
Setelah memilih daging dan meninggalkan Dewa, aku segera menghampiri Mas Adit. Aku lihat sepertinya Mas Adit juga baru selesai mencari cemilan dan minum.
"Mas , udah selesai?" tanyaku membuyarkan lamunannya
"Udah, segini cukup kan sayang?"
"Udah kok Mas, yaudah yuk."
Ketika kami berada di kasir, aku tak tahu bahwa Dewa terus menatapku. Dan disadari oleh Mas Adit, dia meremas pegangan trolli belanja menyadari calon istrinya sedang ditatap lelaki lain. Aku yang tidak menyadari sama sekali melihat Mas Adit dengan sikap seperti itu merasa bingung. Setelah aku menoleh kearah yang di tuju Mas Adit, aku melihat Dewa menatap mataku dengan tatapan rindu.
"Ayo Mas, udah selesai. Nanti Mami nunggu." ajakku menarik lengan Mas Adit dan dia menghempaskan tanganku pelan. Aku tahu bahwa dia akan marah, Mas Adit memang tipe lelaki pencemburu.
Di dalam mobil, aku tak berani memulai pembicaraan mengingat Mas Adit sedari tadi bersikap dingin kepadaku.
"Kamu kenal laki-laki tadi?" Tanya nya tiba-tiba
"Kamu marah Mas?"
"Siapa laki-laki tadi?" Nada suara yang kini sedikit menekan dan tegas aku dengar
"Di..dia mantanku." Nada bicaraku yang sedikit aku turunkan.
"Kamu janjian sama dia?"
"Nggak Mas, aku nggak sengaja ketemu." Apa begini rasanya jika Mas Adit sedang cemburu. Tetapi ini tak masuk akal , cemburunya begitu kekanakan bagiku.
__ADS_1
Diam kembali diantara kami. Kenapa Mas Adit begitu cemburu kepadaku. Padahal tadi aku memang tidak sengaja bertemu Dewa.
Tak lama kami sampai di villa, Mas Adit berjalan lebih dulu di depanku melewati Tante Ajeng dan Om Derry.
"Nak, Adit kenapa?" Tanya Tante Ajeng
"Nggak apa-apa Tan, mungkin Mas Adit nggak enak badan. Chloe masuk dulu Tante."
"Mas.. aku mau ngomong." Ucapku yang bertemu dengan Mas Adit di dapur. Dia hanya diam saja tanpa menatapku.
"Mas.. aku berani sumpah aku nggak janjian sama dia."
"Aku mau ke kamar." Jawabnya dan langsung meninggalkan ku.
Malam harinya kami semua berkumpul di halaman belakang untuk bersiap membuat steak. Hanya Mas Adit yang tidak hadir. Tante Ajeng sedari tadi menatapku yang terlihat tak semangat dan seperti ada yang disembunyikan.
Setelah merapikan semuanya, aku bergegas naik keatas untuk segera tidur. Inginku menghampiri Mas Adit ke kamarnya dan mengajaknya makan. Tapi urung aku lakukan. Takut jika mengganggu .
Esoknya ketika aku selesai mandi dan keluar kamar, aku berpapasan dengan Mas Adit yang juga selesai mandi. Tatapan dingin langsung aku rasakan.
"Mas.." aku meraih tangan nya
"Hmm."
"Aku berani sumpah Mas, aku nggak sengaja ketemu dia. Tolong percaya sama aku"
__ADS_1
"Iya." Hanya dijawab seadanya
"Maafin aku Mas, tolong jangan marah lagi."
"Yaudah ayo turun"
Tak apa dingin, asalkan dia masih mau berbicara denganku. Di bawah Tante Ajeng dan Om Derry melihat kami dengan expresi bingung.
"Chloe, sini makan dulu ."
"Iya Tante"
"Ooh iya Nak, Tante boleh minta tolong nggak beli tepung di supermarket kemarin?"
"Boleh kok Tan, kebetulan Chloe mau beli obat Tan"
"Obat apa Nak? Kamu sakit?" Tanya Om Derry dengan khawatir
"Nggak apa-apa Om, tadi malem Chloe masuk angin aja, AC nya terlalu dingin "
"Jangan dingin-dingin Nak , kalau kamu pulang masih sakit, pasti Mama mu marah sama Tante."
"Ah Tante bisa aja, paling nanti habis minum obat sembuh Tan"
"Dit, kamu temenin Chloe ke supermarket ya" ucap Om Derry
__ADS_1
"Iya Pi"
Tak ada sepatah kata diantara kami, aku hanya memilih diam. Takut jika salah bicara kepada Mas Adit. Tak berapa lama kami sampai di supermarket , Mas Adit memilih untuk diam di dalam mobil.