
Setelah sekitar 10 menit berbelanja di dalam, aku segera cepat keluar takut jika akan bertemu Dewa lagi dan membuat Mas Adit marah.
Karena berjalan dengan tergesa-gesa aku tak sengaja menabrak seseorang.
"Chloe.. ketemu lagi" ucapnya sambil mengusap keningku yang terbentur keningnya tadi.
"De..dewa , sorry aku buru-buru. Suamiku nunggu" aku segera pergi meninggalkannya tetapi dia menahan lenganku
"Chloe, kamu bahagia sama dia?"
"Aku udah bahagia sama dia De, sorry tolong jangan ganggu aku lagi, ja..." belum sempat aku melanjutkan kata-kataku Dewa tiba-tiba memelukku. Aku berusaha melepaskan pelukkannya, tetapi dia tetap lebih erat memelukku. Tentu saja Mas Adit sedari tadi melihatku dengan Dewa. Dia keluar dari mobil dan menghampiri kami.
"Kurang ajar lo" dia datang dan langsung menghajar Dewa.
"Mas. Udah" aku berusaha melerai mereka berdua. Tetapi tenaga ku sangat tak sebanding dengan mereka
"Lo liat aja, gue bakal terus inget muka lo dan nggak akan tinggal diam kalau lo berani deketin Chloe lagi" ucap Mas Adit dengan sangat tegas.
"Mas , ayo. Banyak yang liatin " Mas Adit pun menurut aku menarik lengannya untuk pergi. Tetapi ketika memasuki mobil dia menghempaskan tanganku dengan kasar
__ADS_1
"Br*ngsek, dia bener-bener nyari gara-gara sama aku. " gerutu Mas Adit.
"Kamu minum dulu Mas, ini..." aku menyodorkan botol air kepadanya
"Nggak usah."
Seperti sebelumnya di dalam mobil kami hanya diam karena memang suasana semakin memanas. Aku tidak pernah melihat Mas Adit semarah itu.
Apa sekarang Mas Adit akan membenciku.
Sesampai kami di villa, rupanya sedari tadi Tante Ajeng meneleponku berkali-kali dan mengirimkan pesan bahwa dia diajak bertemu temannya di mall yang cukup jauh dari villa. Memakan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di mall tersebut.
Begitulah pesan Tante Ajeng kepadaku.
"Mas Mami sama Papi izin keluar ke mall, katanya mau ketemu teman lama, Mas mau makan apa? Biar aku masakin." Dia tak menghiraukanku.
Karena tak terasa hari menjelang siang, aku berinisiatif untuk memasak makan siang .
Saat aku sedang asyik memasak, aku tak sadar jika Mas Adit sedari tadi berdiri di belakangku. Dia menarik bahuku dan mendorongku hingga punggungku terkena kulkas.
__ADS_1
"Aku nggak suka kamu deket sama laki-laki itu, dengar." Terdengar seperti desakan.
"Maafin aku Mas, aku benar-benang ngg.." tak sampai aku meneruskan penjelasanku , Mas Adit mencium bibirku dengan brutal. Nafasku terengah-engah.
Mas Adit semakin menggila, dia meremas pay*dara ku dengan sangat keras.
"Arrhg.. sakit Mas" aku mendorong tubuh Mas Adit.
Dengan penuh emosi dia mengangkat tubuhku ke lantai atas, menuju kamarnya. Dia merobek seluruh bajuku. Dan dia melepas seluruh bajunya juga.
Aku tak percaya Mas Adit akan melakukan ini kepadaku. Aku tahu kami sudah bertunangan, tapi pernikahan kami masih sekitar 3 bulan lagi, bagaimana kalau aku hamil.
Mas Adir tak memberi ku ampun sama sekali, dia terus melakukan nya kepadaku. Sampai aku merasakan seperti tusukan di bagian bawahku, aku menjerit kesakitan. Dan seketika sekujur tubuhku lemas.
Aku sudah tidak kuat menahan paksaan yang sedari tadi aku rasakan.
"Mas, a..aku nggak ku..at. sakiit" ucapku sangat lirih
Akhirnya dia melepaskan ku, setelah memasukkan benih ke dalam rahimku dengan paksa. Kami terbaring lemas bersama. Karena kelelahan kami tertidur. Kami terbangun pukul 6 sore. Aku pun segera memakai pakaian ku dan menuju kamarku.
__ADS_1
Sekali lagi aku tak menyangka apa yang dilakukan Mas Adit. Benih cinta yang seharusnya aku terima setelah pernikahan, tetapi terjadi karena emosi. Aku tak tahu apa harus menyesal atau bagaimana. Aku hanya menangis di dalam kamar.