
Sam akhirnnya membuka matanya setelah hampir dua puluh empat jam tertidur. Pengaruh obat bius telah hilang, namun ia masih belum bisa benar-benar pulih. Butuh waktu beberapa menit hingga kesadarannya benar-benar kembali. Di kamar itu sudah ada ibu dan dua adiknya; Yoga dan Ash tengah menunggui Sam.
"Ini ... bukannya ini di ....?" Sam melihat kesekekilingnya. Lalu ia sadar bahwa ada di Amerika, di rumah perkebunan milik ibunya. "Kenapa aku ada disini? Bukannya sudah ku katakan tak mau ikut. Rissa, mana Rissa? Mana istriku?" tanya Sam, ia berusaha bangkit dari kasur, melepas paksa infus di tangannya sehingga keluar darah, sakit, namun Sam menahannya.
"Sam, tenanglah dulu, kesadaranmu belum sepenuhnya kembali." kata ibunya.
"Aku sudah sadar, aku harus kembali ke Jakarta. Aku harus menjemput Rissa, kasihan ia sendiri. Rissa pasti kebingungan. Sudah berapa lama aku meninggalkan dirinya." kini Sam melirik jam tangannya, ia terkejut, hari sudah berganti, berarti sudah sehari ia pergi. "Ya Tuhan, bagaimana ini. Padahal aku sudah janji akan menjaganya!" Kata Sam . "Bu, aku harus pergi. Aku harus menjemput Rissa."
"Sam, dengarkan ibu. Kita bicara sebentar, setelah itu terserah kamu mau memutuskan apa, ibu akan selalu mendukung!" Kata dokter Ines. Ia menggenggam tangan anaknya, mengajak Sam duduk di sofa kamar itu, diikuti Yoga dan Ash.
"Ada apa? Aku buru-buru, Bu." kata Sam.
Dokter Ines tak sanggup mengatakan, makanya ia menyodorkan tablet Ash, dimana di sana sudah ada kopian berita dan juga video-video tentang kejadian yang menimpa rumah sakit dan pabrik mereka.
__ADS_1
"Apa ini?" Sam terbelalak. Ia tak berani membayangkan. Istrinya ada di sana, makanya ia buru-buru mengambil Hp, menghubungi nomor istrinya, namun tak aktif. Sam tak putus harapan, ia menghubungi ibu kepala panti untuk menanyakan Eka. Saat ditinggal, Rissa ditemani oleh Eka. Kalau ia bisa bicara dengan Eka maka Rissa pun pasti bersamanya.
[Apa maksud anda ibu kepala? Tolong jelaskan pada saya. Bagaimana mungkin Eka tak bersama istri saya. Tolong, saya ingin bicara dengannya.] Sam terlihat panik, namun sayangnya ia tak bisa berbicara dengan Eka karena ia masih berada di sekitar rumah sakit.
"Ya Tuhan, bagaimana ibu!" Sam benar-benar histeris. Istrinya tak ada berita. Tak ada yang tahu dimana Rissa berada saat ini.
"Sam. Nak, dengarkan ibu ... kami juga sudah mencari tahu keberadaan Rissa, namun sampai detik ini ia tak juga ditemukan. Terakhir, suster yang menjaganya menyatakan kalau ia sudah tak ada di kamarnya saat kebakaran baru berkobar, makanya perawat berani meninggalkan kamar Rissa. Tapi sampai sekarang, di pos tak juga ada Rissa. Tak ada tanda-tanda keberadaannya!" ucap Bu Ines dengan suara bergetar.
Sam diam, ia masih sibuk dengan pikirannya. Tubuhnya gemetar, takut membayangkan hal yang bukan-bukan. Meski ibunya mengatakan sudah menyuruh orang untuk mencari Rissa, namun Sam tak juga bisa tenang. Selagi Rissa belum bisa ditemukan ia tak akan pernah bisa tenang.
