Dokter Pelindung

Dokter Pelindung
Fian Berjuang Keras


__ADS_3

Gadis itu memilih menutup mulutnya. Ia tak ingin menanggapi apapun sebab berdebat dengan orang seperti Fian hanya akan membuang waktu saja, padahal saat ini ia ingin mendapatkan ketenangan. Ia ingin sendiri. Mencoba menelaah semua hal yang terjadi padanya sebab Rissa benar-benar syok dengan semua hal yang menimpanya.


" Ris ... kalau kamu mau memberiku kesempatan sekali saja, aku siap mendampingi kamu." ungkap Fian.


"Maksudnya?" Rissa melihat Fian dengan sinis. Ia benar-benar tak habis pikir, kenapa dulu bisa cinta mati pada laki-laki seperti ini. Yang tak tahu diri. Kalau dibilang khilaf kenapa lama sekali, sampai lima tahun.


"Ya, kita coba merajut kembali hubungan kita seperti dahulu."


"Kamu nggak lupa kan kalau aku sedang sakit? Aku tak bisa diandalkan lagi. Jadi jangan berharap bisa bersandar padaku seperti dahulu." tembak Rissa. Bukan tanpa sebab ia bicara seperti itu, Rissa memang terlambat menyadari bahwa selama ini Fian memanfaatkan dirinya.


"Ya, aku tahu Ris."


"Lalu kamu mau apa? kalau kamu memintaku untuk kembali, aku tak akan bisa menanggung biaya hidup kamu lagi karena justru sebaliknya, bisa jadi akulah yang akan bergantung pada kamu. Siap kamu?"


"Aku akan menjaga kamu, Ris. Selanjutnya kamu bisa mengandalkan aku!"


"Caranya? Bukannya kamu belum lulus, juga tidak punya pekerjaan. Kamu mau cari gara-gara? Memancing kemarahan ibumu lalu menjadikan aku kambing hitam."


"Ris ... tenang dulu. Percayalah, kali ini kamu akan diterima dengan penuh sukacita."


"Kok bisa?"


"Yap. Jadi begini, Ris. Kamu tahu, aku sudah menyelidiki tentang kasus yang menimpa kamu. Beberapa orang temanku yang sarjana hukum juga ikut membantu dan kami menemukan penemuan yang luar biasa.


Pabrik tempat kamu bekerja sudah melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan hal berbahaya pada buruhnya, yaitu kamu. Akibat kecerobohan mereka, kamu bisa mengajukan tuntutan. Ganti rugi minimal satu milliar..bayangkan Nam, satu milliar!" Fian bersorak gembira seolah di hadapannya ada setumpuk uang dengan jumlah yang begitu banyak.


"Oh, jadi kamu mau memperalat aku?" Rissa makin kesal pada Fian. Saat seperti ini bisa-bisanya ia memikirkan diri sendiri. Membayangkan jumlah uang yang begitu banyak untuk kepentingan dirinya sendiri.


"Bukan memperalat, Ris. Aku hanya ingin membantu kamu. Bayangkan, uang satu milliar itu jumlahnya banyak sekali. Bisa nggak berseri uang kamu, Ris. Cukup untuk biaya hidup kamu sampai ke anak cucu. Supaya nggak habis-habis, nanti kita belikan beberapa rumah petak, terus kita kontrakan supaya bisa dapat pemasukan. Bagaimana, Ris?" Matanya berbinar-binar menatap Rissa penuh harap, sementara yang ditatap memperlihatkan ekspresi eneg.

__ADS_1


"Jangan harap aku mau!" Rissa hendak bangkit dari duduknya, tapi Fian menghalangi.


"Ris, dengarkan dulu. Ini demi kebaikan kamu juga. Kan kamu yang bilang kalau kamu butuh biaya banyak untuk berobat. Kamu juga tak bisa lagi mengandalkan diri sendiri karena kondisi kesehatan kamu. Berarti hanya ini satu-satunya cara. Ajukan tuntutan sebesar satu milliar pada pabrik supaya kamu punya tabungan untuk masa depan. Bagaimana?"


Rissa masih menolak, meski sebenarnya ia sakit hati atas usul Fian, tapi ia enggan berdebat sebab Rissa merasa benar-benar lelah.


"Sudahlah, jangan ikuti aku lagi. Aku berterima kasih sekali atas ide yang kamu ajukan, tapi aku tidak tertarik mengajukan tuntutan apapun. Sekarang, biarkan aku sendiri menikmati hidupku. Tapi, kalau kamu tetap mencoba mendekati apalagi memaksakan kehendakmu, aku juga bisa melakukan sesuatu hal yang membuatmu jera." ancam Rissa, sambil berlalu dengan cepat meninggalkan Fian.


"Kenapa sih dia, sudah untung diberi masukan malah menghindar. Padahal ini demi kebaikan kami berdua!" Fian berceloteh sambil berlalu.


