Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Malam Kedua


__ADS_3

šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜


"Kamu masih cuti kerja, Eyza?" tanya Om Dani padaku.


"Iya, Pah. Saya ambil cuti 3 hari, tinggal satu hari lagi."


"Sarah juga cuti tiga hari kalau nggak salah."


"Iya, dia masuk bareng saya nanti."


"Oh, iya. Bagaimana pekerjaanmu, kamu nyaman di kantormu yang sekarang?"


"Alhamdulillah nyaman aja Pah. Di kantor sedang ada proyek untuk pembangunan apartemen, kebetulan saya yang desain gambarnya."


" Oh, ya. Bagus dong. Kalau nanti kamu sudah ada rezeki untuk bangun rumah, kamu bisa desain sendiri."


"Insya Allah Pah. Aamiin aamiin ya robbal'alamiin."


Tak lama kemudian Kak Sarah muncul membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring cemilan.


"Ini kopinya!"


"Iya, terima kasih," jawabku.


"Kalian tidak berencana menunda punya anak kan?"


Aku dan Kak Sarah saling berpandangan begitu mendengar ucapan Om Dani.


"Insya Allah Pah," ucap Kak Sarah.


"Alhamdulillaaaah," ucap Om Dani senang.


"Kamu bisa bermain catur Eyza?"


"Bisa sedikit-sedikit Pah."


"Ya sudah, kita main catur sekarang," ucap Om Dani lalu mengambil catur di dekat meja buku.


Aku dan Om Dani pun bermain catur.


"Aduh, kalau Papah sudah main catur pasti lama deh. Sarah ke kamar duluan ya udah ngantuk!" Kak Sarah pun pergi meninggalkan aku dan Om Dani.


"Waduh. Papah Dani kalau main catur lama? Sampai jam berapa ini? Yang ada Kak Sarah keburu tidur, salah kayanya aku bilang bisa main catur," gumamku dalam hati.


Kami masih saja asik bermain catur sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Ayo Eyza, jangan patah semangat begitu."


"Bukan patah semangat Pah, tapi saya mengantuk."


"Oh, kamu sudah mengantuk. Oh, iya sudah malam ya. Ya sudah kita akhiri permainan kita sampai di sini saja."


"Kalau begitu, Eyza pamit ke kamar ya Pah."

__ADS_1


"Iya, silahkan."


Aku pun segera berdiri lalu pergi menuju kamar Kak Sarah. Begitu aku masuk ke dalam, ku lihat Kak Sarah sudah berbaring di tempat tidurnya.


"Yaaah, udah tidur. Kelamaan main catur nih aku," gumamku dalam hati. Lalu aku segera pergi ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian. Kemudian aku baringkan tubuhku di samping Kak Sarah. Ketika aku sedang asik memandangi wajahnya tiba-tiba dia terbangun.


"Kamu sudah selesai main caturnya?"


"Sudah, baru saja."


"Ya sudah tidur."


"Nggak bisa tidur."


"Kenapa memangnya?"


"Barusan badanku gerah banget ya sudah mandi aja. Eh, sekarang malah nggak bisa tidur."


Kak Sarah tersenyum, " Ya sudah, saya akan temani kamu sampai kamu mengantuk."


Aku balas senyumannya, "Kalau begitu temani aku ngobrol ya!"


"Mau ngobrol apa?"


"Apa aja yang seru."


Tiba-tiba aku teringat pembicaraanku dengan Om Dani tentang desain bangunan.


"Kamu tahu nggak kalau dokter spesialis anak itu memang tepat menikah dengan seorang arsitek?"


Aku belai rambut Kak Sarah yang panjang dan lembut, kemudian pipinya lalu ku pegang dagunya.


"Jika kamu mengizinkan, biarkan aku rancang calon anak kita di dalam rahim kamu."


"Mak-maksud kamu?"


"Aku tak bisa menjelaskannya lewat kata-kata karna sebuah rancangan hanya bisa di jelaskan lewat gambar."


"Apa kamu akan membuat sketsa wajah calon bayi kita kelak?"


"Iya, hanya jika kamu mengizinkan."


Aku terus saja mendekat sampai wajahku hanya berjarak beberapa centimeter saja dari wajah Kak Sarah, kemudian aku kecup keningnya, lalu berbisik di telinganya.


"Aku mencintaimu Sarah, sangat mencintaimu."


Kak Sarah tersenyum, "Aku senang, akhirnya kamu memanggilku dengan nama itu."


"Mulai malam ini, kita akan memulai hidup baru. Bukan lagi antara Kakak kelas dan adik kelas, tapi sebagai sepasang suami istri. Apa kamu sudah siap?"


