Dulu, Sekarang Dan Nanti

Dulu, Sekarang Dan Nanti
Bab 63


__ADS_3

Melihat kondisi zelle sudah lebih baik dan tidak menangis lagi, jovan pun menitipkan zelle pada jehan


"Je, titip zelle bentar yah, gue mau keluar sebentar" Ucap jovan


"Iyah" jawab jehan


jovan pun keluar dari ruangan zelle, sebelum keluar, jovan menatap Lexi yang ternyata Lexi juga menatap jovan


Jehan pun mendekat pada zelle yang tengah duduk melamun di brankarnya sambil menatap sendu surat dari abangnya itu


"Jangan ngelamun gak baik" Ujar Jehan dengan mengusap lembut pundak zelle


Zelle terkesiap dan menatap Jehan, zelle langsung bersikap biasa saja


"Ah, dari tadi di sini yah, sama si--" Zelle tak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat Lexi


"Sorry gue ngajak Lexi ke sini soalnya ---"


"Gak papa santai ajah" Potong zelle cepat


"Je gue laper, beliin makan dong, tenaga gue abis nih" Pinta zelle dengan mata berbinar


"Ck... Gak tau malunya ni anak, Iyah Iyah" ucap Jehan


"Biar gue yang pesen makanannya" Celetuk Lexi


"Gak perlu, gue udah beli" Ucap jovan tiba-tiba


jovan datang lagi keruangan zelle dengan membawa beberapa makanan


Lexi mendelik menatap jovan, makin meradang saja perasaan Lexi


"Kamu makannya jangan yang pedas dulu" Jovan merubah bicaranya lagi, dia berbicara lebih lembut kepada zelle


Saat zelle hendak protes karena di larang makan pedas, jovan lebih dulu berbicara


"Setelah makan nasi baru boleh"


Zelle pun nurut, Mereka makan bersama, awalnya Lexi menolak makanan yang di beri jovan, namun karena zelle meminta untuk makan saja tanpa memikirkan siapa yang membelinya, akhirnya Lexi pun mau ikut bergabung makan bersama


Setelah selesai makan, zelle meminta Jehan dan Lexi pulang saja, karena harus bekerja

__ADS_1


"Gue mau bolos kerja hari ini" Ujar Jehan, dirinya sudah 4 hari tidak melihat zelle, dan sekalinya melihat malah kaya gini keadaannya, bagaimana bisa Jehan bekerja dengan baik nantinya, Jehan tak mau menyesal untuk kedua kalinya


"Gue juga" Celetuk Lexi


"Ck.. kalian tuh apa apaan sih hah? Kalian pulang atau gue ajah deh yang pulang kerumah dan gak mau ketemu sama kalian lagi" Ancam zelle


"Kalian pulang ajah ada gue di sini yang jaga zelle" Ujar jovan


dengan terpaksa Jehan dan Lexi pun pulang


"Yaudah gue sama Lexi pulang deh, awas yah ntra ketemu sama gue lagi harus udah sembuh" Tutur Jehan


"Iyaaaahhh" jawab zelle


"Cepat sembuh" Tutur Lexi dengan lembut dan mengusap kepala zelle


semua orang di situ termasuk zelle kaget akan tindakan Lexi


Jehan dan Lexi pun keluar dari ruang rawat zelle


"Dia suka sama kamu yah" Tanya jovan setelah kepergian Lexi dan Jehan


"Ntahlah" Jawab zelle ambigu


"Ayo kita ngobrol nya di balkon ajah" Ajak jovan, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk menceritakan semuanya pada zelle


Keduanya sudah duduk di kursi yang ada di balkon ruang rawat zelle, Menghirup udara segar dan pemandangan jalan yang cukup sepi


"Kamu tau ze, Saya dulu itu hidupnya benar-benar hancur dan tak ada harapan hidup, setiap hari main judi, mabuk, dan bermain dengan wanita--"Jovan menjeda ucapannya dan melihat ekspresi zelle yang biasa saja tak ada reaksi kaget sedikit pun, jovan pun tersenyum kecil melihat nya dan melanjutkan lagi ceritanya


" Sampai pada akhir nya saya bertemu dengan pria gila yang merubah prinsip hidup saya yang tadinya 'Hidup hanya untuk main main' Jadi 'Hidup lah dengan baik meski bukan untuk diri sendiri'


