Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Akal Busuk Eka!


__ADS_3

Malam semakin larut, Eka belum juga bisa memejamkan mata. Sementara bunda Mila yang menemani sudah terlelap sejak tadi. Sebenarnya Eka masih ingin memastikan untuk ketiga kalinya apa benar itu Rissa. Namun, di sebelah sudah ada yang menemani dan ia takut dicurigai. Bisa-bisa semuanya ketahuan.


Eka sendiri tak bisa membayangkan jika Rissa muncul dan mengatakan semuanya pada dokter Sam. Entah bagaimana nasibnya nanti. Apa dokter Sam akan tetap mau menikah dengannya? Membayangkan itu badannya kembali gemetaran. Juga orang-orang di sekitarnya. Mereka pasti lebih menenangkan Rissa dibandingkan dirinya.


"Kamu belum tidur, Ka?" Tiba-tiba terdengar suara dari sebelah.


Itu suara Rissa. Eka yang terkejut langsung bereaksi. Ia semakin gemetar dengan mata melotot. Bagaimana ini? Rissa ternyata tahu bahwa ialah yang ada di sebelah. Apa Rissa juga tahu tentang rencana pernikahan dirinya dan dokter Sam. Tidak, Rissa tak boleh tahu apalagi sampai berbicara pada semua orang.


Pelan, Eka bangkit dari tempat tidurnya. Ia berusaha berjalan sedemikian pelannya agar tak menimbulkan suara yang membuat orang-orang terbangun. Ia ingin memastikan bahwa yang bicara tadi adalah Rissa. Begitu Eka berhasil mengintip, ia mendapati Rissa masih terpejam di atas tempat tidurnya. Jadi siapa yang bicara tadi? Apakah Rissa mengigau atau justru ia yang salah dengar.


"Ya, aku salah dengar. Rissa jelas-jelas tertidur. Tak mungkin itu dia. Tapi ... Kenapa Rissa tertidur terus? Apa yang terjadi padanya? Ia sakit apa hingga harus dirawat di sini?" Eka mencoba menebak. Tapi tak ada jawaban yang bisa ditemukan olehnya. "Oke, semua akan baik-baik saja. Sebaiknya aku tidur agar besok pagi bisa segera keluar. Bahkan kalau bisa sebelum dokter Sam dan keluarganya datang agar mereka jangan sampai bertemu Rissa!" Kata Eka. Namun meski begitu tetap saja ia tak juga bisa memejamkan mata.


***


Pagi-pagi sekali, Eka meminta bunda Mila segera mengurus kepulangannya. Ia sudah tak tahan berlama-lama di sini, takut Rissa menyadari keberadaannya. Sayangnya, bunda Mila yang memang tak paham apa yang sebenarnya terjadi malah terus mempertanyakan sehingga membuat emosi Eka naik.


"Bunda itu bisa nggak sih enggak lelet begitu, jangan banyak tanya. Segera urus kepulanganku saja!" Eka membentak bunda Mila hingga menarik perhatian orang di sebelah.


Ibu ibu paruh baya yang menemani Rissa mengintip. Sepertinya ia penasaran dengan apa yang terjadi.


"Maaf ya kalau mengganggu. Suara kami pasti berisik. Anaknya ibu pasti terganggu." kata bunda Mila dengan raut wajah segan.


"Oh nggak apa-apa. Anak saya masih belum sadarkan diri. Dia masih dibawah pengaruh obat tidur." kata ibu tersebut.


"Memangnya dia sakit apa?" tanya Eka.

__ADS_1


"Mmmm, dia sedang hamil. Kandungannya sangat lemah." ujar ibu tersebut.


Hamil? Eka nyaris melonjak. Rissa hamil. Anaknya dokter Sam? Bagaimana ini? Sebenarnya ada banyak yang ingin ditanyakan oleh Eka pada ibu tersebut, termasuk kenapa Rissa bisa jadi anaknya, tapi ia takut bunda Mila curiga, makanya ia berusaha semaksimal mungkin menahan dirinya dari rasa ingin tahu.


"Ya Allah, kasihan sekali." bunda Mila hendak menengok ke sebelah, namun Eka dengan sigap melarang.


"Bunda sekarang urus administrasi aku saja!" kata Eka.


