Dream: Mengubah Nasib Dalam Sebuah Permainan

Dream: Mengubah Nasib Dalam Sebuah Permainan
lanjut


__ADS_3

Yang selama ini ada dipandangnya  adalah orang yang dia pilih tidak akan membocorkan informasi tentang ia yang akan menjadi ayah sementara dari Masrchel, namun ia tidak pernah memikirkan bahwa popularitasnya sendiri yang akan membuat semua itu akan mejadi memunkikan.


“Kenapa! Tidak percaya?” balas Aji sambil tersenyum.


 Luna sedikit diam tanda ia memang meragukan apa yang Aji katakana, “Bahkan aku berani bertaruh, jika aku keluar dari mobil ini bahkan anda tidak muncul  pasti Besok akan ada berita tentang seorang pria yang tidak dikenal keluar ke  dari mobil seorang artis!” lanjut AJi sambil menghela nafas.


“beri aku tiga bulan! Jangan menawar itu karena itu satu-satunya yang bisa kutawarkan saat ini!” balasnya menyerah.


“Setuju! Aku nantinya aku mengurus surat perjanjiannya dengan jeni!” balas Aji cepat setuju dengan apa yang Luna tawarkan.


“untuk bayaran, kau cukup jadi donatur tetap kepada panti, itu akan sudah cukup,  aku tidak terlalu peduli bagaimana kau melakukannya itu akan menjadi urusanmu.”


“Masih ada bayaran di dalamnya!” balas luna protes!


“tentu tidak ada yang gratis di dunia ini apalagi saat kau merusak kehidupanku yang sangat tenang!” balasnya dan tidak lagi bisa dibantah Luna.


Setelah berdebat cukup lama akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di rumahnya! Rumah itu terletak di kawasan elet di pusat kota.


“Aku salut anda sempat terpikirkan untuk menutupi kalau aku akan bertemu dengan anda selama tiga bulan kedepan!” ucap Aji sedikit bercanda karena luna sempat terpikirkan untuk bermain kucing-kucingan.


“sudah cobalah untuk untuk memanggilku luna daripada terus mengejekku seperti itu!” balas luna.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, itu adalah tipe rumah mewah namun itu tidak terlalu besar, karena itu memang tidak ditingal oleh banyak orang.


Di dalam rumah telah ditunggu Oleh marcel, terlihat ia sedikit bersembunyi di belakang bibik yang merawatnya.


“oi bocah! Kita bertemu lagi!” ucap AJi menyapa.


“kita bertemu lagi om pedo!” balasnya

__ADS_1


Ia terlihat tersenyum senang dan memberanikan diri untuk melawan takutnya sehingga mereka bermain bersama dengan AJi, “Panggil aku ayah bodoh!” balas Aji sedikit menyentil kepala Marchel.


“Kalau begitu sekarang ayah pedo!” ucapnya bersemangat.


“apa yang sebenarnya kau ajarkan kepadanya!” protes aji kepada Luna melihat marchel memangilnya pedopil.


“Celll” ucap luna sedikit cemberut melihat tingkah anaknya.


“Aku bukan pedo!” balas Aji dengan memasang wajah sedih.


“Tapi ayah itu orang jahat!”


Sebuah peryataan yang membuat mereka yang ada dalam ruangan tersebut terkejut karena marchel yang awalnya terlihat ceria kini memasang wajah serius, tandanya ia serius marah kepada AJi.


“Maaf! Mungkin aku memang orang jahat!”


Aji saat ini sedang berjongkok sejajar dengan badan Marchel yang masih pendek, “Aku ingin ayah!” entah perkataan aji yang menyentuh hati MArcel, tapi saat mengucapkan Maaf terlihat marchel tidak bisa menahan diri dan mulai menangis karena tidak tahu harus mengatakan apa.


Hari itu sudah menjelang sore sehingga ia harus menyiapkan makanan untuk aji, bersama dengan bibik yang berjaga dalam rumah ini mereka segera menyiapkan makanan terbaik yang ia tahu.


