
ššššššš
Bunda menghampiri Ayah di ruang kerjanya dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan sepiring pisang goreng kesukaan Ayah.
"Ini kopinya Yah!"
"Iya letakkan di meja saja Bun."
Bunda meletakkan yang Bunda bawa barusan di atas meja lalu duduk di sofa.
"Lagi sibuk Yah?"
"Nggak, ini Ayah lagi cari foto Eyza, perasaan sudah Ayah backup di laptop."
"Foto Eyza? Untuk apa?"
"Oh, iya. Ayah belum cerita ya? Kamu pasti nggak menyangka, kemarin Ayah ketemu siapa?"
"Memangnya ketemu siapa?"
Ayah menghampiri Bunda, lalu di duduk di sampingnya, " Ayah ketemu Dani."
"Dani? Serius?" tanya Bunda nampak tidak percaya dengan perkataan Ayah.
"Iya serius! Jadi kemarin itu Ayah nggak sengaja menabrak dia, pas Ayah mau masuk ke dalam kantor, dia sedang mengurus surat-surat untuk keperluan beasiswa anaknya."
"Oh ya, anaknya yang mana?"
"Itu, anak perempuannya. Jadi anaknya itu sedang melanjutkan S2 di salah satu perguruan tinggi di kota ini. Nah, kebetulan anaknya itu dapat beasiswa, dia sedang mengurus surat-suratnya."
"Oh, begitu. Hebat ya Masya Allah."
"Nah, Ayah kan sempat janjian makan siang tuh sama Dani, banyak yang kita obrolin selama makan siang itu, lalu Dani punya ide memperkenal Eyza dengan putrinya itu."
"Maksud Ayah?"
"Dia ingin menjodohkan putrinya itu dengan Eyza, dan Ayah menyetujuinya. Ayah pikir apa salahnya, toh Eyza kan juga masih sendiri. Ayah sudah lihat foto putrinya Dani itu, keliahatannya anak yang baik, dan masya Allah cantik."
"Ayah serius?" tanya Bunda cukup terkejut mendengar cerita Ayah.
"Ayah yakin Eyza akan mau?"
"Kan kita coba dulu."
"Tapi memangnya benar putirnya Dani itu belum punya pacar?"
"Sudah putus sejak dari enam bulan yang lalu, karna calonnya itu di jodohkan oleh orangtuanya."
"Oh, begitu."
"Iya, menurut Bunda bagaimana?"
"Ayah yakin Eyza akan menerima perkenalan ini?"
"Kan kita coba dulu Bun, makanya Bunda bantu Ayah bicarakan ini."
__ADS_1
"Insya Allah nanti Bunda coba bantu bicara. Jadi itu sebabnya Ayah cari foto Eyza untuk di kasih ke Dani?"
"Iya benar, tapi dari tadi Ayah cari di laptop nggak ketemu ya, kalau Bunda ada, coba Bunda kirim ke Ayah."
"Iya nanti Bunda kirim, sekarang Bunda panggilkan Eyza dulu ya? Kita bicarakan sekarang, mumpung dia ada di rumah."
"Iya Bun."
Bunda pun keluar dari ruang kerja Ayah, menuju ruang keluarga untuk memanggil aku.
"Eyza!"
"Iya Bun."
"Bisa ikut Bunda sekarang? Ada yang ingin Ayah dan Bunda bicarakan."
"Iya Bun, bisa." Aku pun mematikan televisi lalu melangkah mengikuti Bunda, ke ruang kerja Ayah.
"Kesini Eyza, duduk dekat Ayah!" ucap Ayah, aku pun duduk di samping Ayah, sedangkan Bunda duduk di sampingku.
"Jadi begini Eyza. Ayah dan Bunda sudah bicarakan soal ini barusan. Ayah dan Bunda ada niat ingin memperkenalkan kamu dengan anak perempuan teman lama kami."
"Maksud Ayah. Ayah ingin menjodohkan aku lagi?"
"Iya begitu."
"Kenapa sih Yah. Ayah nggak pernah kapok jodohin aku."
"Ayah hanya ingin kamu mendapatkan gadis yang tepat dan segera menikah Eyza, usia kamu sudah cukup untuk menikah."
"Tapi kan Eyza bisa cari sendiri Bun, nggak harus di jodoh-jodohin seperti ini."
"Bunda percaya kamu bisa cari sendiri. Ayah dan Bunda kan hanya berusaha mencarikan yang baik, selanjutnya semua keputusan ada di tangan kamu."
"Darimana Bunda tahu kalau gadis itu baik buat Eyza?"
