Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Dibesuk Bu Upi


__ADS_3

"Satu lagi, apa kalian tidak ingin melanjutkan pendidikan?" tanya dokter Sam lagi.


Aku dan Tari saling pandang. Karena kami sama-sama punya masalah keuangan, berasal dari keluarga yang tidak mampu. Aku adalah anak yatim piatu yang bertanggung jawab atas diri sendiri, sementara Tari adalah tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab membiayai ibu dan yiga adiknya.


Melanjutkan pendidikan bukanlah bagian dari rencana hidup kami karena itu adalah kemustahilan meski sebenarnya kami sangat ingin. Siapa coba yang tak ingin belajar, punya pendidikan bisa jadi modal untuk masa depan juga.


"Mungkin Rissa. Ia selalu meraih tiga besar di kelasnya dahulu. Sedangkan aku hanya leringkat sepuluh besar, kadang malah tidak dapat rengking karena tujuanku sekolah adalah untuk mendapatkan ijazah agar bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik lagi yang gajinya lebih besar." kata Tari.


"Kuliah adalah sebuah kemustahilan untuk kami." jawabku.


"Ris, aku akan bertanggung jawab atas biaya kuliah kalian berdua. Ku lihat kalian punya peluang untuk kuliah lagi. Kalau mau punya penghasilan lebih besar tak ada salahnya untuk lanjut kuliah. Bagaimana?" tanya dokter Sam.


"Aku harus berpikir ulang." ujarku. "Apa anda keberatan dengan pendidikanku?"


"Tidak. Ini hanya agar kamu punya tambahan ilmu dan kegiatan saja. Nanti setelah kita menikah, aku tak akan mengizinkan kamu kembali ke pabrik." ujar dokter Sam.


"Kalau aku sih mau. Sangat ingin sekali. Tapi aku tak bisa egois karena ibu dan adik-adikku butuh kiriman dana." ungkap Tari.


"Saya akan tanggung biaya hidup keluarga mbak Tari. Dua kali lipat dari penghasilan bulanan mbak Tari. Jadi kalian bisa fokus kuliah. Bisa Nyambi cari pekerjaan kalau ingin mengisi waktu luang." tambah dokter Sam.


"Kalau begitu kami terima!" jawab aku dan Tari bersamaan. Kami tersenyum bahagia, seolah melihat masa depan yang lebih cerah lagi di depan sana.


"Ada lagi yang ingin disampaikan? Kalau tidak saya harus pamit karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan." kata dokter Sam.


Sepeninggalan Dokter Sam, aku dan Tari saling berpelukan. Kami tak menyangka akan mendapatkan banyak rezeki. Memang, rencana Allah jauh lebih indah dari apa yang sudah kita rancang.

__ADS_1


"Aku benar-benar berterima kasih, Ris. Berkat kamu akhirnya aku bisa dapat rezeki begutu banyak!" ungkap Tari.


"Aku juga tidak menyangka." ungkapku.


"Kita juga harus berterima kasih pada si Fian itu, sebab gara-gara ia memutuskan kamu akhirnya malah berjodoh dengan dokter Sam yang jauh sekali lebih baik dari dia." ungkap Tari.


Kami saling berceloteh, mengungkapkan isi hati yang merasa beruntung sebab bertemu dokter Sam. Tanpa kami sadari, dua pasang mata tengah mengawasi dari balik pintu dengan hati yang begitu geram.


Tawa kami berhenti saat melihat Bu Upi dan Mayang masuk ke ruangan tempat aku di rawat. Wajah kami berempat sama-sama tegang sebab sebenarnya sama-sama tak saling suka.


"Hei Ris, aku kembali!" kata Mayang, sambil tersenyum. ia membawa satu bungkus kecil buah berisi jeruk. "Ini aku belikan jeruk, rasanya manis-manis." Kata Mayang lagi.


Sementara Tari yang sempat melirik ke kantong berisi jeruk itu hanya membatin. Tak yakin kalau itu jeruk yang manis. Bentuknya saja sudah meragukan. Lagipula ia sanksi, apakah benar Mayang sebaik itu? Rasanya sangat mustahil. Mengingat selama ini gadis itu selalu memusuhiku meski sedang menjalin hubungan dengan abangnya.


"Kami datang ke sini sesuai dengan apa yang kukatakan kemarin." kata Mayang, membuka pembicaraan.