“Non! Aku tidak tahu anda bertemu dengan laki-laki itu di mana, tapi jika aku tidak mengurus anda dari kecil mungkin aku juga percaya ia adalah ayah dari marchel!” ucap bixci yang sedikit penasaran dengan sosok AJi.


“aku tidak bisa menjelaskannya karena itu terjadi begitu saja, sedangkan ia yang bisa membuat marchel seperti itu bahkan aku sendiri terkejut melihatnya!” balasnya masih berfokus pada masakannya.


Ia hanya berada di dapur sekitar setegah jam, namun saat ia sedang menyajikan makanan luna sudah melihat marchel bermain dengan leluasa  dengan aji, dalam hati luna senang karena melihat aji bisa bermain bersama dengan aji seperti itu!


“hi nak masakan ibu tidak burukan! Terakhir kali ia memasak untukku, aku hampir masuk rumah sakit dibuatnya!”


“emang ia! Tapi kata mama, ia sudah pintar masak dari kecilko, kok apa yang papa ceritakan tidak sama dengan yang mama bilang!”

__ADS_1


Marchel tiba-tiba curiga aji mengatakan hal seperti itu karena setagunya dari dulu ibunya sudah jago masak! “Itu bohong, ibumu itu dulu sangat manja! Jadi tentu ia tidak bisa masak,  aku bahkan masih mengingat rumahnya hampir kebakaran hanya karena ia ingin membuatkanku sebuah bekal masak!” balas enma santai.


“Sudah- sudah, kau ingin makan atau ingin mengejekku!” balas Luna yang terlihat marah dengan canda Aji.


Walaupun sebenarnya ia marah karena Aji terlalu banyak bicara sehingga mereka hampir ketahuaan. “Pa kalau dulu mama segalak ini ngak!” bisik marchell.


“Seingatku tidak, bahkan ia adalah perempuan paling lemah lembut yang aku kenal!” balas Aji dengan posenya yang berpura-pura mengigat masalalu yang memang tidak pernah ada!


“ingat ini nak, igatlah perkataan papa, kalau kau besar dan menjadi anak yang ganteng seperti ayah jangan pernah mencappakan hari seorang perempuan, karena itu bisa merubah sifatnya, seperti apa yang terjadi kepada ibumu saat ini!” lanjut aji dengan berusaha bijak di depan marchel.


“Kalian berdua tidak bisakah kalian makan dengan lebih tenang!” bentak Luna jengkel.


“Baik,”


“Baik,”


Saat mendapatkan bentakan terakhir mereka pun akhirnya nurut dan makan dengan tenang, hari itu menjadi hari yang singkat sekaligus menjadi hari terbaik yang pernah marcel rasakan karena bisa merasakan sosok seorang ayah dan ibu secara bersamaan.


Kesenangannya menjadi sesuatu yang sangat berat untuk ia rasakan sebagai seorang anak! Sehingga saat sudah waktunya aji untuk pergi ia terlihat sangat berat untuk berpisah dengan ayahnya.


“Minggu depan ayah datang lagi kok! Kamu istirahat dulu, aku tidak mau saat datang lagi kamu sudah berada di rumah sakit.”


Bujuk aji meminta marchel untuk segera beristirahat, sang ratu tolong bawah pangerang kita untuk beristirahat!” lanjutnya kepada Luna untuk membawa marchel untuk beristirahat.


Setelah mengatakannya luna saat itu memang segera pergi, dan meninggalkan Luna yang segera membawa Marchel ke dalam kamarnya.


“Ma, apa benar orang itu adalah ayahku?” Tanya marcel saat mereka masih berada di kamar.


“Kenapa, kok kamu tiba-tiba tidak percaya, bukankah tadi kamu sudah terlihat sangat nyaman kepadanya!”  luna sedikit gugup saat diTanya seperti ini.

__ADS_1


“Ma aku takut saat nyaman telah memiliki ayah, tapi ia kembali menghilang!” balasnya yang langsung membuat Luna terdiam.


Saat itu luna tidak lagi menjawab, ia hanya memberikan sebuah pelukan hangat kepada anaknya hingga mereka berdua tertidur dalam malam.


__ADS_2