Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Istighfar Eka!


__ADS_3

"Astagfirullah ... Astagfirullah ... Astagfirullah." berulang kali Eka mengucapkan istighfar dalam hatinya. Kenapa ia jadi sebegitu bernafsu untuk mengetahui jawaban Rissa. Sebegitu terobsesinya ia pada dokter Sam hingga berharap Rissa menjawab setuju. Eka tak bisa menahan perasaannya, ia benar-benar merasa begitu jahat pada Rissa. Ini bukan dirinya yang biasanya. Dari dulu, ia adalah anak yang baik, yang selalu mengalah meski Rissa sering usil padanya sebab ia tahu Rissa sebenarnya pun sangat menyayangi dirinya. Tinggal dan tumbuh besar di panti asuhan membuat mereka seperti saudara kandung meski sebenarnya tak punya hubungan darah. "Ris, maaf ya. Sepertinya aku harus pulang. Aku sudah janji pada bunda nggak lama-lama nengok kamu karena masih ada urusan di panti." kata Eka tiba-tiba.


"Oh, begitu ya?" jawab Rissa.


"Iya. Aku pergi dulu!" buru-buru Eka pergi. Ia merasa harus segera meninggalkan Rissa agar tak terbawa emosi. Entah bagaimana jadinya kalau Eka akhirnnya terpancing dan menceritakan semuanya pada Rissa. Bisa-bisa ia jadi pengganggu di rumah tangga temannya. Meski belum tentu juga ada respon dari dokter Sam, tapi ini akan mengganggu pikiran Rissa. Padahal ia sedang sakit.


"Astagfirullah, aku nggak boleh sejahat itu. Aku nggak akan tega!" Eka menggelengkan kepalanya. Ia bertekad akan membunuh perasaannya demi menjaga hatinya Rissa.


***


Seorang perawat baru saja keluar dari ruang kamar Rissa. Kamar itu memang kamar berbeda dari kamar pasien lainnya. Ini dibuat khusus untuk keluarga dokter Syahril Pratama jika ada yang sakit. Dokter dan perawat pun tak sembarang masuk ke sini.


Sudah dua jam Rissa sendiri. Ia tak tahu harus melakukan apa sebab Sam belum juga kembali. Saat itu, tiba-tiba ia merasa kepalanya seperti ditusuk ribuan paku. Sakit sekali. Rissa berusaha untuk meminta bantuan, ketika ia meraih Hp, namun benda pipih itu malah jatuh ke lantai. Sementara tombol untuk memanggil perawat baru saja dipindahkan oleh perawat yang masuk tadi, awalnya ia akan memindahkan kembali ke posisi semula namun ternyata perawat itu lupa


"Aghhh sakit!" Rissa memegang kepalanya. "Sam ... kembalikan!" ia berteriak sekuat tenaga namun yang keluar hanya suara teramat pekan karena rasa sakit yang luar biasa. Sekuat mungkin Rissa berusaha menjangkau Hpnya, namun yang ada ia malah terjatuh ke lantai hingga tak sadarkan diri dengan selang infus ikut tertarik hingga membuat tangannya terluka dan terus mengeluarkan darah.

__ADS_1


***


Sam dan keluarganya kini berada di rumah besar ayahnya. Ada ia, dokter Ines, Yoga, Ash, ibu tirinya; Bu Amelia, Max, Carissa, Jimmy dan pamannya profesor Hamis yang dipercaya untuk membantu memberikan nasihat atas kasus yang menyerang pabrik keluarga mereka.


Baru saja mereka hendak bicara, tiba-tiba Jimmy berteriak. "Mereka juga datang ke sini. Mereka akan mengepung kita!" kata Jimmy sambil mengintip di balik jendela.


Di luar pagar setinggi dua meter ada banyak orang berkumpul di sana. Salah seorang satpam yang biasa menjaga langsung melaporkan kejadian di luar serta tuntutan mereka untuk bertemu dengan keluarga Pratama. Mereka meminta pertanggung jawaban atas kegagalan penelitian yang dilakukan dokter Syahril.


