
šššššš
Aku hampiri Kak Sarah yang sudah memejamkan matanya, lalu aku baringkan tubuhku di sampingnya. Ku pandangi wajahnya yang tenang, kemudian aku coba memberanikan diri untuk mencium keningnya.
"Maafkan aku Eyza, aku belum siap. Walau sekarang aku sudah sah menjadi istrimu, tapi aku belum siap memberikan semuanya padamu," ucap Kak Sarah dalam hatinya begitu merasakan ada kecupan hangat mendarat di keningnya.
Pagi pun tiba, tapi kami bangun kesiangan karna jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi, mungkin karna selesai sholat shubuh kami tertidur lagi.
Begitu Kak Sarah tersadar dari tidurnya, betapa terkejutnya dia, karna tanganku sudah melingkar erat di perutnya, namun mataku masih saja terpejam begitu pulasnya.
Kak Sarah memindahkan posisi tanganku perlahan, kemudian dia segera bangun lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi pagi.
Selesai mandi dia segera pergi ke dapur untuk membuatkan susu coklat panas untukku.
"Kamu baru bangun Sarah?"
"Iya Mah, kesiangan Sarah."
"Mamah maklum kok," ucap Mamah Lina lalu tersenyum.
"Eyza mana?"
"Masih tidur Mah, ini Sarah mau buatkan sarapan untuk dia."
"Oh, iya."
Selesai buatkan sarapan, Kak Sarah kembali ke kamarnya, lalu meletakkan segelas susu coklat panas dan sepotong sandwich di atas meja dekat tempat tidur, lalu duduk di pinggir tempat tidur, mencoba membangunkan aku.
Aku terbangun begitu merasakan ada tepukan lembut di pipiku.
"Eh, aku kesiangan ya!"
"Itu lihat aja sudah jam berapa?"
Begitu aku lihat ke arah jam dinding ternyata sudah pukul sembilan pagi.
"Astagfirullah," ucapku.
"Ya sudah mandi dulu sana, baru kemudian sarapan."
"Iya." Aku segera bangun dari tempat tidur lalu melangkah menuju kamar mandi.
Begitu keluar dari kamar mandi, Kak Sarah memalingkan wajahnya karna aku hanya memakai handuk, sehingga terlihat dada bidangku juga perutku yang rata.
"Kamu lupa menaruh baju gantiku di kamar mandi."
"Iya maaf, itu ada sudah saya letakkan di atas meja," ucap Kak Sarah dengan wajah masih berpaling dariku.
"Kenapa Kakak harus malu? aku kan bukan adik kelas Kakak lagi," tanyaku meledek Kak Sarah.
"Hehe maaf, saya belum terbiasa."
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
"Saya ganti baju di sini nggak apa-apa?"
"Iya nggak apa-apa kok, saya nggak lihat."
"Kamu kasih saya celana training, apa kamu mau ajak saya olahraga di jam segini?"
"Iya, olahraga kan baik untuk kesehatan, ini kan belum siang-siang banget."
"Hemmm oke."
Selesai berpakaian aku menghampiri Kak Sarah yang masih saja memalingkan wajahnya dariku, kemudian aku berbicara pelan tepat di telinganya.
"Kakak kelasku saayaaang, aku sudah selesai."
Kak Sarah kaget dan langsung memalingkan wajahnya ke wajahku, sehingga bibir kami saling bertemu. Kami terdiam sesaat, tapi tiba-tiba Kak Sarah mendorongku.
__ADS_1
"Aduhh, kamu yang menciumku kenapa aku yang di dorong."
"Maaf, maaf saya nggak sengaja," ucap Kak Sarah gugup.
"Yang mana yang nggak sengaja? Saat kamu mendorong aku, atau .... ? " lagi-lagi aku meledeknya.
"Kita sudah kesiangan, ayo berangkat!"
Aku hanya tersenyum, melihatnya tersipu malu dengan wajah yang sudah mulai merah merona.
"Aduh, Saraaah malu-maluin aja, kenapa pakai kaget segala sih!" gumam Kak Sarah dalam hatinya.
Aku duduk di tepi tempat tidur lalu meminum susu coklat dan melahap sandwich yang barusan di bawa Kak Sarah.
"Saya tunggu di luar ya!" baru saja Kak Sarah akan melangkah, aku langsung meraih tangannya.
"Tidak baik, meninggalkan suami sarapan seorang diri. Kamu di sini saja, temani aku sarapan."
