Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Menjenguk Reno


__ADS_3

šŸŠšŸŠšŸŠšŸŠ


"Kepada sang saka merah putih, hormaaat gerak!" Komandan upacara memimpin upacara hari ini. Semua siswa memberi hormat kepada bendera merah putih yang berkibar di atas tiang di lapangan sekolahku. Diiringi lagu kebangsaan 'indonesia raya' penghormatan terhadap sang merah putih pun berjalan dengan khidmat.


Setelah satu jam akhirnya kegiatan upacara bendera di hari senin pagi ini pun selesai, para siswa meninggalkan lapangan sekolah kembali ke kelasnya masing-masing.


"Selamat pagi anak-anak!" Pak Burhan tiba di kelasku.


"Pagi Pak!" jawab para siswa serentak.


"Sekarang buka buku agama kalian tentang bab persaudaraan sesama muslim. Oke, sudah?"


"Sudah Pak!" jawab para siswa serentak.


"Dalam bab ini di jelaskan tentang persaudaraan sesama muslim. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Saw, disebutkan 'Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat, hadits riwayat Bukhari. Maksud menutupi kesalahan disini adalah aib saudara kita, jika kita menutupi aib saudara kita sesama muslim, tidak mencari-cari kesalahannya maka Allah juga akan menutupi aib kita di akhirat kelak."


"Bagaimana dengan saudara kita yang non muslim Pak, apa kita juga harus menutupi aibnya?" Syarif bertanya kepada Pak Burhan.


"Tentu saja, mereka juga saudara kita sesama manusia, sama-sama makhluk ciptaan Allah, kita juga harus menutupi aibnya, jangan sekali-kali kita mencari-cari kesalahannya dan kita juga harus selalu menjaga hubungan baik dengan mereka sama seperti kita menjaga hubungan baik dengan saudara muslim kita dengan batasan-batasan yang sudah diatur dalam agama tentunya, seperti kita tidak boleh mengikuti cara ibadah mereka atau memakan dan meminum yang sudah di haramkan dalam agama kita, sedang dalam agama mereka tidak di haramkan. Tidak ada toleransi beragama dalam hal seperti itu." Pak Burhan memberi penjelasan.


Setelah dua jam belajar akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Para siswa keluar kelas menuju kantin sekolah. Hari ini aku ke kantin sendiri karna Reno sedang sakit, tidak masuk sekolah. Ujang pun masih di dalam kelas tidak ingin ke kantin.


Aku memesan jus mangga dan semangkuk bakso, kemudian mencari meja yang masih kosong.


"Eyza, kamu tumben sendirian, dimana teman-teman kamu?" tiba-tiba Kak Sarah menyapaku.


"Eh, Kak. Reno nggak masuk sekolah Kak, sedang sakit kalau Ujang lagi nggak ingin ke kantin."


"Oh, begitu!"


"Kakak juga sendirian aja?"


"Iya nih," jawab Kak Sarah kemudian tersenyum.


"Berarti kita sama-sama lagi sendiri Kak," ucapku mengoda Kak Sarah, entah dia mengerti maksudku atau tidak.


"Haha iya," jawab Kak Sarah.


"Bagaimana kalau kita berbagi kesendirian? Kakak duduk disini aja," ucapku kemudian tersenyum. Kak Sarah terdiam sesaat lalu tertawa lagi.


"Haha oke, saya duduk disini. Sebentar saya pesan mie ayam dulu."


"Baiklah!" jawabku dengan senang hati.


Tak berapa lama, Ka Sarah datang membawa semangkuk mie ayam dan segelas jus alpukat, kemudian duduk di hadapanku.


"Selamat makan," ucapku, kemudian kami pun memakan makanan yang kami pesan masing-masing.


"Reno sakit apa?" tanya Kak Sarah.


"Saya juga tidak tahu persis, sepertinya gejala thypus Kak."


"Oh ya, kasihan Reno. Kamu tidak menjenguk?"


"Insya Allah setelah pulang sekolah, saya dan Ujang mau kerumahnya Kak."