"Bagaimana ini, sekarang pun mereka ke sini, pabrik sudah dikepung, rumah pun juga!" ujar Carissa dengan wajah cemas.


"Lihat berita ini, lihat!" Jimmy menunjukkan layar ponselnya, rupanya ia membuka media sosial untuk melihat berita di daerah mereka dan betapa terkejutnya, ternyata demonstran itu tak hanya mengepung pabrik dan rumah mereka namun juga rumah sakit yang memang kepemilikannya oleh keluarga mereka. "Rumah sakit juga dikepung. Lalu bagaimana ini? Kita harus kemana? Apa kita harus terima nasib terkurung di sini selamanya." Jimmy mulai putus asa. "bagaimana dengan kuliahku? Aku tak mau di sini terus. Aku bisa stres!"


"Heh anak manja, kenapa yang kau pikirkan hanya dirimu saja. Kondisi sudah seperti ini masih saja egois. Kita sama-sama terkurung tapi bukan berarti kita harus putus asa seperti ini. Kita akan menemukan cara untuk keluar dari sini karena kita punya uang. Semua akan beres!" Jawab Max dengan entengnya. Sebenarnya ia bisa setenang ini karena yakin tak akan jadi incaran para demonstran itu sebab dirinya tak ada hubungan darah dengan dokter Syahril Pratama. Ia bisa ada disini karena ibunya menikah dengan pria itu. Max juga agak tenang karena ia memegang keuangan pabrik. Kalaupun terjadi hal buruk maka ia bisa kabur sendiri. Dengan uang milik pabrik maka bisa jadi jaminan untuknya melanjutkan hidup ke depan. Ia tak perlu bekerja susah payah seperti sekarang ini, hanya hidup santai sambil Bersenang-senang.


"Kalian tenanglah. Aku sudah menghubungi temanku, ia akan mengirim dua helikopter ke sini. Kita akan diantar ke bandara, agar bisa terbang secepatnya ke Amerika." Kata dokter Ines. "Oh ya, tolong kosongkan rooftop belakang agar helikopter bisa mendarat." Ungkap dokter Ines pada Bu Amelia.

__ADS_1


"Oh iya, baik." Bu Amelia menyuruh pelayan di rumah ini untuk mengosongkan rooftop.


"Bu, aku harus ke rumah sakit!" Kata Sam.


"Tidak sekarang Sam. Kamu lihat kondisi, kan?" jawab Dokter Ines.


"Tapi Rissa di sana, aku nggak akan membiarkan ia sendiri. Aku harus menemaninya!" Kata Sam. "Aku tak akan terbang ke Amerika. Nanti, dari bandara aku akan ke rumah sakit."


"Tidak Sam, aku tak mengizinkan kamu ke rumah sakit. Kamu itu yang paling diincar oleh mereka. Kalau mereka melihat kamu maka semuanya akan habis. Jangan membantah, tolong menurut Sam. Aku tak akan membiarkan anakku tinggal di sini sampai semua masalah ini reda." Kata dokter Ines dengan tegas.


Sam tetap saja pada pendiriannya sebab tak mungkin ia meninggalkan Rissa sendiri di rumah sakit. Perempuan itu istrinya dan ia sangat mencintai Rissa, ia tak akan mungkin meninggalkan Rissa. Lebih baik menghadapi demonstran dari pada membiarkan istrinya sendiri.


Sayangnya, dokter Ines sudah menyusun sebuah rencana agar putranya tetap pergi sebab Dokter Ines sangat menghawatirkan kondisi Sam. Ia yang paling dicari. Kalau ia dibiarkan di sini maka ia bisa jadi bulan-bulanan kemarahan demonstran.


Mengenai Rissa, ia masih sangat yakin kalau menantunya itu akan baik-baik saja di sini sebab tak banyak yang tahu tentang pernikahan Sam sebab belum sempat di publish. Masih dalam lingkup keluarga saja. Lagipula ia akan menyuruh orang untuk menemani dan menjaga Sam setelah mereka berada di Amerika. Yang terpenting sekarang memastikan Sam dan adik-adiknya aman.

__ADS_1


__ADS_2