
Kami mulai membuka nasi goreng masing-masing, tak ada yang berbicara di meja makan. Akhirnya karena suasana sangat hening Om Derry memulai percakapan.
"Ooh iya, besok kita berangkat jam 6 pagi yaa. Biar cepat sampai rumah"
"Iya Pi" jawab Mas Adit
Setelah makan malam, Tante Ajeng dan Om Derry segera masuk ke kamar mereka. Mereka sengaja meninggalkan kami berdua agar kami bisa membicarakan masalah ini.
"Aku aja yang bersihin"
"Sayang, aku mohon maafin aku. " dia berjongkok di depanku memohon agar aku memaafkannya
"Kamu naik aja duluan. Aku udh maafin. Aku cuman pengen sendiri" jawabku dingin
"Aku temenin disini" aku tak menjawab
Aku segera menyelesaikan semuanya dan langsung menuju kamarku, Mas Adit terus menemaniku. Tanpa menghiraukannya aku langsung bergegas naik.
"Sayang.." Mas Adit menarik tanganku dan menghempas kan badanku ke pintu kamar. Dia ******* bibirku. Aku berusaha melepaskan, tetapi dia mencengkram bahuku dengan kuat.
Karena aku hampir kehabisan nafas, Mas Adit melepas ciumannya. Dia memelukku.
"Kalau kamu hamil, aku benar-benar mohon jangan kamu gugurin anak kita. Aku tahu nggak seharusnya aku lakuin ini sama kamu, apalagi kita belum nikah."
__ADS_1
"Aku nggak janji" aku menangis terisak.
"Aku mohon, aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Kita jaga sama-sama anak kita nanti. " aku merasakan lengan berototnya mengeras diantara bahu ku.
"Kita percepat aja pernikahan kita yaa?" Pintanya
"Berapa lama lagi?"
"Bulan depan?"
"Mama sama Tante pasti curiga , aku nggak mau mereka tahu kita udah melakukan nya"
"Terus kalau misal kamu hamil beberapa hari atau beberapa minggu sebelum pernikahan, kamu gimana?" Tanya nya khawatir aku akan benar-benar menggugurkan kandunganku nanti
"Aku pijitin ya kepalanya. "
"Kita belum nikah, nggak baik pegang-pegang meskipun cuman pijitan, lagian ada Mami sama Papi dibawah. Aku nggak enak"
"Yaudah kalau gitu, kalau kamu nggak kuat pusingnya, kamu ke kamarku aja yaa"
"Iya makasi"
Aku meninggalkannya yang masih berdiri di depan pintu kamar, dan beranjak tidur. Esok pagi aku bangun jam 5 pagi, segera mandi dan beres-beres. Aku pun turun dan di dapur sudah ada Tante Ajeng yang sedang memasak.
__ADS_1
"Pagi Tan, masak apa? Chloe bantu ya?" Sapaku
"Eh sayang, kamu bangunin Adit aja dulu. Biar kita nggak kesiangan nanti"
"Ok Tan"
"Mas... bangun udah siang nih. Mami nunggu tuh dibawah." Tak ada suara di dalam menandakan Mas Adit memang belum bangun
"Aduh, susah banget dibangunin" aku membuka pintunya yang tidak dikunci. Dan kamarnya memang persis kapal pecah. Selimut di bawah , dan dia melepas baju sekenanya. Apa memang begini dia tidur.
"Mas, udah siang cepet bangun" aku menggoyangkan tubuhnya. Tetapi dia malah memelukku seperti guling.
"5 menit sayang" dengan nada suara berat
"5 menit apa? Aku turun dulu deh" Mas Adit malah mempererat pelukannya
"Mami nunggu dibawah, aku nggak enak ih. " Kini dia menindih tubuhku dan seperti yang ku duga, Mas Adit kembali mencium ku untuk yang kesekian kalinya. Aku mendorong tubuh berototnya.
"Mas, bisa nggak sih nggak usah cium-cium gitu. Aku masih kesel sama kamu. " aku melipat tanganku dan duduk di tepi ranjang. Mas Adit melingkarkan tangan nya di perutku, anehnya dia mengelus-elus perutku.
"Aku mau anak ku ada disini. Anak yang cantik sepertimu." aku tak tahu harus tersenyum atau bagaimana menyikapi ucapannya yang menurutku sudah sangat jauh
"Mandi aja sana." aku berdiri dan membersihkan kamarnya yang brantakan. Dan Mas Adit hanya tersenyum melihatnya
__ADS_1
"Kamu cantik banget kalau marah, bikin gemes. Maafin aku yaa, aku udah buat kesalahan yang fatal" ucap Mas Adit sambil memelukku dari belakang. Aku tersenyum merasakan dekapan hangat. Kemudian aku melepas pelukannya dan memukulnya dengan bantal agar cepat pergi mandi. Mas Adit mentertawakanku .