
πΌπΌπΌπΌ
Hari sudah semakin siang, sebentar lagi akan memasuki waktu ashar. Acara pentas seni pun akan segera berakhir. Aku masih saja mencari kedua adik kembarku yang entah pergi kemana.
"Hei Jang! Lihat adek gue nggak?" tanyaku pada Ujang yang sedang berjalan menuju musholla sekolah.
"Memangnya adek kamu teh, datang ke acara ini?" tanya Ujang padaku.
"Iya datang, barusan gue titip ke Reno, minta tolong jagain karna gue mau ambil makan siang."
"Oh, begitu, mungkin di kantin Za!"
"Iya juga ya, kenapa gue nggak kepikiran kalau mereka ke kantin. Lo sendiri mau kemana?"
"Abdi teh, mau ke musholla sebentar lagi mau ashar."
"Ya udah bareng yuk, musholla kan dekat kantin!
"Hayuh atuh!"
Kami pun berjalan perlahan menuju kantin sekolah.
"Nah, itu mereka, lagi pada makan mie ayam rupanya."
"Eh, iya atuh masih sama Reno adik kamu Za. Tenang aja aman pokoknya mah kalau sama Reno."
"Iya Jang, lo mau kemana? Ashar masih dua puluh menit lagi, ikut gabung yuk!"
"Abdi teh, langsung ke musholla aja!"
"Udaaah ayo gabung dulu, nggak usah malu, sama anak SMP masa malu." Ku rangkul Ujang, lalu aku paksa dia untuk ikut denganku.
"Jadi kalian daritadi disini? Kakak cari-cari juga!"
"Lapar Kak. Kakak mah, enak dapat makan siang," ucap Dya yang sedang asyik makan mie ayamnya.
"Ya Kakak khawatir aja, pas balik ke tempat itu kalian udah nggak ada."
"Adek-adek lo main jalan aja Za. Ya gue langsung ikutin, jadi nggak sempat deh gue kabarin ke elo," ucap Reno yang sedang menikmati mie ayam pedasnya.
"Adek gue emang sesuatu banget, terutama yang ini nih!" ucapku sambil ku usap-usap kepala Dya.
"Iiiihhh Kakak, aku lagi makan juga!" ujar Dya sambil menepis tanganku dari kepalanya. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
" Eh iya, ayo Jang, sini duduk. Kita kumpul dulu disini, nanti sholat ashar kita barengan aja berjama'ah!"
"Eh, iya Za!"
Ujang duduk tepat di hadapan Dita, sedangkan aku duduk di samping Reno yang duduk di hadapan Dya.
"Kak Ujang mau mie ayam?" ucap Dita menawarkan mie ayam kepada Ujang.
"Eh, iya trimakasih teh, Abdi sudah makan kok!"
"Teteh Dita, Aa Ujang teh, sudah makan, minum barangkali mau," ucap Dya meledek Dita.
"Apaan sih kamu Kak!"
Ujang hanya tertunduk malu, di ledek Dya seperti itu.
"Kak Ujang, maafin Kak Dya ya, dia kalau bercanda memang suka keterlaluan," ucap Dita kemudian tersenyum kepada Ujang.
"Nggak apa-apa teh, Ujang maklum keun!" ucap Ujang pada Dita tapi kemudian menundukan kepalanya lagi.
Tiba-tiba suara adzan ashar berkumandang di sela-sela obrolan kami.
"Nah, adzan ashar tuh. Kita sholat bareng ya?!"
"Iyaaa!" jawab Reno padaku, kemudian kami bergegas pergi untuk berwudhu.
Di musholla kami sholat berjama'ah. Ujang sebagai imam sholatnya, sedang yang lainnya menjadi makmum.
Selesai sholat kami bersiap-siap untuk pulang karna hari sudah semakin sore. Dita duduk di bangku depan musholla sambil memandangi Ujang yang sedang memakai sepatu, tiba-tiba Dya datang mengejutkan Dita.
"Ehemmm serius banget mandangin aa' Ujang," ucap Dya meledek Dita.
"Apaan sih kamu Kak!"
"Habisnya, daritadi Kakak perhatiin kamu lihatin Ujang terus."
"Ujang itu pemalu banget ya Kak. Sopan, kalem, tutur katanya halus, kasep lagi."
Mata Dita berbinar memuji Ujang di hadapan Dya.
"Hahaha kamu suka sama Ujang? Apa tadi kamu bilang, kasep? Wah, sudah mulai menyesuaikan diri dengan Ujang ya?" tanya Dya sambil tertawa.
"Aku hanya kagum sama dia Kak. Orangnya sederhana, dan sopan banget apalagi kalau di hadapan cewek."