Di saat saya ingin mengakhiri hidup saya, pria gila itu muncul tiba-tiba dan berbicara ''Bunuh dirinya jangan di sini, bunuh diri di depan keluarga lo sanah" Bukankah itu terdengar konyol bukan? Tiba-tiba jovan tertawa mengingat hal bodoh yang di ucapkan oleh David abangnya zelle


"Banyak sekali pelajaran yang saya ambil dari dia, seorang pria hebat yang ingin selalu menjaga, menyayangi dan memberi kehangatan untuk orang yang dia sayangi"


"Hampir setiap kita bertemu, obrolannya mengenai seorang wanita yang saya fikir itu adalah kekasihnya karena dia begitu menyanjung dan membanggakan wanita itu namun setelah saya tau, ternyata itu ada adiknya, dan itu kamu" Jovan melihat raut wajah zelle yang berubah menjadi sendu


"Apa kamu tau zel--"Jovan sengaja menjeda ceritanya hanya untuk membuat zelle tak lagi sendu


Zelle langsung menolehkan kepalanya menatap jovan

__ADS_1


" Kenapa? "Tanya zelle


" Menghilangkan rasa trauma hidup itu sulit, tapi apa kamu tau juga zel? Terkadang kita bisa membuat orang yang berada di sekitar kita itu tertawa karena perilaku kita bukankah itu membuat perasaan kita sedikit lebih baik bukan? meski selanjutnya akan sama"


"Huh..hidup memang melelahkan namun juga menyenangkan di lain sisi"


"Seperti David, mungkin bagi orang yang berada di sekitarnya, David adalah orang yang hidupnya bahagia dan tak mempunyai masalah karena mereka selalu melihat sisi David yang berbeda dari yang sebenarnya"


"Dan akhirnya saya bisa melihat sisi David yang sebenarnya di saat suatu malam dia datang kerumah dan mengajak untuk balapan mobil, dia datang dengan ekspresi orang yang frustasi dan marah saat itu, tentu saya fikir ini tidak akan baik jika melakukan balapan, namun karena David memaksa akhirnya saya hanya menemani nya saja mengendarai mobil"


Jovan menarik nafas berat mengingat hal itu, bayang bayangnya semakin jelas jika di ingat


"Tidak perlu di lanjut jika tidak sanggup" Tutur zelle dengan mengusap lembut tangan jovan


Zelle sadar, dirinya sudah membuka luka lama jovan, zelle tidak mau egois hanya karena dirinya ingin tau kejadian dulu bukan berarti dirinya harus mengorbankan trauma seseorang


Zelle juga sadar, bukan hanya dirinya saja yang mempunyai trauma itu, jovan juga merasakannya


Jovan balas menggenggam tangan zelle dengan lembut


"Tolong, jika ada yang ingin kamu ceritakan, cerita saja dengan saya, anggap saya sebagai abang kamu, maafkan saya karena telat mengingat semua nya" Tutur jovan dengan gemetar dan memandang zelle dengan perasaan yang berbeda, bukan lagi mencintai sebagai kekasih melainkan sebagai adiknya


zelle langsung memeluk jovan dengan erat, jovan pun membalasnya


"David menulis surat itu saat di rawat dan setelah menulis itu David pergi" Ujar jovan dalam pelukan zelle


Zelle menganggukan kepala


"Terimakasih karena sudah memberikan suratnya bang" Ucap zelle dengan air mata yang sudah menetes


Jovan yang mendengar zelle memanggilnya abang, jovan semakin mempererat pelukannya pada zelle


Keduanya larut dalam perasaan harus


"Gue harap setelah kejadian ini semuanya jadi lebih baik" Batin zelle


🤍🤍🤍🤍🤍


Yuhuuuuuu UP lagi nih, maafkan author yah baru bisa UP 1 Bab, Author lagi banyak kerjaan, nanti Insha Allah UP lagi kali lagi senggang yah


SO tunggu yaahhhhh

__ADS_1


Jangan lupa kasih pendapat kalian mengenai karya author, jangan lupa like dan vote juga yah


TERIMAKASIH 🙏🙏🥰🥰


__ADS_2