"Oh ya, boleh saya ikut?"


"Tentu saja boleh Kak."


"Baiklah, nanti saya ajak Nancy teman sekelas saya boleh?"


"Boleh Kak, boleh."


Kami pun melanjutkan makan siang kami, tak lama kemudian bel tanda istirahat selesai pun berbunyi.


Tettt! Tettttttttttttt!


"Biar saya yang bayar Eyza," ucap Kak Sarah.


"Tidak usah Kak, saya bayar sendiri saja."


"Sudah nggak apa-apa, saya nggak mau ada hutang, kemarin kamu yang membayar mie ayam dan es dawet yang saya makan."


"Loh, itu bukan hutang Kak, memang saya niat mau traktir Kak Sarah kok!"


"Saya pun niat mau traktir kamu hari ini," ucap Kak Sarah kemudian tersenyum padaku. Senyum yang membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Baiklah kalau Kakak memaksa," ucapku kemudian aku balas senyumannya.


Aku menunggu Kak Sarah selesai membayar makanan kami, kemudian kami pun jalan bersama menuju kelas masing-masing. Sepanjang perjalanan kami mengobrol kadang di selingi dengan tertawa.


"Ya Allah, andai kelas kami masih beberapa kilo meter lagi," gumamku dalam hati.


Tiba juga kami di depan kelas Kak Sarah.


"Saya duluan ya," ucap Kak Sarah.


"Iya Kak, trimakasih ya."

__ADS_1


"Loh, kalian habis dari kantin?" ucap Kak Salman yang tiba-tiba ada di belakangku.


"Eh, iya tadi kebetulan ketemu di kantin," ucap Kak Sarah pada Kak Salman.


"Iya Kak, tadi kebetulan ketemu, kalau begitu saya pamit ya Kak Sarah, Kak Salman."


"Iya," ucap Kak Sarah dan Kak Salman bersama.


Aku pun segera pergi sedikit berlari menuju kelasku, karna bel sudah berbunyi daritadi.


"Kamu kelihatan akrab dengan anak itu Sarah?" tanya Kak Salman.


"Kadang saya bantu dia kalau dia kesulitan dalam soal pelajaran. Saya ingat Faiz kalau lihat dia, jadi saya bantu."


"Oh, begituuu!" ucap Kak Salman.


"Memangnya kenapa ya?" tanya Kak Sarah penasaran karna baru kali ini Kak Salman bertanya seperti itu, apalagi memang tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka.


"Nggak ada apa-apa kok, saya hanya bertanya," jawab Kak Salman kemudian tersenyum.


"Baiklah kalau tidak ada apa-apa, saya mau ke tempat duduk saya ya!"


"Iya, silahkan!" jawab Kak Salman.


Bel pulang sekolah pun berbunyi.


"Maaf Eyza, kamu sudah menunggu lama ya?"


anya Kak Sarah padaku.


"Nggak kok Kak!"


"Syukurlah. Oh iya, kenalkan ini teman saya Nancy!" Kak Sarah memperkenalkan temannya padaku dan Ujang.


Kami pun saling berjabat tangan.


"Nancy!"


"Eyza!"


"Nancy!"


"Ujang!"


"Saya sudah pesan taksi online, mungkin sebentar lagi sampai," ucapku.


"Maaf mas, pemesanan atas nama Faeza bukan ya?" tanya supir taksi online padaku.


"Iya betul Pak!" jawabku.


Kami pun segera masuk ke dalam mobil. Aku duduk di depan dekat dengan Pak supir, Kak Sarah dan Nancy di tengah, dan Ujang duduk di belakang.


"Nanti berhenti sebentar di toko buah ya?" Pinta Kak Sarah.


"Iya Kak!" jawabku.


Setelah membeli buah, kami pun melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, akhirnya sampai juga kami di depan rumah Reno, segera aku buka seatbelt kemudian membayar taksi.


"Ini uangnya Eyza." Kak Sarah menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah padaku.


"Nggak usah Kak, biar saya yang bayar."