***


"Pokoknya izinkan aku menikah dengan Rissa!" seru Fian pada ibunya yang sedang duduk santai bersama Mayang.


"Kamu bicara apa? Kenapa tiba-tiba sekali?" ibunya berusaha tenang meski sebenarnya hatinya sudah geram mendengar nama perempuan itu lagi. "Fian, kau tahu kan penyakit apa yang menimpanya? Bukan hanya sekedar demam biasa atau sakit panu yang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa diobati. Ia sakit kanker, Fian. Sakitnya orang-orang kaya. Butuh biaya banyak untuk mengobati sakitnya. Mau dibayar pakai apa?"


"Bagaimana caranya? Ia kan hanya anak yatim piatu."


"Bu, Rissa bisa mendapatkan uang ganti rugi dari pabrik tempatnya bekerja minimal satu miliar. Bisa lebih juga. Bahkan ada yang menaksir sepuluh milliar pun bisa. untuk biaya berobatnya?"


"Satu milliar?" Mayang dan ibunya menganga.


"Sungguh beruntung nasibnya Rissa, setelah diputuskan mas Fian malah dapat dokter kaya raya. Sekarang juga dapat uang satu milliar." gumam Mayang.


"Tapi ia juga harus melewati hari yang amat sulit karena tak kunjung mendapatkan restu dari ibu!" pungkas Fian.


"Kata siapa? Fian, sekarang juga pergi temui Rissa dan ajak ia menikah. Ibu merestui hubungan kalian!" ujar Bu Upi


"Benarkah, Bu?" tanya Fian dan Mayang bersamaan.

__ADS_1


"Tentu saja. Bawa calon menantu ibu ke sini. Cepat! Ibu sudah tak sabar bertemu dengannya. Menantu kesayangan ibu. Rissa!" Bu Upi tersenyum lebar.


***


Langkah Rissa terhenti, hanya beberapa meter sebelum kosan karena ia melihat sosok dokter Sam berdiri di sana bersama Tari dan Abas.


"Ris!" panggil Tari. Sehingga membuat dokter Sam dan Abas yang tak menyadari kedatangannya langsung melihat ke arahnya. Dengan cepat Tari mengejar Rissa, memegang erat pergelangan tangannya agar ia tak pergi lagi. "Kamu dari mana saja? Dari tadi dokter Sam sudah menunggu di sini. Lagipula pergi kenapa tidak bilang-bilang aku. Tahu tidak betapa khawatirnya aku. Kalau dalam beberapa jam lagi kamu tidak kembali, sudah kulaporkan ke kantor polisi sebagai orang hilang." kelakar Tari untuk memecah kecanggungan di antara mereka. Tapi tak ada yang tertawa, semua sibuk memperhatikan gelagat Rissa yang menutup rapat mulutnya. "Ris, bicaralah!" pinta Tari.


"Aku mau istirahat." ujar Rissa, ia hendak berlalu, tapi langkahnya terhenti sebab panggilan dokter Sam.


"Ris, bisa kita bicara sebentar?" pinta lelaki itu.


"Saya lelah. Lagipula tak ada lagi yang harus kita bicarakan." kata Rissa.


"Ris," Tari memberikan isyarat pada Rissa agar memberikan kesempatan bicara pada dokter Sam. Ia sudah tahu semuanya sebab tadi dokter Sam sudah menjelaskan. Tari berada di pihak Dokter Sam, ia merasa lelaki itu tak bersalah.


"Saya tidak ingin melihat anda lagi!" kata Rissa.


"Ris!" Tari masih memaksakan agar Rissa mau bicara dengan dokter Sam, tapi gadis itu tak mendengarkan. Ia berlalu begitu saja menuju kamarnya. "Ahhh, gadis itu kenapa jadi seperti itu. Biasanya ia mau mendengarkan." gumam Tari.


"Tidak apa, ini semua salah saya." kata dokter Sam.


"Tidak. Anda tidak salah apa-apa, dok. Ini adalah bagian dari takdir. Justru kami sangat bersyukur karena dokter mau membantu pengobatan Rissa. Mungkin sekarang ia sedang bingung saja, makanya memilih menghindar.


Begini saja, sebaiknya dokter pulang, beri Rissa sedikit waktu. Nanti saya yang akan membujuknya. Kalau suasana hati Rissa sudah membaik, nanti saya kabari." usul Tari.


"Nah, begitu juga bagus." tambah Abas, yang sedari tadi hanya diam menyimak.


Dokter Sam mengangguk. Ia pamit pada Tari dan Ogi, sebelum pergi, dokter Sam sempat melihat ke arah atas. Berharap ada Rissa melihatnya dari sana. Tapi sosok yang dicarinya tidak terlihat.

__ADS_1


__ADS_2