"Tunggu, tunggu, tunggu. Jangan bilang menurut novel yang pernah aku baca, kalau Ujang itu adalah salah satu tipe cowok idaman," ucap Dya menirukan gaya bicara Dita.
"Hahahaha bisa aja ngeledeknya."
__ADS_1
"Habisnya, kamu nggak jauh dari novel kalau ngomong."
" Hehehe ... karna membaca novel menambah wawasan berpikir kita Kak, tentang karakter seseorang."
"Lama-lama kamu dewasa sebelum waktunya."
"Loh, bagus dong. Daripada sudah waktunya dewasa tapi masih kaya anak kecil," jawab Dita, kemudian tersenyum kepada Dya.
"Kalau soal ngomong, kamu emang jagonya."
" Hehehe .... "
"Sudah selesai semua? Ayo, kita pulang!" Aku datang menghampiri kedua adikku yang sedang asyik mengobrol.
"Yuk!" jawab keduanya serempak.
"Jang, pulang bareng yuk, kita kan searah!" ajakku pada Ujang.
"Memangnya nggak apa-apa kalau Abdi bareng?" tanya Ujang padaku.
"Nggak apa-apa Kak Ujang, muat kok mobilnya, kita kan naik taksi online." Tiba-tiba Dita menyelak pembicaraan, menyakinkan Ujang agar mau pulang bareng dengan kami. Aku dan Dya saling berpandangan mendengar Dita begitu semangatnya mengajak Ujang pulang bersama.
"Eh, maksud aku, ya nggak apa-apa kalau Kak Ujang mau pulang bareng, nggak usah malu-malu," jawab Dita gugup.
"Oh, begitu. Ya sudah yuk, ini sudah sore banget. Ren, lo mau pulang bareng nggak?"
"Bentar Za, gue pake sepatu sebentar!" teriak Reno, yang sedang memakai sepatu di depan pintu musholla, yang berjarak beberapa meter dari tempat aku dan yang lainnya berkumpul.
"Oke. Sudah kumpul semua, yuk kita let's go! Ren, lo yang pesanin taksi onlinenya ya, kalau bisa yang mobilnya muat lebih dari lima orang," ucapku meminta Reno memesan taksi online.
"Siaaaap!"
Tak berapa lama, Reno mendapatkan taksi online yang dia pesan.
"Dapat nih Za! Mobilnya muat tujuh orang kayanya."
"Ya udah yuk kita ke depan, takut udah di depan sekolah mobilnya."
Kami berlima bergegas pergi dari mushola, begitu tahu taksi online yang dipesan Reno sudah mendapatkan pengemudinya.
"Loh, Kak Sarah lagi tunggu taksi online juga?" tanya Reno pada Kak Sarah.
"Iya nih, daritadi belum dapat juga."
"Memang Kak Sarah nggak pulang bareng Kak Salman?" aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Oh, Kak Salman ada yang masih harus di urus, jadi saya pulang sendiri saja." Kak Sarah terlihat sedikit gugup ketika aku bertanya, tapi kemudian dia tutupi dengan senyum.
"Kak Sarah mau pulang bareng dengan kami saja?" aku coba memberanikan diri mengajak Kak Sarah pulang bersama.
"Nggak usah Za, sepertinya nggak muat juga, biar saya tunggu dapat taksi online saja."
"Muat Kak, mobilnya kapasitas tujuh penumpang kok!" Reno mencoba menyakinkan Kak Sarah.
"Oh begitu, beneran nggak apa-apa saya pulang bareng kalian?"
"Beneran Kakak!" jawab Dita, membuat Kak Sarah tersenyum dan akhirnya menyetujui ajakanku.
Kami pun segera masuk ke dalam mobil. Aku duduk di bangku depan bersama supir. Dita, Dya dan Kak Sarah duduk di bangku tengah, sedangkan Reno dan Ujang duduk di bangku belakang.
Mobil pun berjalan meninggalkan pelataran sekolah. Sesekali aku melirik Kak Sarah dari kaca spion mobil karna dia duduk tepat di belakangku. Tanpa aku sadari, ternyata tingkahku di perhatikan oleh Dita yang duduk di tengah, diantara Dya dan Kak Sarah.
"Kak Sarah, turunnya dimana ya?" aku coba memulai obrolan, karna suasana di dalam mobil benar-benar sunyi seperti di depan rumah komplek.
"Nanti biar saya arahkan," jawab Kak Sarah.
"Oke!"
Tiba-tiba Pak Supir memutar radio, kemudian langsung terdengar lagu 'Kisah kasih di sekolah'.
Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah-kasih di sekolah
Dengan si dia
Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah
Kisah-kasih disekolah ....
Aku tersenyum-senyum sendiri mendengar lagu ini, yang lagi-lagi tingkahku di perhatikan oleh Dita. Dita pun ikut tersenyum melihat sikapku.
"Saya turun disini saja sudah sampai!" ucap Kak Sarah, membuatku terkejut karna sedang asyik menikmati lagu.
"Oh, ini rumah Kak Sarah?" tanyaku menutupi hatiku yang sedang kasmaran.
__ADS_1
"Iya!"
Aku segera turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Kak Sarah.
"Ya ampun Eyza, nggak usah seperti ini juga, saya bisa buka pintu sendiri."
"Nggak apa-apa Kak, kan nggak sering juga," jawabku membuat Kak Sarah tertawa kecil.
"Hehehe kamu tuh, bisa aja. Oh, iya saya bayar berapa ini?"
"Nggak usah Kak!"
"Nggak enak dong, masa saya nggak ikut bayar."
"Beneran nggak apa-apa Kak!"
"Iya, nggak usah Kak. Eyza yang bayar kok, dia lagi banyak uang." Teriak Reno dari dalam mobil.
"Benar itu Eyza?"
"Eh, ii-iya Kak, benar kok!"
"Ya Sudah kalau begitu, trimakasih banyak ya. Semuanya trimakasih banyak ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam," jawab kami serempak.
Tiba-tiba seorang pria berperawakan tinggi, berkulit putih menghampiri aku dan Kak Sarah.
"Sarah, kamu baru pulang?"
"Eh, Papah. Iya pah, baru selesai acaranya," jawab Kak Sarah lalu mencium tangan ayahnya.
"Sore om!" Sapaku pada ayah Kak Sarah.
"Sore!" jawab ayah Kak Sarah, kemudian tersenyum padaku.
"Kenalin pah, ini Eyza adik kelas Sarah. Tadi Sarah nggak dapat dapat taksi online, jadinya pulang bareng Eyza dan teman-temannya."
"Oh, iya. Trimakasih ya Nak, sudah antar Sarah pulang." Ayah Ka Sarah menatapku cukup lama seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Sama-sama om, kalau begitu saya pamit pulang ya om. Assalamu'alaikum," ucapku kemudian ku kecup tangan ayah Kak Sarah.
"Wa'alaikum salam, hati-hati di jalan ya!"
"Insya Allah om," jawabku kemudian ku lemparkan senyum manisku.
Aku segera masuk kedalam mobil, kemudian mobil yang aku tumpangi bersama teman-teman dan kedua adikku pun pergi meninggalkan pekarangan depan rumah Kak Sarah.
"Pah, Papah. Bengong aja!" ucap Kak Sarah mengagetkan ayahnya.
"Eh, papa nggak bengong kok, hanya sedang mengingat-ingat, sepertinya pernah bertemu dengan teman kamu itu, tapi dimana ya?"
"Perasaan papa aja mungkin. Eyza itu murid pindahan di sekokah Sarah, nggak mungkin papa pernah bertemu sebelumnya."
"Mungkin lebih tepatnya, wajah anak itu mirip dengan seseorang yang papa kenal, tapi siapa ya?"
"Perasaan papa aja itu!"
"Mungkin juga ya, tadi siapa namanya, Eyza?"
"Iya, namanya Eyza. Udah yuk ah, masuk kedalam memangnya papa mau disini terus!"
"Ya nggak!"
Sarah dan ayahnya pun segera masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di dalam mobil, aku menagih uang donasi untuk membayar taksi online.
"Ayo, mana patungannya buat bayar taksi nih?" tanyaku pada Reno dan Ujang.
"Lah, bukannya elo yang bayar Za? Kan lo lagi banyak uang!" jawab Reno.
"Itu kan kata lo, bukan kata gue. Udah cepetan mana uangnya?"
"Lo gimana sih Za, gue udah berusaha naikin derajat lo di depan Kak Sarah," jawab Reno dengan wajah lesunya.
"Salah lo sendiri nggak pake kompromi dulu, udah tahu gue lagi bokek."
"Payah deh ah, play boy cap kapak," celetuk Reno.
"Lo pikir gue minyak angin cap kapak!" jawab Eyza membuat yang lain tertawa.
" Hahaha ... "
"Satu lagi, gue bukan play boy. Buktinya, gue masih jomblo sampai sekarang."
"Iya lo bukan play boy, tapi play group hahaha .... " Lagi-lagi Reno berceletuk membuat seisi mobil tertawa.
"Sialan lo Ren!" ucapku kesal.
π¦πππππππ
__ADS_1