Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Bangunlah Putri Tidur!


__ADS_3

Sam masuk ke ruangan tempat Rissa dirawat. Kamar terbesar di rumah sakit ini dengan fasilitas terbaiknya. Namun tetap saja tak akan bisa menggantikan rasa bersalah atas tindakan ayahnya.


Di sana ada Tari. Ia hendak pamit agar dokter muda tersebut bisa lebih leluasa berbicara dengan sahabatnya. Namun Sam melarang, meminta Tari untuk menemani dirinya dan Rissa.


"Aku hanya sebentar." kata Sam. Ia berjalan menuju sisi kanan ranjang Rissa. "Apa kabar nona muda? Kamu sedang bermimpi apa? Semoga mimpi yang indah ya? Jangan terlalu betah lama-lama tidur. Bangunlah. Aku ingin berbicara denganmu. Aku ingin melihatmu tersenyum, mendengar celotehanmu. Walaupun kita batu saling kenal, tapi rasanya aku sudah mengenali kamu sejak lama." kata Sam.


Lelaki berkas putih itu menarik nafasnya dalam-dalam. Ia merasa sesak yang luar biasa. Usai berbincang dengan Rissa, ia berbincang dengan Tari tentang rencananya yang ingin menikahi Rissa secepatnya agar ia bisa membawanya ke Singapura.


"Apakah ada seseorang yang bisa aku hubungi untuk membantu agar kami bisa menikah mengingat Rissa kemungkinan belum akan bangun dalam waktu dekat?" tanya Sam pada Tari.


Tari tampak berpikir sejenak. Yang ia tahu, sahabatnya itu yatim piatu. Ia dibesarkan di panti asuhan. Tak punya satupun saudara.


"Mungkin dokter bisa menghubungi panti tempat Rissa dibesarkan. Mereka pasti punya informasi tentang Rissa. Pada saya, Rissa tak terlalu banyak bercerita selain ia besar di panti asuhan, menghabiskan harinya hingga ia lulus SMA. Hanya itu saja." ungkap Tari.


"Oh begitu. Baiklah. Aku akan mencari tahu tentangnya kalau begitu." Sam pamit setelah mendapatkan alamat panti asuhan tempat Rissa dibesarkan.


***


Esoknya, ia datang ke panti itu bersama ibunya, dokter Ines. mereka menemui ibu kepala. Menjelaskan maksud dan tujuannya.


Ibu kepala sangat khawatir dengan kondisi Rissa saat ini, namun sedikit lega karena akhirnya salah satu anak asuhnya tersebut akhirnya menemukan calon pasangan hidup yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Mereka terlihat begitu lega.


"Rissa tak punya keluarga lain. Ia hanya sebatang kara " Bu kepala meminta salah satu ibu asuh untuk mengambilkan data-data tentang Rissa di ruang arsip. Butuh waktu sekitar tiga puluhan menit untuk menemukan map berisi data-data Rissa. Siapa yang mengantarkan, nama orang tuanya, alamat tempat tinggal lamanya. "Hanya ini." ibu kepala menyodorkan biodata tersebut pada Dokter Ines dan dokter Sam.


Sam yang melihat duluan. Setelah itu ibunya. Mereka tampak kecewa. Tanpa ada wali, bagaimana menikahi perempuan yang sedang tak sadarkan diri?


"Kami akan bantu melacak, barangkali keluarganya masih ada." kata ibu kepala. Saat mengantar kepergian dua tamunya yang agak kecewa karena kedatangan mereka tak membuahkan hasil.

__ADS_1


***


"Bagaimana ini, Bu?" tanya Sam, diperjalanan menuju rumah sakit.


"Sam, kamu jangan putus asa ya." pinta ibunya, sambil menatap iba anaknya yang terlihat pusing.


Sampai di rumah sakit, Sam menuju kamarnya di mes. Ia diikuti oleh ibunya. Sam begitu frustasi namun tak tahu harus melampiaskan seperti apa.


Tak ada jalan yang terlihat untuk menikahi perempuan pujaan hatinya, padahal ia harus segera membawanya ke Singapura.


"Bukannya tak ada Sam, hanya belum ada." ibunya menegaskan. "Lagipula ibu kepala sudah menjanjikan akan mencarikan informasi tentang Rissa. Kita tunggu saja dulu, siapa tahu ada keajaiban!"


