
"Kenapa diam saja?" Rissa masih berusaha agar dokter Sam mau bicara. Tapi laki-laki itu kembali seperti semula. Seperti kulkas dua pintu yang begitu dingin. Hanya memeriksa kondisinya, lalu sibuk mencatat entah apa di samping tempat tidurnya. "Fiufff, bosan sekali. Ada orang tapi seperti sendiri!" Rissa kembali mengeluh.
"Hem," Tari hanya bisa berdehem. Ia tak tahu bagaimana cara menghadapi pasangan ini.
"Kalau tak mau bicara, kenapa masih di sini? Keluar saja." Rissa kesal, ia menarik selimutnya, berbaring membelakangi dokter Sam.
"Kenapa kamu bangun?" tanya dokter Sam. Pertanyaan yang muncul setelah diamnya usai kepergian Fian, lalu datang dokter yang memeriksa Rissa.
"Maksudnya? Kamu nggak suka aku bangun?" Rissa menatap bingung, ia hendak mempertanyakan lagi tapi dokter Sam keburu pergi. "Dia kenapa sih? Aku bangun dia nggak suka. Lalu kenapa nungguin aku bangun?" Tanya Rissa pada Tari.
"Entah, aku nggak ikut-ikutan." Kata Tari.
"Nggak bisa Tar, aku harus tahu alasannya."
"Ris, ya wajarlah dokter Sam begitu. Kamu bangun karena dibangunkan Fian, si parasit itu. Dia pasti cemburu karena itu!"
Rissa diam, menggaruk kepalanya yang memang agak gatal. Bagaimana ia tahu siapa yang membangunkannya. Dia bangun karena tubuhnya mau bangun, bukan karena dibangunkan Fian. Lagipula kenapa membiarkan Fian masuk ke sini, kalau sedang tak sadarkan diri, ia bisa apa.
***
Sam sudah menyatakan akan menikahi Rissa besok pagi. Ia sudah mempersiapkan semua, meski dadakan namun ia sudah berusaha semaksimal mungkin dibantu ibu dan adiknya. Sam sudah meminta Tari untuk mempersiapkan Rissa. Ia juga sudah memberitahu pihak panti sebagai orang yang sudah berjasa mengasuh Rissa sejak bayi. Meski hanya akad nikah dan diadakan di rumah sakit karena kondisi Rissa yang belum sehat, namun Sam berharap pernikahan mereka berkesan untuk calon istrinya tersebut.
"Masih ada lagi?" tanya ibunya Sam. Putranya hanya menggeleng. "Tapi ibu lihat kamu seperti memikirkan sesuatu." Kata ibunya.
Sam sebenarnya malu untuk menceritakan, tapi tetap saja mengganjal hatinya. Apakah benar yang dikatakan mantannya Rissa bahwa sebenarnya di alam bawah sadarnya Rissa masih mencintai laki-laki itu, tapi karena terluka karena diputuskan sepihak makanya ia membencinya.
__ADS_1
Kalau itu benar, berarti ia hanya pelarian?
Sam tersenyum sinis. Kesal juga. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur jatuh cinta ditambah ia punya beban untuk mengobati gadis itu sebagai bentuk permohonan maaf atas tragedi yang disebabkan ayahnya.
"Sam," dokter Ines membuyarkan lamunannya. "Kenapa? Apa ada yang membuatmu ragu? Katakanlah. Ibu bukan ibu yang bisa seperti ayahmu, menjadi tempat ternyaman untukmu bercerita. Tapi ibu belajar, Sam. Katakanlah."
Berat sebenarnya. Karena memang Sam sangat tertutup untuk urusan pribadinya. Dahulu ayahnya adalah tempat bercerita yang nyaman untuknya, namun karena perpisahan dengan ibunya dan ayahnya menikah lagi membuat Sam kecewa hingga ia menutup diri. Ia lebih suka menyimpan semuanya. Tapi akhirnya ia menceritakan semuanya juga. Dokter Ines hanya mengangguk -angguk sambil berusaha merangkai kata untuk mengobati gundah anaknya.
"Jadi kamu tak percaya pada Rissa?" Tanya ibunya.
"Aku hanya takut ia terpaksa menikah denganku." Kata dokter Sam.
