Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Genting


__ADS_3

"Hai, bagaimana harimu? Apa senang ketemu Tari? Apa saja yang kalian lakukan tadi? Kalian pasti Bersenang-senang, kan? Tapi kenapa istriku ini jadi diam sekarang?" Tanya Sam sambil merangkul Rissa dari belakang. Baru pulang, ia langsung mandi, kemudian menemui istrinya yang sedang melamun di depan televisi.


"Sayang, kenapa kita tak punya anak saja?" Rissa langsung membahas apa yang jadi beban pikirannya. "Aku ingin punya anak. Ayo kita punya anak!" Pinta Rissa.


"Sayang, nanti kita bahas ya." Sam ingin mengelak, tapi Rissa terus mengejarnya, tak memberi ruang pada Sam untuk mengalihkan pembicaraan.


"Kamu nggak percaya aku bisa bertahan? Kan sudah ku katakan kalau aku akan baik-baik saja. Aku sudah janji!"


"Ya tapi ...."


Karena terus didesak oleh Rissa dan Sam memang tak mau membuat istrinya kecewa ditambah istrinya menggunakan sebuah permintaan yang ia beri saat ulang tahun Rissa, pada akhirnya Sam melaksanakan apa yang jadi tugasnya sebagai suami. Nyanyian cinta itu disenandungkan. Dua insan yang telah halal di hadapan Allah itu pada akhirnya bersatu dan tak ada tabir lagi di antara mereka.


Keringat membasahi tubuh Rissa, Sam ingin menghapusnya namun tiba-tiba perempuan itu terbatuk. Di tangannya ada darah yang menempel dari mulut Rissa.


"Hei, apa ini? Kamu jatuh darah?" Sam benar-benar khawatir.


"Enggak apa-apa. Aku nggak apa-apa." Rissa berusaha kuat. Ia segera bangkit, pamit ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tiga puluh menit berlalu. Sam masih menunggu, tapi tak ada tanda-tanda Rissa akan keluar dari kamar mandi. Makanya ia mengetuk pintu. Tak ada Jawa. Sam membuka pelan pintu kamar mandi yang memang tak dikunci karena kamar mandi ada dalam kamar mereka dan di rumah ini hanya ada mereka berdua.


"Sayang, kamu kenapa?" Sam kaget mendapati istrinya sudah terjatuh di kamar mandi dengan badan berlumuran darah. Cepat-cepat ia membersihkan tubuh Rissa, lalu memakaikan pakaian. Kemudian Sam membawa Rissa menuju rumah sakit dengan mobilnya. Sepanjang jalan, pikiran Sam tak tenang.


Profesor Tao mengatakan akan ada banyak pantangan efek dari virus mematikan itu. Hanya saja, seperti apa efeknya mereka pun belum tahu.


***


"Semua akan baik-baik saja kalau kamu mengikuti apa yang kami katakan!" Kata dokter Ines pada Sam. "Lihatlah sekarang, kondisinya sangat mengerikan dan kalian kembali dari Singapura. Ibu tak tahu, setelah kamu menolak profesor Tao apakah ia akan tetap mau membantu, entah itu sekedar memberi masukan." Tambah dokter Ines. "Sam, kamu itu seorang dokter, apapun yang dikatakan Rissa, kamu tak harus mengikutinya. Kamu harusnya menasihati. Tapi malah nurut-nurut saja sama istri!"

__ADS_1


"Bu, maaf, nanti saja kita bicaranya. Aku benar-benar sedang kalud." Kata Sam.


"Lalu bagaimana?"


"Entahlah. Aku takut kehilangannya."


"Sam, kalau begitu lakukan apa yang dikatakan profesor Tao. Kamu ingin ia sembuh tapi kamu sendiri keras kepala. Apa kamu nggak kasihan padanya? Sam, kami tak akan melakukan penelitian secara sembarangan. Jadi tolong dengarkan!"


Sam diam saja, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Berharap agar Rissa segera bangun.


***


Pukul dua dini hari, Sam yang masih khusyuk berdoa di atas sajadah mendengar suara pelan Rissa. Ia bergegas menghampiri tempat tidur istrinya. Benar saja, istrinya sudah bangun. Tapi masih terlihat lemas usai kehilangan banyak darah. Padahal tadi ia sudah mendapatkan tugas kantong donor darah.


