Dream: Mengubah Nasib Dalam Sebuah Permainan

Dream: Mengubah Nasib Dalam Sebuah Permainan
tawaran bantuan jeni


__ADS_3

Ada beberapa hal yang membuat situasi Enma sebenarnya tidak terlalu buruk, misalkan jika ia terus bertarung dengan orang tua ini, stat gaft yang ia miliki akan mengalami peningkatan secara terus menerus.


[stat +0,3]


[stat +0,1]


[stat +1]


[stat +0,8]


[stat +0,2]


Di pertarungan ini, enma menemukan sebuah cara meningkatkan status Gaft miliknya, yaitu semakin berbahaya serangan yang bisa hindari, semakin  cepat perkembangan stat tersebut.


“untuk menjadi petarung bebas, jangan membuat kuda-kudamu menjadi kaku!”


“Pola serangan yang kau lakukan menjadi sangat jelas, karena terus berusaha mencari titik lemah!”


“Jangan berpikir! Ikuti instingmu, dalam pertarungan kau tidak perluh mengotrol instimmu, biarkan instingmu itu yang mengendalikanmu!”


Berbagai nasehat pertarungan, ia berikan kepada Enma, dan setiap nasehat yang ia berikan langsung memberikan pengaruh yang sangat besar kepada cara Enma dalam bertarung.


Melihat Enma yang sekarang benar-benar membuatnya seperti melihat dirinya di masa lalu,  dulunya ia yang terkenal akan kemampuannya membunuh iblis, bahkan di masa puncaknya ia memiliki julukan sebagai demon slayer.


Ia hidup di jaman perang besar melawan para iblis sedang berada dalam titik tertingginya, sehingga semua pengalaman bertarung yang ia miliki, berasal dari pengalamannya dalam medan perang.


“Paman aku tahu kau kuat, tapi jujur kebiasaanmu itu yang banyak bicara sungguh sangat menjengkelkan!” balas Enma yang masih berada dalam posisi tertekan.

__ADS_1


Ia tidak tahu sudah berapa lama ia bertarung dengan pria tua ini, yang jelas selama pertarungan ia sudah berkembang banyak, awalnya ia bingung harus melakukan atau mengambil senjata apa, tapi setelah ia mendapatkan pelatihan seperti ini membuatnya merasa job apapun yang ia pilih pasti akan sama saja!


Semakin lama mereka bertarung, enma sendiri semakin paham tentang kisah dari orang ini, yang ternyata masih sama dengan apa yang berada di deskripsi permainan yang telah ia mainkan.


“aku berterima kasih, karena telah melatihku, tapi aku akan memperjelas, aku sama sekali tidak berniat untuk mengikuti jejak apa yang telah kau ambil paman” lanjut Enma.


Ia tidak ingin orang tua ini terlalu berharap, apalagi berharap ia nantinya akan menjadi penerusnya atau sebagainya, apa yang terjadi saat ini mereka beradu mungkin membuat Enma melupakan kalau saat ini ia berada dalam sebuah permain dan mulai menganggap kalau orang yang ada di depannya adalah mahluk hidup, bukan npc dalam sebuah permainan.


“Aku bilang jangan terlalu banyak berpikir, Fokus saja untuk terus bisa memberikan luka kepadaku!” ucapnya yang tiba-tiba sudah berada di depan enma sambil melayangkan sebuah tendangan yang menargetkan kepala.


Mereka sudah cukup lama bertarung, tapi karena lawannya tidak pernah menggunakan skill, membuat saat orang itu menggunakan skillnya yang  sejenis dengan skill [blind] membuat Enma saat itu benar benar tidak siap!


Tendangan itu mengenai kepalanya dengan telak, dan membuatnya terlempar karena kekuatannya yang kuat, serangan itu hampir membunuhnya untuk saat melihat bar HPnya teryata masih tersisah satu poin.


“Aku benar-benar membencimu pak tua!” ucapnya dengan nada sangat jengkel.


selama mereka bertarung, belum ada Potion yang keluar, karena baik itu kalau Hp atau Enma yang mulai kelelahan, yang mereka lakukan tinggal beristirahat.


Itu sebenarnya menjadi permintaan dari Enma, untuk memberikannya waktu untuk terus mengingat dan menerima dirinya sendiri untuk memperbaiki setiap pertarungan yang dia lakukan.


