Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Ke RS


__ADS_3

Aku sudah duduk rapi di kursi tunggu usai melakukan pendaftaran, menanti giliran pemeriksaan. Aku sengaja langsung datang ke rumah sakit pagi ini sebab ia ingin mengetahui secara cepat kondisi kesehatan saat ini. Sekaligus untuk mendapatkan jadwal operasi.


Sebenarnya, rencana kemarin hari ini berangkat bersama Tari. Ia memang mendapatkan tugas dari perusahaan untuk menemani aku berobat. Hal ini cukup aneh, tapi karena kami merasa diuntungkan dengan keputusan ini makanya kami senang-senang saja.


Tapi sayangnya, pagi ini adiknya mengabari bahwa ibunya sakit, makanya ia buru-buru pulang ke kampungnya. Tari janji besok paling lambat ia akan kembali.


"Apa aku akan mati secepat itu?" tiba-tiba seorang gadis perempuan yang usianya mungkin tak beda jauh dariku bicara pada sepasang suami istri yang menemaninya. Aku menebak mereka adalah orang tuanya.


"Tidak nak, kamu pasti akan baik-baik saja. Kamu harus kuat bertahan. Kami semua sangat menyayangi dan akan selalu mendukungmu. Kau tak sendirian. Kami akan selalu ada dua puluh empat jam bahkan lebih untukmu.


Selain kami berdua, kau juga punya keluarga besar yang menyayangi. Ada paman, bibi, Tante, om, juga para sepupu.


Teman-temanmu juga sangat perduli padamu. Mereka akan selalu setia mendoakan kesehatanmu.


Satu lagi, kau punya Alex juga. Pemuda itu sangat mencintaimu. Begitu ia tahu kau sakit, Alex langsung memutuskan terbang dari Amerika. Ia rela tidak melanjutkan kuliahnya di sana asal bisa menemanimu. Kurang apalagi, nak? Begitu banyak orang yang menyayangimu. Masa kau ingin menyerah begitu saja. Kau harus kuat, nak!" tutur ayahnya pada gadis itu.


Aku diam mendengarkan percakapan anak dan orang tuanya tersebut. Diam-diam, ada perasaan iri yang muncul di hati ini. Aku pun menderita sakit yang sama, kematian bisa kapanpun mendatangi. Tapi aku sendiri. Tak ada keluarga, apalagi orang yang mencintainya.


Ahhh, menyedihkan sekali!


Aku menepuk dada beberapa kali sambil menggumam. "Aku tak apa-apa, aku akan tetap berjuang untuk diriku sendiri. Biarkan saja tak ada yang menyayangiku, tapi aku harus kuat, aku menyayangi diriku sendiri. Tuhan menciptakan aku yang berharga ini!" aki menegaskan pada diri sendiri agar tak patah semangat.


Tetapi, meski begitu aku tetap merasa kecil hati. Makanya hanya bisa menundukkan wajah, berharap tak ada butiran bening dari netra ini yang keluar.


"Nona Rissa!" panggil perawat.


Aku segera masuk ke ruang pemeriksaan. Kembali ia bertemu dengan dokter Ines yang kemarin memberikan diagnosa.


"Bagaimana kabar anda nona?" Tanya dokter Ines dengan begitu ramah.


"Kurang baik, dok." jawabku.


"Hei, kenapa? Apa kau merasakan sakit? Atau ada keluhan lain?"


Dokter Ines memintaku berbaring agar bisa melakukan pemeriksaan. Sejauh ini, menurut dokter kondisiku cukup baik. Tetapi tetap saja kapanpun sakitnya bisa kambuh. Aku mendapatkan beberapa resep untuk meredakan nyeri jika mulai merasa sakit.


"Jadi kapan kita akan melakukan kemoterapi?" tanya dokter Ines.

__ADS_1


"Apa itu harus?" aku balik bertanya. "Maksud saya, apa tidak ada ada opsi lain? Saya takut rambut ini jadi rontok." aku menunjukkan rambut yang cukup tebal. Sehingga membuat doker Ines tersenyum.


"Aku sangat yakin kau akan tetap cantik meskipun tanpa rambut nantinya." kata dokter Ines. "Kau mengkhawatirkan lelaki kemarin? Ia kekasihmu, kan? Aku sangat yakin ia akan tetap mencintaimu meski kau tak berambut lagi."