"Kamu sudah bangun, sayang?" tanya Sam, ia mengusap pelan kepala istrinya.


"Kita di rumah sakit dulu ya. Kamu tadi tak sadarkan diri. Sekarang istirahat dulu. Kalau kondisi kamu membaik, kita segera pulang."


***


Sam baru saja mendapatkan laporan dari ibunya bahwa pabrik mereka di demo. Orang-orang sudah tahu tentang percobaan ayahnya dan yang lebih menakutkan lagi, mereka meminta agar pabrik di tutup. Seluruh keluarga Pratama harus bertanggung jawab atas percobaan yang dilakukan. Dua keluarga korban yang sebelumnya sudah mendapatkan kompensasi besar juga ikut menuntut. Menurut dugaan Carissa, sepertinya dua keluarga itu mendapat bisikan dari orang lain sebab sebelumnya semuanya bisa menerima dengan lapang dada.


[Sam, bisa pulang segera. Kita harus mengadakan rapat!] Perintah dokter Ines sebelum menutup telepon.


[Maaf Bu, tapi aku tak bisa meninggalkan Rissa.] Kata Sam.


[Ibu akan menyuruh orang untuk menemani Rissa. Sekarang pulanglah dulu ] pinta dokter Ines lagi, lalu menutup panggilan dengan sulungnya.

__ADS_1


Sam masih pusing, bagaimana ia bisa pulang ke rumah ibunya kalau istrinya masih dalam kondisi lemah seperti ini. Namun ia juga khawatir sekaligus ingin tahu bagaimana keputusan yang akan diambil keluarga besarnya mengingat kondisi di luar benar-benar memanas.


"Assalamualaikum." Seseorang muncul dari balik pintu. Seorang perempuan muda seusia istrinya. Sam ingat, perempuan itu adalah teman Rissa di panti asuhan. Hanya saja ia tak ingat siapa namanya karena mereka benar-benar tak pernah berkomunikasi. "Boleh saya bertemu Rissa?"


"Kamu temannya di panti, kan?" Tanya Sam.


"Ya, saya Eka."


"Oh ya. Silakan masuk." Sam mengajak Eka masuk. Di sana ada Rissa yang masih berbaring. Melihat kedatangan teman masa kecilnya, Rissa langsung ceria. Ia terus berceloteh, berbincang dengan Eka. Sementara Sam gelisah, ia masih memantau layar Hpnya. Membaca pesan dari ibu dan adik-adiknya yang meminta agar ia segera pulang.


"Kenapa sayang?" Tanya Rissa. Rupanya ia menyadari sikap gelisah Sam. "Apa ada masalah?"


"Ya, sedikit." Sam berusaha tenang. Ia tak mau masalah ini jadi beban pikiran Rissa. Makanya ia berusaha bersikap santai. "Ibu memintaku pulang. Ada masalah dengan pabrik yang harus dibicarakan."


"Oh, kalau begitu kenapa tak pergi saja?" Tanya Rissa.


"Aku tak bisa meninggalkan kamu." Jawab Sam, ia memang khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu pada Rissa.


"Sayang, aku nggak akan apa-apa. Lagipula ada Eka di sini. Ya kan, Ka?" Kata Rissa.


"Oh ya. Kalau mau pergi, silakan. Biar Rissa saya yang temani " kata Eka.


"Sudah, sana pergi. Lagipula banyak gosip yang ingin kami bicarakan. Eka akan sungkan ngobrolin kalau ada kamu sayang." ujar Rissa sambil tertawa kecil.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi sebentar ya." Jawab Sam. Ia mencium kening istrinya, lalu berlalu cepat.


Rissa hanya tersenyum melihat suaminya. Sedangkan Eka, ia masih terkesima pada lelaki yang telah menjadi suami sahabatnya itu. Ini bukan pertama kalinya Eka melihat dokter Sam. Sebelumnya, jauh sebelum Rissa menjadi istri Sam, Eka sudah mengenali lelaki itu, hanya saja, Dokter Sam yang tak tahu siapa Eka sebab gadis itu seperti pengagum rahasianya. Ia selalu menyebut nama dokter Sam dalam doa-doanya, berharap mereka kembali bertemu, memang Tuhan menjabahnya, hanya saja diijabah dalam keadaan Sam akan menikah dengan Rissa.

__ADS_1


__ADS_2