Dream: Mengubah Nasib Dalam Sebuah Permainan

Dream: Mengubah Nasib Dalam Sebuah Permainan
stage 3 selesai


__ADS_3

Semuanya menjadi sangat kacau, beberapa hal Coba enma lakukan namun semuanya menjadi sia-sia, karena ia tidak tahu bagaimana membuat instingnya menjadi lebih berkembang. Membuatnya menjadi lebih kacau sebelum ia bertarung serius Seperti ini.


“sekarang apa mengerti dari kekuranganmu,,,” ucap sang kakek yang menghentikan serangannya.


“jujur aku tidak mengerti, yang aku tahu kau sama sekali tidak memiliki ritme dalam bertarung,” balas Enma ragu.


“Begini kemampuan utamamu adalah bisa mengerti pergerakan lawan dengan cepat, mungkin hanya dengan satu kali lihat saja kau bisa tahu apa yang akan lawan lakukan, beberapa orang memiliki kemampuan seperti itu, melihat dari jawabanmu tadi sepertinya kau melihatnya dengan cara melihat ritme lawan,” bagi kakek tua ini mengerti apa yang menjadi masalah dari Dari enma.


Menurutnya enma adalah seorang jenius yang terlahir dengan bakat yang hebat, namun orang-orang seperti ini, memiliki beberapa masalahnya tersendiri, misalkan saja enma, ia biasa melihat seseorang dengan ritme bertarung yang disusun menjadi sangat teratur.


Awalnya kakek tua itu sudah memberikan pelatihan, kepada enma untuk membuatnya memiliki pergerakan yang lebih baik, namun karena sudah biasa melihat pergerakannya, ia terbiasa menyusung pergerakan sang kakek.


Misalkan setelah ia melakukan tebasan vertikal, enma akan melakukan beberapa tebakan sesuai dengan apa yang ada di kepalanya. Itu terlihat sangat hebat namun selama ini yang enma temui hanya petarung biasa bukan seorang ahli yang sesungguhnya.


Untuk menebak pergerakan seorang ahli seperti kakek ini, membutuhkan 100 kemungkinan untuk melakukannya, sehingga dengan tubuh orang biasa sepertinya semua itu hampir tidak mungkin untuk dilakukan.


“Menurutmu kenapa aku terus menuntutmu untuk mengikuti insting yang ada dalam dirimu dalam bertarung seperti ini, daripada menggunakan kemampuan mu itu yang bisa membaca pergerakan lawan!”


Ia bisa melihat kebingungan dari Enma sehingga ia kembali meletakan senjata yang dipegangnya saat itu, dan memutuskan untuk mengajak Enma berbicara, “Jujur tidak!” balas enma.


“menurutmu apa aku benar saat mengatakan kalau dasar dasar ilmu dalam menggunakan senjata sangat penting? Kau bisa menjawab sesuai dengan apa yang ada di kepalamu!” lanjutnya kini membuat pertanyaan yang sedikit berbeda.


“menurutku dasar-dasar ilmu senjata itu memang penting, tapi di dunia ini ada sebuah skil yang membuatnya kita tidak perlu membuat ekstra tenaga untuk mempelajarinya, lagian di dunia ini juga ada penyihir yang bisa saja membuat semua apa yang dipelajari menjadi kadang tidak berarti.” Balas enma dengan jujur.


Enma sangat menghormati orang tua ini, sehingga ia sangat jujur menjelaskan apa yang ada di kepalanya, “T....”


Baru saja orang tua itu ingin menjelaskan sesuatu kepada Enma, tiba-tiba terlihat ia mendapatkan pencerahan dari omongannya sendiri, “Paman aku sudah mengerti, Mari lanjutkan, aku jamin sekarang aku akan memuaskanmu!” potong Enma yang terlihat bersemangat.


Sang demon hunter tidak mengatakan apa-apa, ia hanya terlihat tersenyum pertanda ia juga cukup senang jika Enma sudah menemukan apa yang dia cari.


“Kali ini aku yang akan memulai!” ucap Enma terlihat percaya  diri.

__ADS_1


“Lakukan sesuai dengan apa yang kau inginkan!”


Setelah mendapatkan persetujuan, enma segera memulai dengan tebasan horizontal pedang  yang ada di  tangan kirinya, tapi itu dengan mudah di tangkis dengan perisai, tentu itu bukan akhir dari serangannya.


Demon hunter tentu tidak ingin membiarkan ia terus mendapatkan serangan, dengan menggunakan tombak yang berada tidak tangan satunya ia sudah siap memotong serangan Enma yang selanjutnya.


Tapi ia malah  terlihat terkejut dengan apa yang dilihatnya,  terlihat Enma sama sekali tidak berniat untuk menangkis tusukan tombak itu, ia malah menerjang maju, membuat dirinya tertusuk.


“Tertangkap bukan,” menghiraukan tombak yang sedang menancap ke tubuhnya, ia segera menangkap tangan dari Demon hunter dan dengan menggunakan pisau yang masih dipegang untuk segera melukai tangan dari hunter yang sudah ia kunci.