"Iya," jawab Kak Sarah lalu duduk di sampingku. Seolah aku bisa rasakan, detak jantung Kak Sarah begitu kencang, apalagi aku masih saja menggenggam tangannya.
"Ya sudah yuk, aku selesai sarapan." Kami pun berdiri dari tempat tidur lalu keluar, begitu sampai di pintu kamarnya, dia melepaskan genggaman tanganku perlahan.
"Maaf Eyza, nggak enak di lihat orang rumah nanti."
Aku tersenyum, " Oke, aku lepas."
Kami pu keluar kamar, begitu sampai di ruang keluarga sudah ada Om Dani dan Tante Lina, juga Dewi.
"Cie, cieee mentang-mentang pengantin baru, bangunnya siang banget."
Aku dan Kak Sarah hanya tersenyum mendengar ucapan Dewi.
"Kamu nggak tahu aja Dewi, kami belum melakukan apa-apa, cuma bangunnya aja yang kesiangan, karna bergadang semalaman," ucapku dalam hati.
"Mah, pah. Sarah sama Eyza mau jalan pagi dulu ya!"
"Iya, memang kenapa?"
"Ya, nggak kenapa-kenapa juga."
"Ya sudah, Sarah berangkat ya!"
Aku dan Kak Sarah mencium tangan Om Dani dan Tante Lina, lalu pergi ke taman untuk jalan pagi.
Begitu sampai di taman, ada seseorang yang memanggilku.
"Eyza!" Rupanya Reno yang memanggilku.
"Hai Ren. Di sini juga?"
"Iya nih, biasa. Istri minta jalan-jalan."
"Hai Nancy," sapa Kak Sarah pada Nancy.
"Hai Sarah."
"Hamil kamu sudah mulai besar ya!" ucap Kak Sarah lalu memegang perut Nancy.
"Iya nih. Kita duduk di sana yuk!"
Nancy dan Kak Sarah pun berjalan menuju bangku taman.
"Kita di sini aja Za!"
"Iya." Kami pun duduk di teras taman.
"Gimana Za?"
"Gimana apaan?"
__ADS_1
"Lah, lo kan pengantin baru, masa nggak ngerti."
"Gue masih lugu Ren."
"Hahahaha jangan-jangan lo belum ngapa-ngapain ya?"
"Ssstttttt bisa nggak sih lo ngomong nggak kaya pake toa begitu, nggak enak gue kalau sampai Kak Sarah dengar."
"Iya, iya. Maaf .... "
"Jadi benar kan, kalau lo belum ngapa-ngapain sama Kak Sarah?" kali ini Reno bicara dengan suara yang cukup pelan bahkan hampir berbisik.
Aku hanya menganggukan kepalaku, tanpa menjawab pertanyaan Reno.
"Kok, bisa? Lo ngapain aja semalaman?"
"Nostalgia masa SMA."
" Kehkehkeh .... "
"Ketawain aja gue terus Ren."
"Habisnya lo lucu sih."
"Memangnya gue badut?"
"Hehehe lo butuh waktu bertahun-tahun, buat ungkapin perasaan lo, masa lo butuh waktu bertahun-tahun lagi, buat menjalankan kewajian lo sebagai suami."
"Ya nggak selama itu juga Ren."
"Lama-lama, lo beneran jadi bujang lapuk Za, kalau nggak punya keberanian untuk mulai."
"Cuma saatnya aja Ren, belum pas. Gue pasti berani kok Nanti."
"Iya gue percaya."
"Tapi gimana cara mulainya ya Ren?"
"Hhhhhhh katanya lo berani."
"Ya kan gue cuma tanya."
"Lo coba tanya-tanya tentang pelajaran kek."
"Lah, memangnya gue sama Kak Sarah masih SMA?"
"Ya maksudnya pelajaran, yang tahu-tahu mengarah kesana."
"Pelajaran apaan?"
"Ya lo pikir sendiri lah, kira-kira pelajaran apaan?"
"Kayanya waktu SMA kita nggak ada pelajaran kaya gitu deh Ren."
"Memang nggak ada, makanya lo coba ciptain aja sendiri."
"Ciptain puisi cinta gue bisa, apalagi patah hati."
"Hahaha memang lo kan bucin habis."
"Hehehe ntar deh gue pikirin di rumah, pelajaran apa yang pas."
Karna asik mengobrol, hari pun sudah semakin siang, kami pun segera pulang.
Bersambung .....
Tetap setia menunggu kelanjutannya ya Kakak šš
āļøāļøāļøāļøāļøāļø
__ADS_1