
"Maafin aku Bu. Maaf. Aku benar-benar bodoh, menukar orang-orang yang menyayangiku dengan tulis dengan seseorang yang tidak punya hati. Aku benar-benar minta maaf Bu." Aku mulai terisak.
Janji-janji manis mas Fian selama ini sudah membutakanku. Mas Fian memang bukan lelaki yang punya banyak kelebihan sehingga membuat perempuan mudah tergila-gila. Bahkan ia tergolong biasa saja, tetapi aku sempat pada posisi yang benar-benar cinta mati padanya, tak peduli apa yang dikatakan oleh orang lain tentang mas Fian.
Aku bisa begitu menurut padanya karena mas Fian hadir di usiaku yang sedang labil serta penasaran dengan cinta pada lawan jenis. Masa pubertas membuatku buta. Mana yang baik dan benar. Yang ada di pikiranku hanyalah menikah dan hidup bahagia dengan mas Fian. Aku bahkan rela dimintai hasil pencariannya demi memenuhi kebutuhan mas Fian. segitu bucinnya aku padanya.
***
Aku dan Tari menuju rumah sakit, hari ini aku akan memulai perawatan, mulai mondok di rumah sakit untuk waktu yang belum bisa ditentukan. kami berdua sudah sama-sama membawa tas kain berisi pakaian beberapa hari ke depan.
Tetapi, baru beberapa jam di kamar rawat inap, aku lari dari ruang perawatan. Aku mengurungkan diri untuk pemeriksaan hari ini padahal dokter sudah menjadwalkan untuk operasi. Dalam benakku muncul ketakutan-ketakutan jika menjalani operasi. Aku takut operasinya gagal dan meninggal dunia. Padahal aku tidak punya siapapun. Lalu siapa yang akan mengurus jenazahku nanti, juga mendoakan ketika aku tiada. padahal amal yang tak akan pernah putus setelah kita meninggal hanya doa anak salih, anak jariyah, ilmu yang bermanfaat. Dan aku tak mempunyai tiga-tiganya. Berarti akhirnya akan masuk neraka? Tidak, aku tak mau!
Bayang-bayang kematian kini terasa menakutkan. Apa yang dipelajari saat SD soal orang-orang yang meninggal dunia kembali teringat. Meninggal itu tak hanya meninggal begitu saja, tapi ada pertanggung jawabannya juga.
"Ahhh, tidak. Aku tak mau mati!" Aku kembali berteriak, setelah ia sampai di rooftop.
"Hei Nona, kamu lagi. Bisa kan tidak berteriak-teriak di sini." kembali, dokter S. Pratama muncul di hadapanku.
"Anda, kapan datangnya?"
"Aku sedang tidur siang di sini."
"Iiih, anda itu aneh sekali. Tidur siang di sink, apa tidak kepanasan?"
"Kalau aku aneh, kamu juga aneh. Katanya tidak mau bunuh diri, lalu kenapa ke sini lagi? Sambil teriak-teriak lagi. Mengganggu ketenangan orang saja."
"Dokter, apa kau mau mendengarkan aku?"
"Mau curhat lagi?"
"Hm,"
"Baiklah." dokter muda itu duduk tak jauh dariku. "Bicaralah, aku tak punya waktu banyak untuk mendengarkan kamu!"
"Aku takut mati."
"Hah?"
"Ya dok, aku takut mati."
__ADS_1
"Kamu bilang takut mati, tapi kemarin itu dengan jumawanya ingin meloncat dari sini. Sebenarnya apa mau mu?"
"Kemarin itu aku khilaf. Tapi aku ingat apa yang sudah diajarkan oleh ibu panti padaku bahwa setelah meninggal dunia tidak langsung selesai semua masalah kita."
"Ya, aku juga pernah mengatakan itu."
"Lalu bagaimana ini? Aku sendiri dan selalu sendiri. Rasanya takut. Bagaimana kalau aku meninggal, lalu siapa yang akan mengubur jenazahku?"
"Orang-orang yang masih hidup akan mengubur."
"Tapi ... siapa yang akan berdoa untukku?"
Dokter muda itu diam. Ia menatapku sesaat, lalu membuang muka. "Aku tak akan membiarkan kamu meninggal."
"Kenapa?"
"Kau tak boleh mati dulu."
"Kenapa?"
"Ya karena aku bilang begitu."
