
"Mas Adit...." ucapku terkejut
"Pagi sayang, Papa nyuruh aku nginep tadi malam. Karena aku disini udah jam 11 malam. "
"Aku udah siap Mas, kita berangkat jam berapa?"
"Sekarang aja yuk, Mami dari tadi nelfon terus."
"Ok deh ."
"Ma Pa, Chloe berangkat dulu yaa."
"Iya hati-hati sayang. Adit tolong jaga Chloe yaa"
"Iya Ma. Yaudah kita berangkat ya Ma. Assalamu'alaikum.
"Wa'alaikum salam."
Di perjalanan, aku terus menatap Mas Adit. Bayangkan saja dia hanya memakai kaos tak berlengan. Wanita manapun akan tergiur melihatnya.
"Mas .."
"Kenapa sayang?"
"Kamu izin 4 hari memangnya pihak rumah sakit ngizinin?"
"Nggak sih sebenarnya, tapi untungnya aku dapat dokter ganti in sift ku"
"Makasi Mas udah luangin waktu"
"Sama-sama sayang" dia mengelus rambutku
__ADS_1
Tak sampai 5 menit kami sudah sampai di rumah besar milik Mas Adit.
"Assalamu'alaikum Tante"
"Wa'alaikum salam sayang, mantu Mami dateng. Lama banget Nak. "
"Maaf Tante, hehe"
"Yaudah kita langsung berangkat yaa"
"Ayok Mi Pi."
Tante Ajeng menyuruhku duduk di depan bersama Mas Adit, sepanjang perjalanan kami hanya diam karena malu memulai obrolan.
"Kok pada diem-dieman sih?" Celetuk Om Derry
"Apaan sih Pi, Adit fokus nyetir ni"
"Chloe ngelihatin kamu terus tuh, sepertinya dia mau ngomong sesuatu"
Setelah beberapa jam kami pun sampai di villa , Mas Adit membantuku membawa koper. Kamar kami berada di lantai atas tetapi terpisah kamar. Dan kamar Tante Ajeng dan Om Derry berada di bawah.
Tante Ajeng dan Om Derry segera beristirahat di dalam kamar mereka. Saat sedang merapikan barang-barang ku , Mas Adit masuk ke kamar.
"Ada yang bisa aku bantu sayang?"
"Eh Mas, nggak usah tinggal dikit kok"
"Nggak kerasa yaa, 3 bulan lagi kita bakalan sekamar"
"Iya Mas, aku juga nggak nyangka"
__ADS_1
"Yaudah turun yuk, makan dulu"
"Iya Mas"
Tante Ajeng sudah sangat menganggapku sebagai putri mereka sendiri, bahkan kasih sayang nya seperti Mama. Aku sangat bersyukur di sambut sangat istimewa di keluarga ini. Tak ada penyesalan ketika aku bertemu dengan Mas Adit. Selesai makan Mas Adit mengajakku jalan-jalan sebentar mencari supermarket. Tak jauh dari villa terdapat supermarket yang lumayan lengkap, kami segera turun dari mobil.
Mas Adit membawakan trolli belanja dan aku berjalan di samping nya. Banyak pembeli yang melihat Mas Adit tanpa berkedip dan tanpa memperdulikan aku disebelahnya.
"Mas, aku cari daging dulu ya kesana. Kamu minta tolong cari cemilan sama minum"
"Ok sayang, nanti kita ketemu di tempat minum sebelah kasir."
Hari ini kami akan memasak steak, aku dengan cepat mencari daging dan sosis. Mungkin karena asyik memilih daging aku sama sekali tak menoleh ke arah sebelah kanan ku.
"Oi.." ucap laki-laki yang aku sangat hafal suaranya
"De..Dewa. Kamu disini? Kamu bener Dewa?" tanyaku setengah tak percaya
"Aku udah lumayan lama bertugas dirumah sakit Bandung, aku bosan di luar negeri. Kamu apa kabar?" akhirnya dia mendapatkan gelar dokternya
"Aku baik. Kamu sama siapa?"
"Aku sama Bunda. Mau ketemu Bunda?"
"Mmm.. nggak usah De, aku udah ditunggu."
"Kamu sama siapa kesini? Sama Mama?"
"Aku sama tunanganku . Aku duluan yaa."
"Oh, yaudah kapan-kapan mampir aja ke rumahku selang 3 rumah dari supermarket ini kok, rumah cat biru di depan ada banyak bunga. Ajak juga tunangan mu. ucap Dewa menawarkan
__ADS_1
"Iya, yaudah dadah.."
Tak ku sangka aku bertemu Dewa disini, dunia memang sempit sekali. Perasaan yang dulu tiba-tiba saja bergejolak. Aku sangat bingung harus menceritakan ini ke Mas Adit atau tidak. Kalau aku cerita pasti Mas Adit sangat marah.