Setelah ia memberikan luka! ia segera mundur, dan meminum Potion untuk segera menyembuhkan luka parah yang dialami.


Sang demon hunter terdiam dengan aksi dari Enma yang seperti ini, “Tenang saja! Itu hanya pembuktian kalau aku bisa mendaratkan luka kepadamu, selanjutnya aku akan membuatmu puas saat aku berada dalam posisi bertahan.”


Sebelum sang demon hunter berbicara ia terlebih dahulu menjelaskan alasannya bergerak seperti itu, “Itu membuatku lega!  Ini akan menjadi ending yang sangat mengecewakan kalau  itu adalah hal yang kamu pahami dari ucapanku yang sudah sangat lama, jadi segera tunjukkan apa yang kamu ingin perlihatkan karena mau tidak mau sebenarnya kau sudah lulus dari tes ini!”


“Mari mulai,” lanjut demon hunter sekaligus ia terlihat juga mengganti senjatanya menjadi sebuah sebuah sabit raksasa.


Enma sendiri terlihat sudah siap dalam kuda-kuda bertahan nya, senyum lebar semakin demon hunter melihat itu, yang membuatnya semakin senang saat melihat Enma yang menutup matanya.


Tapi menurutnya untuk membuat insting yang dimiliki tumbuh ia harus mematikan salah satu indra paling dominannya, dan itu akan memicu indra indra lainnya.


Di serangan pertama ia berhasil untuk menghindari serangan dari demon hunter, namun serangan kedua ia sedikit terkena namun berhasil untuk menahannya, di saat itu Enma berusaha untuk berada dalam posisi bertahan sebaik mungkin.


“Jangan berpikir, lawan yang kau hadapi hanya satu orang, buat simulasi melawan Puluhan orang!” saat Enma masih berpikir,ia tetap berusaha Fokus kepada berbagai serangan yang datang kepadanya.


Tentu semua itu tidak semudah yang diharapkan, beberapa kali ia masih terkena bahkan terlempar akibat serangan dari Demon hunter.


“Ding”


Bunyi dari sebuah notifikasi sedikit mengalihkan perhatiannya

__ADS_1


[selamat skil Room di dapatkan]


“Room’’


Skil aktif level 1


{saat di aktifkan akan muncul sebuah ruangan 1x1 setiap serangan yang masuk dalam ruangan mu akan mendapatkan perlambatan selama satu detik,}


durasi penggunaan:1 menit


Coldon: 1 jam


Karena  ia sempat sedikit terganggu dengan notifikasi tadi membuatnya hampir terkena serangan dari Demon hunter, tapi dengan waktu yang baik, ia segera menggantikan kemampuan dari Roomnya, setelah di aktifkan.


Muncul sebuah ruangan berbentuk kubus bening dengan ukuran 1x1 mengurungnya, terlihat ia berada di pusat dari ruangan itu, sehingga tidak ada celah untuk menyerangnya.


Bagi sebagian orang Satu detik tidak berarti banyak, tapi untuk Enma yang sudah berlatih banyak, itu akan sangat berarti walaupun ia tidak sempat menghindar itu sudah cukup memberikannya waktu untuk menangkalnya.


Sang demon hunter tentu terkejut karena ia sendiri yakin kalau tadi ia sudah akan mengenai Enma yang teralihkan perhatiannya. namun sebagai seorang Ahli keterkejutannya itu masih bisa diatasi sehingga masih ada serangan yang ia siapkan untuk Enma.


keadaannya enma sendiri terus dipojokkan, namun dengan Skill room yang dia miliki, semua itu dapat dihindari, “Bagus! lanjutkan, aku akan meningkat temponya!” ujarnya semakin bersemangat.


demon hunter semakin bersemangat, ia tahu waktunya tinggal sedikit sehingga ia berusaha membuat sedikit hadiah untuk muridnya yang sangat berharga.


kecepatan serangan terus bertambah, dan enma tentu semakin harus meningkat fokusnya untuk terus bertahan, dengan perbedaan jeda waktu seperti ini membuatnya memiliki kemampuan seolah seolah ia bisa menebak segala serangan lawan.


namun saat ia masih fokus dalam bertahan ia melihat sesuatu yang aneh, dimana pertahanan dari demon hunter sedikit terbuka, ia awalnya berpikir kalau itu adalah Jebakan, sehingga ia menolak untuk menyerang.


tapi karena terlalu lama melihatnya saat ia masih dalam fokus menyerang, membuat instingnya jalan dan menyerang titik lemah tersebut.


dan hasilnya enma berhasil mendaratkan Luka para kepada demon hunter, luka tersebut sangat patal, itu bahkan mendapatkan serangan critical damage kepadanya.

__ADS_1


“LAin kali jangan ragu dalam bertindak,” ucapnya menyelesaikan pertarungan karena secara perlahan tubuhnya juga sudah mulai pudar.


ini menandakan kalau ia sudah berhasil menyelesaikan stage 3 ini, walaupun sebenarnya Ia sudah berhasil menyelesaikannya tidak ada raut wajah senang dari enma, penglihatannya terus tertuju kepada Sang demon hunter yang perlahan memudar.


__ADS_2