
Aku masih tidak percaya bahwa Dewa akan menginginkan pernikahan dengan terburu-buru. Aku pikir masih ada waktu 4 atau 5 tahun lagi. Aku tidak mau memikirkan kata-kata itu lagi karena mungkin bisa saja dia hanya asal bicara. Belum tentu keluarga kami akan saling menerima cinta yang sangat terhalang oleh agama.
Akan sangat menyusahkan jika sudah dalam ikatan pernikahan. Apalagi aku tidak mungkin untuk mengikuti agama nya. Pasti Mama dan Papa akan marah besar. Cukup begini saja dulu untuk saat ini. Aku hanya ingin menjalani saja kehidupan dan hubungan ini tanpa harus merasa terbebani atau membebani siapa pun.
3 minggu kemudian...............
Hari ini adalah hari wisuda kelas angkatanku. Acara wisuda diadakan di hotel yang sangat mewah. Sekolah mengundang semua wali murid tanpa terkecuali. Aku sudah bangun pukul 4 pagi dan mempersiapkan segalanya. Yaitu merias wajahku ke salon langganan Mama ku dan teman-teman nya. Aku memakai setelan kebaya dengan warna merah maroon.
"Nah sudah cantik sekali." kata tukang rias yang merias wajahku sedari tadi.
"Makasi tante." jawabku. Aku sesekali melirik ke arah jam tangan ku, sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Dan aku mendengar suara laki-laki yang sangat familiar. Tidak mungkin itu Dewa.
"Astaga bidadari ku cantik banget." tiba-tiba Dewa menerobos masuk dan seperti biasa dia membawa bunga. namun bukan setangkai tetapi 1 buket bunga mawar yang besar dan indah. Dan tanpa sepengetahuanku dia juga memakai kemeja warna senada dengan kebaya ku.
"Bisa aja. Makasi" ucapku "Kamu pagi-pagi banget kesini ngapain? Kan acaranya masih nanti jam 7 . Kamu kok bisa pakai kemeja warnanya sama seperti kebayaku?" tanya ku mencerocos
"Kamu lupa, aku pernah anterin kamu nyari kebaya ini. Yaudah aku sekalian aja bikin kemejaku disana sekalian. Aku kerumah kamu tadi jam 5, kata tukang kebun mu kamu di salon langganan Mama mu. Yaudah aku susulin kesini." jelasnya panjang
__ADS_1
"Ha? Jam 5 kamu kerumah? Ngapain? Kan aku udah bilang kita janjian aja langsung di hotel. Bunda kamu udah berangkat?"
"Dia masih di salon. Kamu brangkat sama aku yaa? Udah di ijinin kok sama Mama Papamu."
"Chloe .. Papa Mama duluan yaa." teriak Papa dari depan
"Ok Pa.

Jarak salon Mama dengan hotel tidak terlalu jauh hanya sekitar 10 menit saja. Aku tidak tahu sudah berapa lama memandangi laki-laki di sampingku. Dia terlihat sangat tampan, gagah sekali memakai setelan jas. Kami layaknya suami istri yang sedang menghadri acara penting saja.
"Aduh cantik sama gantengnya murid fenomenal di sekolah. Cocok banget" sapa Bu Dewi guru jurusan IPA yang tak lain adalah guru jurusan nya Dewa.
"Aah Ibu, makasi . Kita duluan Bu Dewi" jawabku sambil melangkah pergi
Di dalam sudah mulai ramai dan kami melihat masing-masing teman kami. Kami berpisah di pintu masuk dan menghampiri teman-teman kami.
__ADS_1
"Sil, Nit.." teriak ku
"Eh Chloe , cantik banget. Lo sama siapa?" tanya Nita
"Tadinya sama Mama Papa, tapi Dewa nyusulin ke salon. Yaudah bareng Dewa." jawabku sambil tertawa kecil
"Terus Mama Papa lo kemana?"
"Gue juga masih nyari nih. Eh itu mereka. Gue kesana dulu yaa." pamitku dan di anggukki oleh mereka berdua.
"Ma.. Pa udah dari tadi?"
"Baru aja. Dewa mana?" tanya Papa
"Itu dia lagi sama temen Pa. Yaudah Oi nyari tempat duduk dulu yaa, tempat duduknya sesuai nomor absen sama kelas . Susah nyarinya."
"OK" jawab Mama Papa bersamaan.
__ADS_1
Aku mendatangi Sisil dan Nita kembali karena ingin mencari tempat duduk bersama. Untung saja tempat duduk di kelasku tidak terlalu jauh. Hanya 2 baris dari depan. Dan ternyata di kursi juga sudah tertera nama murid. Aku pun duduk tanpa melihat-lihat sekitar. Karena sebentar lagi acara akan dimulai.