Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Orang-orang Yang Ingin Menemui Rissa


__ADS_3

Malam ini, Dokter Sam yang menjaga Rissa sebab mereka sudah sah sebagai suami istri. Sepasang pengantin baru itu tampak kikuk ditinggal berdua untuk pertama kalinya.


"Sayang," panggil dokter Sam, membuat Rissa tersenyum malu. Ini untuk pertama kalinya dokter muda yang kini telah resmi menjadi suaminya itu memanggil Rissa dengan panggilan sayang. Berbeda dengan saat bersama Fian, dahulu panggilan itu sudah biasa mereka sebut namun tetap saja, panggilan kali ini rasanya sangatlah berbeda. Lebih menyentuh hati Rissa. "Biarkan aku mendoakan kamu, mendoakan agar rumah tangga kita juga sakinah mawadah warahmah." Kata dokter Sam, ia lalu memegang ubun-ubun Rissa, membacakan doa yang memang telah dihafalkannya beberapa waktu lalu usai merencanakan pernikahan.


Air mata sepasang suami istri itu menetes saat meminta kepada Tuhan. Di hati Sam, terasa begitu syahdu namun juga sedih. Akhirnya sekarang ia menjadi seorang kepala keluarga namun sedih sebab istrinya sedang sakit yang cukup parah. Entah, apakah ia bisa membahagiakan perempuan itu nantinya.


Sementara Rissa, ia menangis haru tanpa memikirkan sakitnya. Begitu baiknya Tuhan padanya, padahal Rissa bukanlah seorang muslim yang taat namun lepas dari Fian ia mendapatkan suami sebaik Sam yang kriterianya seperti dambaan perempuan kebanyakan. Tampan, kata raya, pintar dan penuh perhatian.


"Mulai detik ini, akulah yang akan menjagamu. Kau tak perlu khawatir, kita sama-sama hadapi semuanya." Ujar Sam.


"Ya." kata Rissa, tersenyum dengan hati yang tenang. Namun tidak dengan suaminya yang masih bimbang.


"Tapi sayang, maaf, aku belum bisa melaksanakan kewajibanku sebagai suami di malam pertama kita. Sebaiknya kita fokus pada kesehatan kamu dulu ya." kata Sam lagi sambil mengusap pelan kepala Rissa.


Rissa tak masalah, ia sudah sangat bahagia mendapatkan suami seperti Sam. Malam ini, mereka tidur berdampingan di bed rumah sakit. Sam sengaja tak melepaskan tangan istrinya sebab ia takut terjadi sesuatu pada Rissa. Ia baru saja memilikinya dan tak ingin kehilangan.


***


"Ijinkan kami bertemu dengan Rissa," pinta Bu Upi dan Mayang pada dokter Sam, di depan pintu ruangan tempat Rissa di rawat. Sementara itu, Tari yang melarang berkacak pinggang agar dua orang yang selalu menyakiti Rissa itu tak lagi bertemu dengan sahabatnya. "Ini tentang anak saya, dokter. Putra saya di penjara, kami tak bisa mengeluarkannya karena tak punya uang." Bu Upi menjelaskan maksud kedatangannya.

__ADS_1


Sejak kemarin ia sudah berusaha mencari ana untuk ganti rugi kontrakan yang di rusak anaknya, namun belum juga membuahkan hasil. Malah Bu Upi kaget dengan berita bahwa Fian berhutang pada Sonya, perempuan yang dijodohkan pada anaknya. Dan lebih kaget lagi sebab uangnya digunakan untuk membayar informan bagi kasus Rissa.


"Enggak ada hubungannya dengan Rissa. Kalian berdua sebaiknya pergi saja dari sini dan jangan pernah berpikir untuk menemui Rissa lagi sebab hidup Rissa tak seperti dulu. Ia sudah menikah, sudah menjadi istri dokter Sam. Jadi menjauhlah!" ucap Tari. "Kalau nggak ingat anda lebih tua dari saya sudah saya usir anda!" Tambah Tari dengan penuh emosi.


Tari benar-benar tak habis pikir, kenapa setelah semua yang mereka berdua lakukan pada Rissa masih terpikir untuk mendatangi Rissa. Meminta bantuan pada gadis yang sudah mereka sakiti. Apa mereka benar-benar tak punya malu?


