
………..
“Apakah salah jika menginginkan hidup sesuai dengan kemauan diri sendiri, mungkin terdengar mustahil tapi setidaknya ada beberapa bagian dari hidup yang kita jalani sesuai dengan kemauan kita sendiri
Gangguan pasti ada di saat hampir menemukan tujuan yang kita mau
Bolehkah mengeluh sebentar saja? Atau bolehkah menangis sebentar saja?
Jawabannya tentu saja boleh,, diri kita ini bukan benda mati yang tidak mempunyai perasaan
Akankah kita bersikap biasa disaat terjadi hal buruk? Atau kita akan diam saja saat hal buruk itu menimpa diri kita sendiri
Jangan pernah memendam semuanya sendiri jika kalian tak mau semakin dalam rasa sakit itu muncul, cobalah untuk berbagi cerita dengan orang yang tepat.
Ceritakan hal yang harus di ceritakan dan simpan sisanya hanya untuk diri sendiri saja yang tau”
Itulah isi diary buku zelle kali ini,, sudah sangat lama bagi zelle tidak mencurahkan perasaannya di dalam buku itu
Menikmati teh hangat dengan pemandangan matahari yang hampir terbenam dari balkon kamarnya
Mungkin dengan kejadian kemarin yang zelle alami begitu banyak pelajaran untuknya
Mempunyai sahabat yang tulus dan mengerti dirinya, serta pekerjaan yang sangat di inginkannya, lantas apalagi yang perlu ditakutkan?
Bukankah kini saatnya membuang memori buruk meski mustahil?
Belajar ikhlas meski sulit?
Matahari kini mulai menghilang,zelle bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat tidur
Zelle duduk di pinggir kasur tangannya membuka laci di samping tempat tidur dan mengeluaarkan sesuatu
“aku akan bahagia meski tidak dengan kalian, aku akan bahagia meski masalalu yang buruk selalu menghantui ku, percayalah aku akan bahagia tepat pada waktunya” zelle bermonolog dengan memandang sebuah foto yang dia ambil dari dalam laci
Zelle memandang foto itu dengan ekspresi yang sulit di artikan
Setelah lama memandang foto itu, zelle menaruh kembali fotonya di dalam laci
Sebelum memasukan foto itu kedalam laci,, zelle bermonolog
“waktu yang akan mempertemukan kita kembali”
Zelle mengambil ponsel di atas laci dan mengirim pesan pada jehan
………
Sedangkan jehan kini tengah terjebak dirumahnya sendiri karena papahnya memaksa dirinya untuk tetap dirumah karena ada tamu penting yang akan datang berkunjung kerumahnya
__ADS_1
“pah apakah tamu itu seorang presiden hingga aku harus menunggunya” kesal zelle
“kamu akan tau siapa tamu itu” jawab tuan levronka dengan duduk santai di ruang tamu rumahnya
Jehan mencebik kesal menatap papahnya
Nyonya levronka mengelus lembut punggung putrinya itu yang tengah kesal
Tak lama menunggu, tamu yang di tunggu itupun datang
Tuan levronka menyambung dengan senang tamu itu, sedangkan jehan masih saja menundukan kepalanya enggan melihat tamu itu
Tuan levronka mengulurkan tangannya guna menjabat tangan tamu spesialnya
“wah..wah..wah,, bukankah suatu kehormatan untukku seorang pengusaha terkaya di negeri ini,, oh salah di asia atau bahkan di dunia? Mau berkunjung kerumahku yang seperti gubuk ini”
Tuan Roderick menjabat uluran tangan tuan levronka
“kau ini terlalu berlebihan oka” ucap tuan Roderick
“tapi itu kenyataannya Erick” tutur tuan levronka
Tuan levronka pun mempersilahkan tamu spesialnya duduk,, saat sudah duduk,, tuan Roderick memperhatikan jehan yang masih saja menundukan kepalanya
Tuan levronka yang melihat pandangan mata tuan Roderick langsung saja berbicara