Tapi sekarang sudah berbeda menurutnya sebagai orang yang berpengalam walaupun ia tidak memiliki kebiasaan seperti itu dalam sebuah pertarungan.  Apa yang Enma lakukan sudah sangat cukup, sehingga yang Enma lakukan saat ini hanya perlu menguasai apa yang telah ia ketahui untuk menjadi yang terbaik.


“Ingat ini apapun senjata yang kau pilih, dasar dari sebuah pertarungan harus menjadi terbaik, karena itu menentukan bagaimana pondasi untuk menjadi master yang sesungguhnya.”


Setelah mengatakan itu terlihat ekspresi dari orang tua itu menjadi sangat berbeda, seketika itu, juga semua senjata yang awalnya terlihat hanya sebuah senjata kayu, kini telah berubah menjadi senjata yang sesungguhnya.


“Sekarang pilih senjata yang akan kau gunakan, karena untuk selanjutnya aku akan serius, kau sudah sangat lama menggunakan setiap senjata yang ada disini dan melihat bagaimana cara menggunakannya, dan seperti yang kau bilang untuk tidak mengikuti jalan yang telah aku lalui jadi sekarang pilihlah senjata yang menurutmu bisa melawan sebuah senjata disini menggunakan kemampuanmu yang sekarang!” lanjutnya.

__ADS_1


Mereka saat ini sudah berada di puncak dari stage 3, disini bagaimana cara Enma bertahan akan menentukan apakah ia akan lulus dari ujian yang dari sang demon hunter dari masa lampau.


Enma terlihat berpikir untuk sesaat, awalnya ia berpikir untuk menggunakan Perisai, namun setelah ia berpikir, melihat dari tingkah dari kakek tua ini, tentu ia pasti akan sangat kecewa jika nantinya enma memang akan melawannya menggunakan perisai.


Sehingga setelah berpikir sesaat ia akhirnya memutuskan untuk menggunakan satu buah pedang satu tangan dengan panjang satu setengah meter, dan ia juga mengambil satu buah pedang pendek atau pelatih, yang akan digunakan di masing-masing satu tangannya.


Tangan kirinya yang juga merupakan tangan terkuatnya akan menggunakan pedang, dan tangannya akan menggunakan belati , dan memang benar melihat senjata Pilihan dari Enma orang tua itu terlihat tersenyum dan menurutnya apa yang dia pilih sudah sangat bagus dan sangat sesuai dengan gaya bertarung yang Enma miliki.


“maaf menunggu, mari Mulai....” ucapnya dengan sangat percaya diri.


Ia sudah berdiri dengan senjata dan siapa melawan seorang kakek tua dengan segala gaya bertarungnya yang sangat aneh!


. . . . . . .


“Ini baru hari pertamaku bermain, tingkat kesulitan yang aku hadapi sudah sesusah ini!” gumam Aji mengeluh setelah ia keluar dari permainan.


saat itu ia keluar karena di berikan waktu istirahat oleh sang kakek untuk memulihkan tenaganya yang sudah terkuras habis.


Karena ia masih berada di rumah sakit, ia masih memiliki batas waktu untuk bermain, karena jika sampai ia bermain terlalu lama ia bisa saja akan mendapatkan larangan bermain dari dokter rumah sakit.


“Sepertinya hari pertama yang kurang lancarnya!” ucap Jeni yang baru masuk ke dalam ruangan.


Ini adalah jadwal pemeriksaan kesehatan Aji, “seperti yang kau lihat!” balas Aji santai.


Jeni walaupun pada awalnya tidak menyukai sikap Aji yang seperti ini, entah itu sudah terbiasa atau karena tidak bisa melakukan apa-apa masalah ini membuatnya terlihat tidak lagi mempermasalahkan sikapnya yang seperti itu.


“Perlu bantuan! Begini-begini aku salah satu top global dalam Another Word!”

__ADS_1


Jeni ingin sedikit menggoda, dengan berharap ia sedikit mempermainkan Aji, dengan melihat Aji yang sedang kesusahan tentu ia ingin melihat Aji akan memohon bantuanya untuk bisa memainkan another word dengan lebih baik.


__ADS_2