Keajaiban? Ya, Sam butuh itu.


***


"Ayah, kenapa engkau harus mengakhiri hidupmu? lihatlah, betapa rumitnya hidupku sekarang. Aku tak tahu bagaimana cara menolong gadis itu " kata Sam. Ia memegang nisan ayahnya. Ada rasa iba juga. Entah bagaimana nasib ayahnya nanti. Memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang dilarang Tuhan. Bunuh diri, bukan menyelesaikan masalah, namun menjadi masalah yang lebih besar di akhirat nanti.


Tuhan, aku jarang mendoakan Ayah. Ku akui masih ada kecewa padanya. Tolong, ampuni ia.


Sam meletakkan bunga yang ia bawa. Mengusap kembali nisan ayahnya. Usai membaca doa, ia berlalu meninggalkan makam itu.


***


Sepasang mata menatap Sam dari kejauhan. Begitu dokter muda itu berada semakin dekat dengannya, lelaki itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Maxim, teman sekelasnya. Anak Tante Amelia, istri ayahnya. Menjadi saudara tirinya juga seperti adiknya Max, Carissa.


"Apa kabar, Sam? Sekembalinya dari luar negeri aku belum sempat menyapamu karena aku sangat sibuk sekali. Maaf ya brother. Ku harap kau tak marah!" ia mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Max? Untuk apa ke sini?" tanya Sam, dengan agak malas.


Sam dan Max tak terlalu dekat. Meski mereka sekelas waktu masih sekolah dasar. Justru Sam lebih dekat dengan Carissa. Sebab karakter Max berbeda dengan Sam. Ia tipe yang ambisius, keras kepala, sombong dan selalu merasa lebih pintar dari Sam. Max memang selalu menganggap Sam sebagai saingan sebab ibunya selalu membandingkan dirinya dengan Sam yang dikenal sebagai anak baik.


"Aku? Oh itu, aku ingin berkunjung ke makam ayah kita. Sama seperti kamu." kata Max, sambil menunjuk arah makan..Tentu saja ia berbohong sebab selama ini ia tak pernah peduli dengan ayah tirinya itu. Ia menyetujui ibunya menikah dengan ayah teman sekelasnya itu hanya untuk mendapatkan apa yang Sam punya. Max mengikuti Sam karena sebuah tujuan.


Sebagai anak dari seorang janda, yang ibunya dahulu adalah asisten ayahnya Sam, Max yang merasa jauh di atas Sam harus bersabar menjadi yang kedua. Dirinya yang punya karakter narsistik selalu merasa tersiksa diurutan kedua itu. ia selalu berharap suatu saat bisa menduduki posisi Sam, meski dengan pernikahan ibunya dan ayah Sam.


Namun ternyata, pernikahan itu tak terlalu mengubah hidupnya. Ia selalu dipandang sebagai kedua. Makanya Max selalu marah pada ibu dan adiknya. Ia selalu mempertanyakan kapan bisa menjadi seperti Sam. Obsesinya adalah menjadi seorang kepala rumah sakit. Sayangnya, sepeninggalan ayahnya, posisi itu malah jatuh pada Sam, bukan dirinya.


"Kalau begitu aku pergi dulu " kata Sam, yang hendak pergi.


"Tunggu Sam!" panggil Max. "Karena kita sudah bertemu di sini dan aku rasa ini bukan kebetulan belaka, maka sebaiknya kita bicara saja. Ada hal yang mengganggu pikiranku." kata Max.


"Apa?"


"Warisan."


"Maksudnya?"


"Warisan ayah. Aku ingin kita membahasnya."


"Warisan yang mana?"


"Rumah sakit."


"Kau tak berhak atas warisan apapun!" Sam menegaskan, ia geleng-geleng kepala, lalu berlalu meninggalkan Max yang berusaha mencegah namun Sam tak peduli. Ada banyak yang harus dipikirkan, ia tak mau ambil pusing tentang ini semua. Ia sebenarnya paham karakter Max, namun tak punya waktu meladeni. Mengenai warisan, rumah sakit itu bukan hanya milik ayahnya, tapi ada andil ibunya juga di sana makanya ialah yang memegang kepemimpinannya sekarang ini sesuai perintah ibunya yang tentunya sebelumnya sudah disepakati ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2