eka sebagai penebus kenakalannya maka Rissa memberikan Sam pada Eka yang artinya sebenarnya Sam memang adalah jodohnya.
***
__ADS_1
Waktu yang telah ditentukan itu akhirnya datang juga. Sepuluh hari usai pengajuan tes DNA. Sedikit terlambat karena ada beberapa masalah. Hasilnya, dua orang hasilnya cocok, sementara satunya lagi berbeda. Disimpulkan yang satu orang ini bukan keluarga dari yang dua ini.
Sam terduduk lemas sambil berurai air mata. Begitu juga dengan Tari yang langsung histeris bahkan sampai hilang kesadarannya karena tak menyangka sebegini menyedihkan kisah hidup Rissa. Ia terlahir yatim piatu. Jatuh cinta pada orang yang salah. Lalu, saat menemukan cintanya malah diuji dengan sakit yang luar biasa. Begitu menikah, hanya sebentar, akhirnnya ia harus pergi dalan kondisi seperti ini.
"Dok, sabar ya." kata Eka yang langsung menyongsong dokter Sam. Ia memberikan air mineral namun diabaikan oleh dokter Sam yang masih syok.
***
Dokter Ines, Yoga dah Ash kembali ke tanah air untuk menghadiri pemakaman Rissa. Mereka mendapati lelaki itu benar-benar hancur. Menolak saat Rissa akan dimakamkan. Bahkan Sam menyatakan bahwa itu bukanlah Rissa.
"Sam ... sudah jelas itu Rissa. Semua titik di reruntuhan sudah ditelusuri namun tak ada Rissa. Hanya ada satu mayat tanpa Keluarga. Sudah bisa dipastikan itu Rissa. Kita tak bisa melakukan hal lebih, bahkan tes DNA sebab Rissa tak punya saudara sedarah. Jadi jangan seperti ini. Terimalah kenyataan, Sam!" Kata Yoga sambil memeluk saudaranya.
***
Usai acara pemakaman, Sam mengurung diri di kamar. Ia tak lagi peduli dengan dunia. Kalau Rissa mati, ia pun begitu. Hati dan jiwanya ikut bersama Rissa. Bahkan Sam tak peduli dengan perkataan ibu dan adik-adiknya.
__ADS_1
"Sam, bangunlah. Ada yang datang." Kata Yoga. "Ia bilang ini tentang Rissa."
Spontan Sam langsung bangun. Ia menuju ruang tamu. Di sana ada Eka. Gadis itu, datang membawa sesuatu dalam paper bag yang disodorkan pada Sam.
"Ini adalah barang-barang milik Rissa. Silakan dibuka." Kata Eka. Dokter Sam menurut. Ada album foto yang terlihat baru ditempel sebab lemnya belum sempurna mengering. "Itu foto-foto saya dan Rissa. Kami berdua begitu dekat. Sangat dekat. Tumbuh dan besar bersama karena selisih usia kami gak sampai setahun. Rissa itu anak yang ceria, selalu bersemangat dan gampang membuat orang senang padanya. Berbanding terbalik dengan saya. Meski kami saling menyayangi, tapi Rissa sering menjahili saya hingga dititik yang akhirnya ia menyadari bahwa Rissa salah. Rissa minta maaf dan janji nggak akan mengulang kembali kenakalannya. Ia pun ingin menebusnya dengan memberikan apa yang paling berharga miliknya.
Dok, saat kejadian itu, beberapa saat sebelum saya ke kantin, ia cerita sudah berjanji akan bersama dengan dokter selama dua puluh ribu hari. Tapi Rissa mengaku tak sanggup. Mungkin ini firasat, bahwa ia akan pergi. Makanya ia meminta saya untuk membantunya menggantikan menemani anda selama dua puluh ribu hari kedepan karena ia yakin sayalah yang bisa melakukannya karena kami begitu dekat." Kata Eka.
"Kamu bicara apa?" Dokter Sam ingin marah, ia tak suka mendengar pengakuan perempuan di hadapannya itu. Namun ada benarnya yang dikatakan Eka tentang ia yang begitu dekat dengan Rissa sebab Rissa pernah cerita. Dan tentang dua puluh ribu hari itu, kenapa Rissa harus meminta Eka? Ini janji Rissa padanya, harusnya Rissa yang memenuhi janji itu, bukan melimpahkan pada orang lain. Karena tak terima, dokter Sam menggeleng, ia pamit kembali ke kamar.
"Maaf atas kelancangan saya, dok. Maaf. Tapi saya terus terpikirkan kata-kata Rissa. Bahkan saya selalu bermimpi tentang hal yang sama agar saya memenuhi permintaannya. Sejak awal saya mengabaikan namun terus terbebani hingga saya akhirnya memutuskan mengatakan ini pada dokter. Ini semua demi Rissa, agar ia tenang. Saya tak punya pilihan lain, dok. Saya ...." Eka menangis. "Maaf. Andai waktu bisa diputar, biarlah saya saja yang pergi karena jujur, amanah ini terlalu berat."
"Maaf Ka, sebaiknya kamu pulang saja. Saya mau istirahat!" Dokter Sam berlalu ke kamarnya, meninggalkan Eka yang menangis di sofa.
Dokter Ines keluar setelah menguping pembicaraan Sam dan tamunya. Ia memberikan tissu sekaligus minum agar Eka tenang. Dokter Ines juga bingung dengan masalah ini. Kalau memang Rissa mengatakan hal tersebut berarti Rissa ingin Sam menikahi gadis di hadapannya.
__ADS_1
"Maafkan saya Tante, maaf kalau saya lancang. Saya terus dihantui beban amanah ini. Harusnya saya tak mau dititipi Rissa agar tak ikut terbawa dalam masalah ini." Ungkap Eka. "Sejak awal saya terus dimimpikan Rissa, saya takut dan merasa bersalah. Saya ...." Eka menangis.
"Sudahlah, jangan menangis. Saya akan suruh supir mengantar kamu. Sekarang pulanglah dulu, nanti kita bicara lagi setelah Sam tenang." Dokter Ines mengantar Eka sampai mobil.