"Aku akan berusaha agar kau sembuh. Bahkan aku akan berdoa semoga Tuhan menyembukanmu. Kau tak boleh sakit."
"Dok, kenapa anda begitu baik?"
Dokter itu tak bicara apapun. Ia hanya menatapku, lalu seperti sebelumnya, kembali membuang muka.
"Aku akan membuatmu bahagia!"
"Caranya?"
"Kau mau menikah denganku?"
Aku diam. Ia tak percaya dengan pendengarannya. Tapi semua itu terdengar sangat jelas, berarti bukan ilusi. Spontan aku tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya antara lucu, sedih dan sedikit marah. Lucu karena bisa-bisanya ia mengajakku untuk menikah. Aku yang biasa ia yang luar biasa. Sedih karena bisa-bisanya ia menjadikan aku yang sedang sekarat ini sebagai bahan lelucon dan marah juga kalau memang ia menjadikanku leluconnya.
"Anda sakit?" refleks aku memegang kening dokter tersebut dan cepat ditepis oleh pemuda itu. Dingin. Seperti es. Aku mundur beberapa langkah sebab kaget dengan reaksi nya. "Dokter sakit apa?"
"Aku serius dengan tawaranku tadi. Silakan dipikirkan, besok ke sini lagi untuk memberikan jawaban!" katanya dengan tegas. Lalu berlalu.
__ADS_1
***
Baru saja berbaring. Aku kembali bangkit saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Ada Tari, Eka, bunda-bunda di panti, juga Bu Yana dan putranya. Mereka semua hadir di sini untuk mensupport. Bahkan semua menawarkan diri untuk merawat, hanya saja aku memilih Tari sebab rasanya lebih nyaman dengan teman tetangga kamar. Ditambah ia ditugaskan oleh pabrik. jadi tak perlu terlalu sungkan.
"Baiklah, kalau kamu ingin ditemani mbak Tari, kalau begitu ibu dan yang lainnya pulang dulu. Besok sore, biar Eka yang menemani kamu, bergantian dengan Tari." ucap ibu kepala.
"Iya Bu. Terimakasih banyak." satu persatu para pengasuh panti berpamitan pulang. Mereka memeluk erat, berharap agar aku juga bersemangat. Setelah pengurus panti pamit pulang, giliran Bu Yana dan mas Abas yang pamit. Kini hanya tinggal aku dah Tari di kamar VVIP yang sudah disiapkan oleh perusahaan.
"Ada yang ingin kuceritakan." kataku.
"Apa?" kata Tari.
"Aku baru dilamar!"
"Apa?"
Aku menceritakan ulang kejadian yang dialami. Peristiwa ketika aku naik ke atas rooftop dan dilamar.
"Kamu sudah kenal dekat dengannya?" Tari mulai menyelidiki, ia memang masih parno kalau-kalau aku menemukan kekasih yang salah seperti mas Fian. Sejujurnya Tari kasihan padaku sebab dimanfaatkan betul oleh mas Fian dan keluarganya, mungkin karena aku terlalu bucin pada mas Fian.
"Baru tiga kali bertemu."
"Hanya tiga kali? Apa ia benar-benar dokter atau jangan-jangan cuma petugas kebersihan karena mainnya di rooftop."
"Dokter. Dia memakai jas putih."
"Siapa namanya?"
"Pratama. S Pratama. Begitu nama di papan namanya."
"Kamu belum berbincang banyak? Baru tahu tiba-tiba dilamar? Ya Tuhan, jangan-jangan ia hanya lelaki iseng yang mendekati kamu. Kalau begitu sekarang juga kita harus cari tahu tentang dokter tersebut."
Dengan sigap Tari membantu aku naik ke atas kursi roda, lalu mendorongnya ke meja informasi.
"Mau apa kita ke sini?"
"Memastikan apakah dokter Pratama itu benaran dokter atau hanya pria iseng yang gangguin karena kamu cantik. Sebenarnya aku sangat-sangat khawatir, Ris. Aku takut kalau Lelaki itu sama saja seperti si Fian. Kalau dugaanku benar, kali ini aku benar-benar akan menghalangi kalian."
Tari langsung melaksanakan apa yang sudah ia rencanakan. Mencari tahu sebanyak mungkin tentang dokter Pratama. Ia memulainya dengan mencari di daftar nama dan ketemu. Namanya Safril Pratama! Sesuai dengan inisial yang aku berikan.
__ADS_1