"Kata siapa kita tak melakukan usaha? Sam, kau harus tahu, dari awal kami tahu Rissa hilang, kami sudah mengerahkan orang untuk mencarinya. Bahkan hingga sekarang kami tak bisa istirahat karena memikirkan keselamatan istrimu. Jadi jangan egois. Kalau kamu kembali, maka kamu akan menjadi bulan-bulanan mereka. Yang mereka incar itu kamu dan Carissa, Sam. Paham tidak? Lagian apa kamu tak kasihan pada ibu yang sudah bersusah-susah membawa kita ke sini? Pikir baik-baik, Sam. Walau di sini pun kita tetap bergerak mencari Rissa." ucap Yoga.
"Aghhh, tapi tetap saja tak bisa!" Sam marah, ia berusaha menepis Yoga namun kini, karena Ash ikut memegangi abangnya, makanya Sam tak bisa berkutik.
__ADS_1
"Beri ia obat penenang!" perintah Yoga.
"Gila kalian. Kalau ada yang berani membuatku kembali tertidur maka aku bisa menuntut kalian semua melakukan mall praktek!" Sam menegaskan.
"Jadi kamu mau memenjarakan keluargamu sendiri? Sam, lihat ibu, ia sudah lama kehilangan kamu, setelah kamu membaik, malah sekarang ia harus kehilangan kamu lagi karena perempuan itu. Apa Rissa benar lebih penting dari ibu, Sam? Jawab!" Yoga marah, ia tak suka jika Sam mengabaikan ibu mereka.
"Ga, ini bukan masalah siapa yang lebih penting. Aku suaminya Rissa, aku bertanggung jawab menjaga istriku. Apalagi ia yatim piatu, tak punya siapa-siapa dan kondisinya sakit. Kau tak lupa kan, siapa yang menjadi penyebab ia sakit? Ayah kita Yoga!" Sam balas berteriak. "Lagipula kalau ada masalah, mari kita selesaikan. Bukan seperti ini, kabur. Ayah bunuh diri karena tak sanggup bertanggung jawab, kita mencekam perbuatannya yang pengecut, tapi lihat, kita pun kabur. Apa bedanya dengan ayah? Kita pun pengecut. Kalau kalian tak berani menghadapi, aku yang akan maju. Aku akan menghadapi semuanya!" Sam berkata dengan penuh percaya diri.
"Tidak, kamu tak akan kemana-mana Sam. Maafkan ibu!" Dokter Ines menyuntikkan kembali obat tidur ke lengan anaknya yang dipegangi oleh dua saudaranya hingga akhirnya Sam kehilangan kesadaran diri.
Lalu dokter Ines memerintahkan Yoga dan Ash untuk mengikat Sam di tempat tidur agar saat bangun ia tak bisa bangun.
Keputusan dokter iNes sudah bulat, ia tak mau membiarkan anaknya kembali karena ia takut terjadi sesuatu pada Sam. Seperti yang dikatakan Yoga, usai perceraian dirinya dan dokter Syahril, Sam sempat menutup diri dari siapapun. Ia benar-benar tak mau berkomunikasi karena kekecewaannya. Setelah peristiwa mantan suaminya bunuh diri, barulah Sam kembali bicara. Makanya, ia tak mau terjadi hal buruk lagi pada anaknya. Namun dokter Ines juga tak membiarkan Rissa sendiri. Ia masih menyuruh orang, bahkan menambah jumlahnya untuk mencari keberadaan Rissa. Bagaimana pun Rissa itu menantunya, ia tak mau hal buruk terjadi pada perempuan itu. Lagipula sebagai manusia biasa, Dokter Ines juga dibebani rasa bersalah, ia juga punya perasaan tak tega namun harus melindungi anaknya juga.
__ADS_1
"Sampai kapan kita menahan Sam, Bu?" tanya Yoga. Ia yang dari dulu selalu cemburu pada abangnya itu sejujurnya juga menyayangi Sam sebab bagaimanapun mereka saudara sedarah. Pasti ada ikatan batin.
"Entahlah. Ibu sudah menyuruh pengacara untuk mengurus semuanya. Semoga saja orang-orang itu tak lagi mengganggu keluarga kita, terutama kalian bertiga. Untuk sementara waktu ibu akan menyembunyikan paspor Sam agar ia tak bisa kembali. Kita sudah kehabisan obat bius, tak bisa juga membeli sembarangan. Tak ada cara lain selain menahannya agar tak kembali ke Jakarta." jawab dokter Ines.