"Kita tunggu ibu kepala dulu ya. Katanya dokter Sam juga akan ke sini." kata bunda Mila. Membuat Eka semakin tak karuan.


***


Rissa hamil, kondisinya sekarang seperti itu. Bagaimana ini? Eka benar-benar merasa tak tenang. Ia sejujurnya kasihan pada Rissa namun egonya mengatakan kalau selama ini Rissa sudah mendapatkan semua yang ia inginkan, jadi tak ada salahnya kalau kali ini ia pun mendapatkan dokter Sam.


Lagi-lagi Eka bingung. Ia benar-benar tersiksa dengan semua ini.


Bayangan masa kecil mereka kembali muncul diingatan. Tentang Rissa yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Rissa yang selalu disayangi semua orang meski sikapnya tak semanis sikap Eka karena memang Rissa kadang suka usil.


Rissa adalah tuan putri yang dielu-elukan semua orang sementara ia adalah bayangan Rissa yang tak tampak meski ia selalu mengalah pada Rissa agar bisa terlihat. Namun sekalipun ia tak pernah terlihat.


***


Dokter Sam masih berdiri mematung di depan ruangan Eka. Ibunya Sudan duluan masuk, namun ia memilih diam. Barulah setelah ibunya kembali keluar untuk menjemput, Sam akhirnnya ikut masuk.


Ada yang aneh rasanya. Ia seolah merasa ajantungnya berdetak lebih kencang. Seolah ada seseorang yang amat ia cintai.

__ADS_1


Perasaan apa ini? Sam masih tak paham juga. Tak mungkin perasaan ini karena ia akan bertemu Eka sebab baginya perempuan itu bukanlah siapa-siapa.


Sementara itu, Eka sudah mempersiapkan dirinya untuk menyambut dokter Sam. Ia memaksakan diri berhias dan memakai wangi-wangian. Namun tetap saja yang diincar tak melirik sedikitpun.


"Sudahlah Bu, sebaiknya ibu dan dokter Sam pulang saja. Tak usah dipaksakan karena dokter Sam saja tak mau melihat saja. Hanya tubuhnya yang ada di sini, tapi hati dan pikirannya entah ada dimana." kata Eka dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca menahan air mata.


"Ka," dokter Ines mencoba menenangkan.


"Tak apa, Bu. Saya akan belajar menerima kalau dokter Sam tak mencintai saya. Dan saya akan minta maaf pada Rissa sebab tak bisa menjalankan amanahnya!" kata Eka lagi.


Tut Tut Tut. Dari sebelah terdengar suara monitor yang berbunyi. Saat ditidurkan, Rissa memang memakai alat untuk pendeteksi jantung. Suara itu memancing dokter Ines dan dokter Sam yang memang seorang tenaga medis. Mereka ingin menyibak tirai tersebut untuk tahu kondisi pasien disebelahnya namun Eka buru-buru melarang. Wajahnya pucat sebab takut ketahuan.


"Perempuan itu ... dia tak memakai hijab!" kata Eka.


"Kalau begitu saya saja." kata dokter Ines, ia hendak menyibak namun Eka yang panik terbawa emosi melarang dokter Ines.


"Saya bilang jangan ya jangan!" Eka membentak. Ia lupa diri sehingga membuat dokter Ines, dokter Sam dan bunda Mila tak bisa berkata-kata. "Oh maaf, maaf sekali Bu. Maaf. Saya tak bermaksud begitu. Saya hanya tak mau ibu melakukan kesalahan."


"Kesalahan apa?" tanya Sam. "Kami ini medis, memberi bantuan pada pasien adalah tugas kami!" kata Sam.


Percakapan mereka terhenti karena ibu ibu yang menemani Rissa meminta tolong sebab kondisi Rissa cukup darurat. Saat itu juga, Sam yang berada di samping langsung spontan menyibak tirai, ia yang hendak memberikan bantuan kaget mendapati pasien dihadapannya.


Sam tak bisa berkata-kata. Matanya langsung berkaca-kaca. Sementara tubuhnya bergetar melihat perempuan yang dicintainya berada di hadapan.


"Sayang!" panggil Sam.

__ADS_1


__ADS_2