"Terpaksa? Sepertinya tidak. Ia bukan gadis seperti yang kamu bayangkan. Meski baru mengenal tapi ibu bisa memahami sedikit karakter Rissa. Anak yang ekspresif, bisa mengungkapkan perasaannya. Suka ya suka, tidak ya tidak. Lagipula kalau kamu masih khawatir, kenapa tak menantang diri sendiri saja untuk menaklukkan hatinya? Atau jangan-jangan kamu tak percaya diri bisa membuatnya benar-benar jatuh cinta padamu?" tanya dokter Ines untuk mengumpan putranya
"Ibu?" Sam melihat tak suka
"Astagfirullah, ya tentu saja tak begitu. Aku akan membuatnya jatuh cinta tak hanya sekali, tapi berkali-kali agar ia tak menyesal menikah denganku!"
"Kalau begitu apa lagi masalahnya?"
Ibu dan anak itu saling tersenyum. Sam menatap lurus ke depan, membayangkan, esok, hari bersejarah untuknya dengan Rissa.
***
Rissa sudah dirias mengenakan gaun putih panjang. Meski sederhana namun auranya sebagai calon pengantin wanita keluar. Ia tambah anggun dan cantik. Di sana sudah ada Tari, Bu Yana dan mas Abas, ibu kepala panti, Eka dan beberapa pengasuh panti yang diundang oleh Sam.
__ADS_1
Tak berapa lama masuk dokter Sam mengenakan jas hitam, didampingi ibunya serta saudara-saudaranya, termasuk ibu tirinya, Max dan Carissa. Diikuti wali nikah dan dua orang saksi.
Sam sempat terpana memandang wajah Rissa yang dirias flawles, berbeda dari biasanya. Namun ia segera menundukkan pandangannya.
Setelah menyampaikan beberapa hal yang berhubungan dengan pernikahan ini, akad nikah pun segera berlangsung. Sam menjabat wali hakim sebagai pengganti sebab Rissa tak memiliki wali nasab.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rissa Arifna binti Muhammad Arif dengan mas kawin perhiasan seberat seratus gram dibayar tunai!" qabul dari dokter Sam.
"Bagaimana saksi?" Tanya wali nikah.
"Sah. Sah!" jawab dua saksi bersamaan.
Dua orang itu telah sah menjadi sepasang suami istri. Disambut doa-doa kebaikan dari yang hadir di pernikahan ini.
***
Sepasang mata yang mengintip itu buru-buru pergi sebelum ada yang melihatnya. Ia melewati lorong rumah sakit menuju seseorang di seberang jalan.
"Sudah sah. Mereka sudah nikah!" Kata Mayang, pada abangnya yang untuk pertama kalinya mau diajak kompak untuk memata-matai pernikahan Rissa dan dokter Sam yang diinformasikan oleh ibu kos Rissa saat berpapasan tadi pagi.
Semula Fian mengira itu hanya akal-akalan ibu kos saja untuk memanas-manasi dirinya. Tapi ternyata benar. Makanya Fian langsung lemas.
"Beruntung sekali si Rissa itu ya. Sudah mau mati tapi dapat suami tampan, kaya raya, terhormat, berpendidikan pula." Mayang menghayalkan andai nasib yang sama juga berpihak padanya. Tapi sayangnya sampai sekarang ia belum juga kunjung bertemu dengan pria yang sesuai dengan harapannya. Kalaupun ada yang mendekati pasti speknya di bawah dirinya. Kalau bukan tukang ojek, supir atau pelayan toko. Padahal Mayang sudah teramat lelah dengan takdir hidupnya. Ia juga ingin jadi orang kaya tanpa harus bekerja keras mengandalkan kemolekan tubuhnya sebagai sales minuman. Gaji tak seberapa, tapi sering disepelekan laki-laki hidung belang. Belum lagi harus dandan menor dan pakaian terbuka.
Sebisa Mayang sangat ingin kuliah lagi. Ia sempat merasa marah pada ibunya. Harusnya ia yang dikuliahkan ketimbang abangnya sebab ia jauh lebih punya keinginan. Tapi ibunya beranggapan anak perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh nanti tak akan bisa membantu perekonomian keluarga karena akan diboyong suaminya. Sementara untuk ukuran menantu, ibunya ingin punya menantu perempuan yang kuliahan agar bisa membantu anaknya bekerja kantoran untuk memperbaiki perekonomian keluarga mereka.
__ADS_1
"Andai aku yang kuliah, setidaknya aku bisa kenalan dengan mahasiswa. Dengan begitu aku akan punya calon suami yang bermasa depan cerah!" gerutu Mayang lagi.