"Loh, masa kamu lagi yang bayar."


"Ya nggak apa-apa kan uang jajan saya masih utuh."


"Hehehe saya jadi berhutang lagi sama kamu."


"Kakak cukup membayarnya dengan mentraktir saya lagi."


"Hehehe oke siaaap!" ucap Kak Sarah.


"Hehehe saya bercanda Kak!"


Kami pun menuju rumah Reno.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, sebentar," ucap seorang ibu dari dalam rumah, kemudian membukakan pintu untuk kami.


"Renonya ada tante?" ucapku pada ibu itu.


"Ada, kalian teman sekolahnya ya?"


"Iya, kami datang ingin menjenguk," jawab Kak Sarah pada ibunya Reno.


"Mari silahkan masuk!"


Kami pun masuk, kemudian duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian Reno pun muncul.

__ADS_1


"Hai Ren, gimana keadaan lo?" tanyaku pada Reno.


"Alhamdulillah, baik Za!"


"Sini duduk deket gue!" ucapku mengajak Reno duduk didekat aku.


"Elo nggak takut ketularan Za?"


"Memangnya penyakit lo menular?"


"Nggak sih, cuma kan lo gampang sakit Za!"


"Sok tahu, Memangnya lo kenal gue dari bayi?"


"Sudah, sudah kalian tuh kalau sudah ketemu berdua, haduhhhh," ujar Kak Sarah menghentikan pembicaraanku dengan Reno.


"Hehehehe maaf Kak," ucapku.


Reno pun duduk di sampingku. Dengan badan yang masih sedikit lemah, dia sandarkan bahunya di sofa.


"Sekarang bagaimana keadaan kamu Ren?" tanya Kak Sarah.


"Alhamdulillah sudah mendingan Kak!"


"Alhamdulillaaaaah, oh iya kenalkan ini teman saya Nancy!"


"Hallo, saya Nancy!"


"Hallo Kak, saya Reno!"


Tak lama kemudian asisten rumah tangga Reno datang membawa nampan berisi empat cangkir teh manis hangat, kemudian meletakannya di atas meja, lalu mempersilahkan kami minum.


"Silahkan di minum!"


"Trimakasih ya Bi," ucap Reno.


"Iya Den, bibi permisi ke dapur lagi ya!"


"Iya Bi!"


"Ayo silahkan di minum, Kak Sarah dan yang lainnya."


Kami pun meminum teh yang di bawakan asisten rumah tangga Reno barusan.


"Oh iya Ren, ini dari Kak Sarah." Aku menyerahkan bungkusan berisi buah jeruk dan Pisang.


"Apaan ini? Nggak usah repot Kak."


"Nggak apa-apa, kamu kan lagi sakit," ucap Kak Sarah pada Reno


"Terimakasih ya Kak!"


"Sama-sama Ren!"


"Kok, lo nggak bawain apa-apa Za, Jang? Kak Sarah aja bawain gue buah."


"Ntar gue kirim lewat ojek online," jawabku.


"Beneran ya?"


"Serius!"


"Memang lo mau kirimin gue apaan Za?"


"Duren!"


"Serius lo Za?"


"Iya, kalau kebon duren Kakek gue udah panen."


Semua tertawa mendengar ucapanku. Kak Sarah pun tersenyum kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu sama Reno, sehari nggak bercanda rasanya ada yang kurang ya?"


"Iya Kak, sepi banget nggak ada dia nih, nggak ada yang saya ledekin hahahaha!


"Dasar lo Za, senang banget ledek gue."


"Hehehe bercanda Ren, lo segeran kan sekarang abis gue ajak ketawa?"


"Hehehe iya sih, berkeringat gue sekarang."


"Tuh, kan bener!"


"Ya sudah kami pulang ya Ren, kamu cepat sembuh ya," ucap Kak Sarah.


Setelah berpamitan dengan Ibunya Reno, kami pun pergi meninggalkan rumah Reno.


**Sabar ya menunggu kelanjutannya, insya Allah segera di update ☺☺

__ADS_1


__ADS_2