“ini adalah putri saya, saya lupa untuk mengenalkannya pada saat acara waktu itu karena putriku sedang menyambut tamu yang lain”
Jehan terpaksa senyum memandang tamu itu, namun senyumnya hilang kala melihat seseorag di samping tuan Roderick yang menurut dirinya tau
“ah putrimu sangat cantik” puji tuan Roderick kala melihat wajah jehan
“terimakasih tuan” jawab jehan dengan kembali memaksakan senyum manisnya
Jehan masih penasaran siapa orang yang di samping tuan Roderick ini
Rasa penasarannya hilang kala tuan Roderick memperkenalkan orang yang ada di sampingnya pada keluarganya
Tuan Roderick sedikit menepuk pundak anaknya untuk mengalihkan perhatiannya pada hanphond yang dia pegang
“ini putra saya, mungkin kau sudah mengetahuinya, karena putraku bilang dia sudah menyapamu saat di acara itu”
“WHAT PUTRA” ingin rasanya jehan berteriak seperti itu sekarang karena terkejut, namun hanya dia pendam saja pada batinnya
“tentu saya sudah mengetahuinya, kita mengobrol lumayan banyak waktu itu bukankah begitu lexi” ucap taun levronka dengan memandang lexi
“yah kita berbicara banyak mengenai pekerjaan” jawab lexi dengan enggan
__ADS_1
“terdengar bagus jika sudah saling mengenal bukan, akan semakin mudah untuk menjalin kerja sama”tutur tuan Roderick
Tuan levronka menganggukan kepalanya menyetujui ucapan tuan Roderick
Pembicaraan pun berlanjut hingga datang pelayan
“tuan makan malam sudah siap”
“baik bik, terimakasih”ucap tuan levronka
“apakah masakan kali ini special karena ada tamu terhormat datang” ucap tuan Roderick dengan sedikit tawa
“sudah tau jawabannya jadi tidak perlu saya jawab” tuan levronka menanggapi nya dengan tertawa juga
Merekapun sudah duduk di kursi meja makan
Tuan levronka duduk di ujung kursi meja makan sedangkan tuan Roderick di ujung satunya, para nyonya duduk berhadapan hanya di halangi meja makan, dan jehan duduk berhadapan pula dengan pria tampan nan dingin siapa lagi jika bukan lexi
Lexi berusaha bersikap biasa saja meskipun dirinya di awal juga terkejut saat melihat jehan yang pernah di lihat sebelumnya
Sedangkan jehan masih saja focus dengan pemikirannya, meski sesekali matanya mengawasi gerak gerik lexi
Makan malam itupun berlangsung dengan sesekali obrolan
Selesai makan malam, pembicaraanpun berlanjut di ruang tamu, sedangkan jehan izin berasalan ingin ke toilet
Padahal kini jehan tengah duduk ditaman belakang rumahnya, dengan memegang ponselnya
Jehan membuka pesan yang datang dari zelle
“bisakah besok datang kerumah gue pagi pagi sebelum gue pergi kerja” itulah pesan yang dikirimkan zelle pada jehan
Jehan langsung membalas pesan zelle
“gue pasti dateng”
“huftt…..akhirnya rencana gue berjalan lancar” monolog jehan
“apakah kemarin juga rencana lo agar lo deket sama gue” seseorang tiba tiba saja duduk di samping jehan dan berbicara seperti itu
Sontak jehan terkejut sampai sampai jehan memundurkan bokongnya dan menubruk ujung sandaran kursi yang di dudukinya
Namun jehan menormalkan kembali ekspresinya
“maksud lo apa ngomong kaya gitu, lo ngomong kaya gitu seolah olah gue udah kenal lo lama padahal gue baru tau lo barusan” jawab jehan matanya memandang lurus enggan melihat wajah lexi
“cihh…ok gue terima alasan lo kali ini tapi kalo lo minta tolong ke gue lagi itu artinya lo sengaja” lexi langsung beranjak setelah mengucapkan itu
__ADS_1
Jehan memperhatikan kepergian lexi dengan ekspresi aneh
“pria gila”