"Saya suaminya Rissa dan tak mengizinkan kalian bertemu istri saya lagi!" Kata dokter Sam.


"Dok, tunggu dulu!" Pinta Mayang, melihat dokter berwajah tampan dan pastinya punya masa depan cerah membuat Mayang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Kalau Rissa yang sakit-sakitan saja bisa mendapatkannya, harusnya ia yang sehat-sehat bisa lebih dong? "Dok, ada yang ingin saya bicarakan pada dokter, apa boleh saya minta waktu sebentar?" Pinta Mayang dengan penuh harap dokter Sam mau mendengarkan dirinya.


"Maaf, saya tidak punya waktu!" Kata dokter Sam, ia hendak berlalu, begitu juga Trai yang tertawa lebar mendengar penolakan yang didapat Mayang.


Semua orang diam, memandang Mayang dengan tatapan aneh. Dokter Sam, Tari dan Bu Upi. Bagaimana tidak aneh, tiba-tiba, dalam keadaan segenting ini, tak saling kenal dan tak ada komunikasi sebelumnya ada orang yang menyatakan perasaannya. Benar-benar aneh.


Hanya saja, Mayang melihat hanya ini satu-satunya peluang untuk menawarkan diri. Sebenarnya ia ingin bicara berdua, namun dokter Sam menolak makanya ia nekat menyatakan disaksikan ibunya dan Tari. Ia tak peduli tanggapan orang lain, ia hanya ingin dokter tampan itu tahu dan membalas perasaannya.


"Kamu gila ya?" Spontan kata Tari. "Benar-benar aneh. Dokter Sam itu suaminya Rissa!" Tari menegaskan.


"Nggak masalah, aku siap jadi yang kedua!" Ucap Mayang dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Tak ada Jawa dari dokter Sam, ia hanya geleng-geleng kepala lalu masuk ke ruangan Rissa. Sementara Tari, segera memanggil satpam untuk mengusir ibu dan anak itu.


"Kalau sakit, jangan kemana-mana. Berobat!" Kata Tari pada Mayang. "Bisa-bisanya kamu begitu. Memang nggak punya hati ya?" Tari ikut geleng-geleng kepala.


Ibu dan anak itu dibawa pergi oleh Satpam dari rumah sakit. Setelah itu Tari menyusul masuk ke dalam. Ia memang sengaja datang lagi untuk mengantar pakaian Rissa yang masih tersisa di kosan.


"Dok, tolong jangan ambil hati apa yang dikatakan Mayang, ya. Dia memang agak-agak ajaib." kata Tari, sembari memberikan kode.


"Enggak. Saya hanya terpikir, bagaimana Rissa selama ini. Melewati hari bersama orang-orang aneh seperti itu. Mereka pasti kalau melukai hati Rissa tidak main-main. Entah sesakit apa perasaannya selama ini." ungkap Sam.


"Semoga anda bisa jadi obat untuk Rissa." kata Tari lagi.


Dokter Sam hanya mengangguk. Ia pun berharap yang sama. Bisa jadi suami yang baik, menemani dan menjaga Rissa.


Karena beberapa kali Fian dan keluarganya mengganggu Rissa. Sam yang tak mau kenyamanan istrinya terganggu memutuskan memindahkan kamar Rissa di kamar rawat inap yang berada tak jauh dari mes. Sam ingin menemani Rissa lebih banyak waktu, sementara pekerjaannya masih banyak, makanya ia ingin menyelesaikan secepatnya, apalagi mereka akan terbang ke Singapura.


***


"Bodoh. Kamu itu, kenapa harus bicara seperti itu!" Bu Upi memukul kepala putrinya. Ia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya anaknya berbicara seperti itu, menawarkan diri pada suami orang. "Meski dia itu kaya, tapi tetap berpikir realistis Mayang ... jangan jadi perempuan tak tahu malu seperti itu. Aku benar-benar tak punya muka karena ulahmu. Entah apa dosaku punya anak tak ada yang beres satupun!" Bu Upi meratapi nasibnya.

__ADS_1


__ADS_2