"Anda salah dokter. Ia sudah memutuskan saya."


"Oh, maaf Rissa."


"Tidak apa." aku tersenyum. Setelah semua selesai, aku segera keluar. Berjalan gontai menjauh dari keramaian.


Rasanya sakit sekali di sini. Saat ini aku merasa masih sangat cantik, tetapi mas Fian sudah meninggalkanku. Bagaimana kalau aku sudah botak dan jelek nantinya, tak akan ada lagi yang menyukaiku.


Kembali aku merutuki nasib. Aku kembali memperbandingkan diri sendiri dengan perempuan tadi. Saat ia sendiri, perempuan itu mendapatkan banyak support dari orang-orang di sekitarnya.


Ahh, andai Tuhan memberi satu saja orang yang siap memberikan semangat untuknya, pasti rasanya tak seberat ini.


***


Aku memandang jauh ke depan. Melihat langit yang berwarna kuning. Silau sekali di mata. Tetapi aku tetap bertahan, seolah sedang menantangnya.


"Kau tak sedang ingin bunuh diri lagi, kan?" tiba-tiba lelaki memakai jas putih itu kembali berdiri di belakangku.


"Kamu sendiri kenapa ada disini lagi?"


aku diam, juga tak menyadari kenapa berada di rooftop lagi. Tepatnya, aku sedang gelisah, merasa kecil hati makanya terus melangkah hingga sampai ke sini.


"Aku cuma ingin menenangkan diri saja!"


"Di tempat seperti ini? Kau kira aku akan percaya?"


"Terserah kalau tidak percaya. Hei, anda tidak sedang berpikiran kalau saya sengaja datang ke sini untuk bertemu anda kan, dok?"


"Aku tak menuduh begitu. Tapi kalau kau berpikiran begitu, tidak masalah."


"Hei!"


Aku merasa sangat kesal. Sementara dokter muda itu tersenyum tipis. Senyum yang membuatku terlena untuk sesaat, tapi cepat-cepat ku tepis. Kenapa rasanya jadi aneh seperti ini. Jantung berdebar lebih kencang, apalagi saat ia tersenyum.

__ADS_1


"Ahhh, sadar Rissa ... sadar! Kau hanya orang biasa sementara ia adalah dokter!" kataku pada diri sendiri.


"Kau kenapa? Bicaralah, aku akan mendengarkan."


"Kenapa aku harus bicara pada anda?"


"Hm, kau hanya punya waktu sepuluh menit. Setelah itu silakan pergi dari rooftop ini!"


"Aku hanya iri saja."


"Iri?"


"Ya, saat pasien lain didampingi oleh keluarga, teman atau kekasihnya. Aku hanya datang sendiri. Tak ada yang menyemangatiku."


"Kenapa kau selalu berharap pada manusia?"


"Memang salah berharap pada manusia?"


"Kau hanya akan rugi! Sudah kukatakan, kan? Berharap pada Tuhan saja."


"Tapi kan ...."


"Tak ada tapi-tapian. Atau kau juga belum merelakan mantanmu itu?"


"Sudah!"


"Lalu?"


"Tidak ada. Ahhh, aku pergi saja. Aku sudah lelah, tidak mau berpikiran banyak." aku beranjak pergi. Baru beberapa langkah, lelaki itu kembali memanggil.


"Rissa ... apapun masalah hidupmu, kau tak perlu berharap pada manusia. Kau punya Tuhan. Kalau kau butuh dukungan, aku akan mendukungmu!"


"Anda?"


"Ya. Kenapa? Kau terharu?"


"Tidak!" aku berbalik, meninggalkan rooftop sambil tersenyum. Entah kenapa ada alunan musik yang begitu ceria terdengar di telinga ini, seperti orang yang mengalami falling in love.

__ADS_1


Baru sampai di lantai dasar, tiba-tiba langkah ini terhenti. Aku baru sadar, kenapa lelaki itu mau menjadi penyemangat dihidupku?


"Ahhh, aku mikirin apa sih? Ya jelas dia melakukannya karena aku ini adalah pasien di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia pasti melakukannya karena totalitas kerjanya. Kenapa aku jadi GR seperti ini!" aku menggelengkan kepala, lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju kosan.


__ADS_2