Ibu juga ingin minta maaf atas sikap ibu selama ini pada nak Rissa. Sebenarnya ibu begitu bukan karena benci tapi ibu ingin mendidik nak Rissa jadi seorang yang tangguh. Terbukti sekarang nak Rissa bisa melewatinya. Iya, kan?


Juga ibu ingin mengatakan bahwa ibu sudah merestui hubungan nak Rissa dengan putra ibu Fian. Kalian boleh menikah, tapi setelah Mayang ya." ungkap Bu Upi dengan suara terbata.


"Apa aku tak salah dengar?" tanya Tari secara spontan. Ia masih bingung, apakah ini mimpi atau nyata. Tapi saat ia mencubit lengannya terasa sakit, berarti ini nyata. Tapi kenapa? Tiba-tiba ia merasa ada yang tidak beres.


"Kenapa Tar? Kamu nggak suka kalau ibu merestui hubungan mas Fian dengan Rissa? Atau jangan-jangan kamu iri, ya?" ejek Mayang. "Sekarang nggak akan ada lagi yang menghalang-halangi hubungan Rissa dan mas Fian. Ibu juga sudah setuju kalau mereka menikah. Kamu senang kan Ros?"


"Tapi aku ...." belum selesai aku bicara, Tari sudah mencegat.

__ADS_1


"Jadi begini ya Bu Upi dan Mayang, sekarang sudah terlambat kalau ibu merestui hubungan mereka karena Rissa akan menikah dengan orang lain." ungkap Tari.


"Siapa?" Mayang pura-pura kaget.


"Namanya dokter Sam. Ia lelaki baik hati yang tampan, salih dan kaya raya. Rumah sakit ini miliknya. Bulan depan mereka akan menikah." kata Tari.


"Tapi bukannya Rissa mencintai mas Fian?" tanya Mayang.


"Itu dulu, waktu Rissa masih bodoh. Sekarang dia sudah menentukan pilihan pada dokter Sam. Keluarga dokter Sam juga sudah menemui Rissa dan mereka semua menerima Namira dengan tangan terbuka." Kata Tari. "Dan yang jelas, mereka jauh lebih baik dari ... Mantan!" Tari menegaskan.


"Tidak mungkin!" Mayang menyangkal meski ia sudah tahu semuanya.


"Terserah mau percaya atau tidak. Tapi begitulah kenyataannya. Keluarga dokter Sam juga sangat menyayangi Rissa, mereka sudah menganggap Rissa seperti putri sendiri. Bahkan, ibu dokter Sam sendiri yang menjaga dan merawat Rissa. Iya kan Ris?" ungkap Tari lagi.


"Ris, bukannya kamu dan mas Fian baru putus. Kok bisa begitu cepat menjalin hubungan dengan lelaki lain. Apalagi mau langsung nikah? Kamu nggak menjadikan dokter itu sebagai pelarian, kan? Sebenarnya kami nggak masalah Ris asal kamu mau kembali pada mas Fian sebab ia juga sangat menyayangi kamu." tambah Mayang. "Kita bisa perbaiki semuanya dari awal lagi.".


Aku diam, ia tak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Yang jelas, perasaan itu langsung memudar, bahkan perlahan-lahan hilang tak berbekas saat mas Fian menyatakan ketidak sanggupannya menjagaku sebab sakit yang aku derita. Ini sangat menyakitkan untukku.


Bukankah menyakitkan sekali ketika seseorang mencampakkan kamu hanya karena kamu punya kekurangan.. berarti mas Fian hanya bisa menerima kelebihanku.


"Pelarian? Ya nggak lah. Dokter Sam jauh lebih baik segala-galanya dari Fian. Justru Rissa beruntung sekali mendapatkan lelaki sebaik dokter Sam!" Tari menegaskan.


"Benarkah begitu, Ris?" Mayang masih mendesakku.


"Ya. Benar. Dokter Sam bukanlah pelarian. Aku benar-benar beruntung mendapatkannya. Aku mencintainya. Bahkan rasa cinta yang aku rasakan jauh lebih besar dibandingkan perasaan pada mas Fian kala itu. Tidak ada bandingannya!" kataku dengan sangat mantab sehingga membuat wajah Mayang dan ibunya pias. Sementara Tari tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Kalau ada yang lebih baik, kenapa juga harus menangisi sesuatu yang jelas-jelas tak benar-benar menghargai kita!


__ADS_2