Kak Sarah tersenyum malu, wajahnya sudah mulai merona, lalu dia diam untuk beberapa saat, "Insya Allah, aku sudah siap."


Aku tersenyum, ku dekatkan wajahku lebih dekat lagi dengan wajah Kak Sarah. Aku cium keningnya sekali lagi, lalu kedua kelopak matanya.

__ADS_1


Jantung Kak Sarah berdetak cepat, tangannya meremas sprei bercorak mawar merah yang melekat di tempat tidur, mungkin ini pengalaman pertamanya di sentuh oleh laki-laki.


Setelah mencium kedua pipinya, lalu hidungnya, kemudian lehernya terus turun sampai ke dada, tak lama kemudian bibir kami pun saling menyapa. Awalnya Kak Sarah hanya diam saja, tapi semakin lama dia pun membalas kecupanku dengan sempurna. Aliran darah di tubuh kami pun bergerak begitu kencang, membuat tubuh kami semakin menegang.


Ini juga pengalaman pertama bagiku, tapi jika kita sudah berada di dekat wanita yang kita cinta, maka semua akan berjalan apa adanya. Tanpa les private atau bimble, semua terjadi secara otodidak.


Kak Sarah semakin meremas spreinya, namun aku tenangkan dengan menatap matanya.


Aku lepas kaos putih tipis yang melekat di tubuhku, sehingga semakin memperlihatkan bentuk tubuhku yang atletis, ternyata itu malah semakin membuat jantung Kak Sarah berdegup kencang.


Aku raih tangan yang meremas sprei itu, lalu aku arahkan ke dada bidangku, ku biarkan tangan itu terus berjalan sampai menyentuh perutku yang six pack.


Mataku terus saja memandangnya, "Kamu deg-degan sayang?"


Kak Sarah hanya tersipu malu sambil menggigit bibir bawahnya yang tipis, tak menjawab pertanyaanku.


"Aku milikmu malam ini," ucapku lalu tersenyum menggodanya.


Aku tarik selimut yang menutupi setengah tubuh kami, hingga menutupi seluruh tubuh kami, dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Tak terasa semakin dalam, semakin malam, dan kami pun semakin tenggelam. Tak ada suara juga cahaya, hanya ada suara nafasku dan nafasnya yang semakin lama semakin tergesa-gesa, dan kami pun sudah basah bermandikan keringat karna terlalu bersemangat.


Kami semakin tenggelam dalam buaian rasa. Rasa cinta, rasa sayang, rasa rindu, bahkan rasa malu, semua semakin menyatu di balik selimut itu.


Sprei semakin acak-acakan, apalagi dengan dua insan yang ada di balilk selimut itu, entah masih berpakaian atau sudah terlepas, hanya mereka berdua yang tahu.


Mentari pagi menyapa kami hingga sinarnya menembus sampai ke jendela. Kak Sarah terbangun lebih dulu. Dia pandangi wajahku yang masih tertidur pulas. Di belainya rambutku yang sudah acak-acakan, kemudian mencium pipiku dengan lembut.


"Aku juga mencintaimu Eyza," Bisik Kak Sarah di telingaku.


"Apalagi aku Sarah, bukan hanya cinta. Aku tergila-tergila padamu," balasku dengan mata yang masih terpejam.


Betapa kagetnya Kak Sarah mendengar ucapanku barusan, dia pikir aku masih tidur.


"Jadi kamu sudah bangun juga?"


Aku buka mataku, "Hehehe sudah!"


"Iiihh, kamu selalu bikin aku malu," ucap Kak Sarah sambil memukul pelan bahuku.


"Kenapa harus malu, bukankah semalam kamu sudah memperlihatkan semuanya padaku?"


Kak Sarah tersipu malu. Segera dia ambil piyamanya, kemudian memakainya, lalu segera pergi ke kamar mandi. Aku hanya tersenyum melihat sikapnya.


"Heummm rupanya seperti ini, rasanya jadi pengantin baru, benarlah kata pujangga bahwa dunia hanya milik berdua," gumamku dalam hati lalu senyum-senyum sendiri.


šŸ’žšŸ’•šŸ’žšŸ’•šŸ’žšŸ’•šŸ’žšŸ’•šŸ’žšŸ’•


Bersambung .....


Maaf ya kalau kurang greget. Author takut kebablasan šŸ˜€


Silahkan berimajinasi menurut seleranya masing-masing ya Kakak ☺

__ADS_1


Sampai jumpa di episode berikutnya, see you šŸ˜‰


__ADS_2