"Dia itu anak teman lama Ayah dan Bunda, kami kenal baik dengan teman kami itu. Ayah dan Bunda yakin dia dan istrinya telah mendidik anak-anak mereka dengan baik."
"Iya Eyza, sekarang aja anaknya itu sedang melanjutkan S2 di kedokteran, dapat beasiswa juga. Ayah sudah lihat fotonya, kelihatanya anak baik dan masya Allah cantik Nak."
"Oke, oke. Kalau itu mau Ayah dan Bunda, baiklah Eyza mau di perkenalkan dengan gadis itu, tapi janji ya kalau Eyza nggak sreg, Eyza boleh menolak."
"Iyaaa kan tadi Bunda sudah jelaskan semua keputusan ada di tangan kamu," jawab Ayah.
"Kalau begitu, Ayah mau minta alamat rumah teman Ayah itu, malam ini kita ke rumahnya."
"Secepat ini?" tanyaku dengan wajah terkejut.
"Lebih cepat lebih baik kan?"
"Baiklah! Ayah memang selalu benar!" ucapku membuat Ayah tersenyum.
"Kamu siap-siap sana, ini sudah jam lima sore, habis maghrib kita langsung berangkat!"
"Baik Ayah!" Aku pun keluar dari ruang kerja Ayah, untuk mandi sore dan bersiap-siap di perkenalkan dengam anak teman Ayah dan Bunda.
__ADS_1
"Bun, kamu juga siap-siap ya! Dan tolong dandanin Eyza serapih mungkin, jangan sampai dia dandan asal-asalan."
"Iya." Bunda pun keluar dari ruang kerja Ayah.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" jawabku dari dalam kamar, lalu Bunda pun ke dalam kamarku.
"Eh, Bunda!"
"Kamu sudah siap?"
"Ini lagi siap-siap Bun."
Bunda melangkah menuju lemari pakaianku, kemudian memilihkan baju untukku.
"Pakai yang ini aja," ucap Bunda lalu menyerahkan kemeja lengan panjang putih bergaris biru dan jas beludru warna coklat mocca.
"Aduh, kaya mau kondangan Bun, resmi banget."
"Memang ini acara resmi, sudah kamu nurut aja."
"Oke, oke. Eyza nurut, tapi nggak usah pakai dasi ya? Dan celananya Eyza mau pakai levis warna biru langit ini."
"Iya nggak apa-apa, itu juga cocok."
"Kok Bunda masih di sini? Kan Eyza mau pakai baju."
"Oh, iya. lupa, Bunda juga mau siap-siap dulu ya." Bunda pun segera keluar dari kamarku.
Selesai berpakaian dan memakai sepatu, aku segera menuju ruang tamu. Mememui Ayah dan Bunda yang sudah menungguku dari tadi.
"Nah, begini kan keren, rapih jangan seperti yang sudah-sudah."
"Ya sudah, ayo kita berangkat nanti kemalaman!" ucap Bunda lalu menuju mobil yang sudah ada di pelataran rumah, di ikuti olehku dari belakang.
Ayah melihat pesan yang masuk di ponselnya, rupanya teman Ayah yang mengirmkan pesan memberitahukan alamat rumahnya, lalu menuju mobil.
Aku menyetir mobil, Ayah dan Bunda duduk di bangku tengah. Ketika mobil yang aku kendarai sedang melaju tiba-tiba Ayah meminta aku membelokan mobilnya, berhenti di sebuah rumah yang cukup besar.
"Berhenti di sini Eyza!"
"Loh, ini kan rumahnya Kak Sarah, mau ngapain Ayah kesini? Ah, sebaiknya nanti saja aku tanyakan setelah pulang dari rumah teman Ayah. Mungkin saja Om Dani itu teman kantor Ayah, dan Ayah sedang ada keperluan sebentar." ucapku dalam hati, lalu membelokan mobil, masuk ke dalam rumah itu yang pintu gerbangnya sudah di buka oleh security.
Ayah dan Bunda turun dari mobil, tapi aku tetap saja duduk di dalam mobil.
"Loh, kok kamu nggak turun Za?" tanya Ayah padaku.
"Memangnya aku harus turun juga?"
"Ya iyalah, masa kamu nggak turun sih," jawab Ayah lalu menutup pintu mobil.
Akhirnya aku pun ikut turun dari mobil, lalu berjalan mengikuti Ayah dan Bunda dengan berbagai pertanyaan di dalam hatiku.
*Bersambung .........
__ADS_1
Sabar ya Kakak š*