
š¹š¹š¹š¹š¹
"Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai di rumah Bunda.
"Wa'alaikum salam," jawab Bunda kemudian membuka pintu.
"Kamu baru datang jam segini?"
"Iya Bun, maaf tadi Eyza ada sedikit urusan," jawabku lalu ku cium tangan Bunda, kemudian masuk ke dalam rumah, lalu duduk di ruang tamu.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah Bun."
"Kalau begitu tunggu sebentar, biar Bunda buatkan teh manis hangat."
Aku hanya menganggukan kepala, Bunda pun segera pergi ke dapur. Tak lama kemudian Bunda datang membawa secangkir teh manis hangat untukku.
"Ini, minumlah dulu!"
"Iya Bun, terimakasih," ucapku lalu meminum teh manis hangat tersebut.
"Oh, iya tadi Bunda bilang ada yang ingin Bunda bicarakan."
"Iya, Bunda ingin bicarakan hal yang serius denganmu."
Wajahku sedikit menegang begitu Bunda bilang ada hal serius yang ingin di bicarakan.
"Iya Bun, memang ada apa ya?"
"Kamu ada masalah apa dengan Sarah?"
Aku terkejut begitu Bunda menanyakan hal ini.
" Umm .... Nggak ada masalah apa-apa Bun."
"Kamu nggak bisa berbohong sama Bunda Eyza."
"Eh, iyaa sebenarnya aku sama Sarah sedang bertengkar."
"Apa yang kalian ributkan?"
"Kenapa tiba-tiba Bunda menanyakan hal ini?"
"Kamu tinggal jawab pertanyaan Bunda, tidak usah bertanya lagi."
"Baik Bun, kita bertengkar karna Sarah sudah membohongi Eyza."
"Bohong dalam hal apa?"
"Iya dia sudah berbohong."
"Bohong menurut versi kamu yang seperti apa?"
"Dia sudah merawat anaknya Salman selama empat hari, tapi dia tidak bilang apapun pada Eyza."
"Kamu tahu kan istrimu itu orang sibuk, dia pekerja keras sama sibuknya dengan kamu, mungkin dia lupa."
"Lupa? Tidak mungkin dia lupa, dia sengaja menyembunyikannya dari Eyza."
"Kenapa kamu bisa menyangka seperti itu?"
"Bunda tidak lihat sih, betapa akrabnya mereka saat mengobrol, dan Sarah .... Dia begitu menyayangi anaknya Salman."
"Sarah itu kan seorang Dokter anak Eyza, wajar kalau dia akrab dengan pasien-pasiennya."
"Apa harus akrab juga dengan orangtuanya?"
"Tentu saja harus, bagaimana pun orangtua anak itu harus tahu keadaan anaknya, kalau Sarah tidak bersikap ramah bagaimana dia bisa memberi penjelasan yang baik."
__ADS_1
"Tapi orangtua anak itu Salman Bunda, mantan kekasihnya."
"Memangnya kenapa kalau mantan kekasihnya? Toh, Sarah tetap bisa profesional menjalankan tugasnya."
"Profesional apa? Mungkin saja mereka diam-diam masih menyimpan perasaan, makanya Sarah nggak mau Eyza tahu."
"Eyzaaa!" ucap Bunda setengah berteriak membuatku cukup terkejut, karna baru kali ini Bunda memanggilku dengan nada suara yang cukup tinggi.
"Jangan sekali-kali kamu menghina menantu Bunda seperti itu, dia tidak serendah yang kamu pikirkan," ucap Bunda sambil menunjuk ke arahku.
"Tapi aku yang anak Bunda, kenapa dia yang Bunda bela?"
"Karna kamu salah, kamu cemburu buta sampai tidak bisa berpikir jernih, hanya ada prasangka buruk dalam pikiran kamu tentang Sarah."
"Kenyataannya seperti itu Bun, Sarah diam-diam merawat anaknya Salman. Bukankah aku suaminya? Seharusnya dia minta izin dulu padaku."
"Dia itu seorang dokter, Eyza! Bagaimana mungkin dia bisa memilih-milih pasiennya. Sudah kewajiban dia merawat siapa pun yang membutuhkan pertolongannya."
"Aku tahu Bun, tapi apa susahnya sih bicara padaku, bukan malah menutupi ini dari aku."
"Dia tidak menutupi, dia hanya lupa memberitahukan padanmu."
" Akh.... Itu hanya alasan dia saja Bun. "
"Cukup Eyza! Bunda nggak mau dengar lagi kamu terus menuduh dia tanpa bukti yang jelas."
"Kenapa sih, Bunda selalu membela Sarah, dan tidak mempercayai kata-kata anak Bunda sendiri?"
"Sarah juga anak Bunda, sejak dia menjadi istrimu maka dia telah menjadi anak Bunda juga, kamu harus tahu itu."
"Oh, jadi karna sudah menjadi putri Bunda, makanya Bunda selalu membela dia sekarang?"
"Karna Sarah memang tidak bersalah, kamu yang terlalu cemburu buta."
"Eyza akui, Eyza memang cemburu, tapi tetap saja dengan membohongi suami seperti itu, dia sudah salah."
"Seharusnya kamu dengarkan dulu penjelasan dia, jangan main tuduh yang macam-macam."
"Dia punya alasan kenapa belum cerita sama kamu."
"Apa alasannya? Karna dia selingkuh dengan Salman?"
"Cukup Eyza! Kamu sudah keterlaluan, asal kamu tahu saja, sekarang dia sedang mengandung anak kamu, dan kamu malah membiarkan dia kehujanan seperti itu."
"Mak-maksud Bunda, Sarah hamil?"
"Iya, dia ingin memberitahukan ini saat kamu jemput dia tadi, tapi kamu malah menuduh dia macam-macam, bahkan kamu meninggalkan dia begitu saja."
Aku terdiam cukup lama, rasa sesal sekaligus perasaan bersalah kini bersemayam di hatiku.
"Bagaimana Bunda tahu kalau dia kehujanan?"
"Karna dia ada di sini sekarang."
"Jadi?"
"Iya, dia pulang kesini di antar Dokter Yudha, teman kerjanya. Sampai harus laki-laki lain yang mengantar dia pulang. Sedangkan kamu, kamu pergi begitu saja meninggalkan Sarah yang kehujanan, padahal dia sedang mengandung darah daging kamu sendiri."
Bunda menghampiriku, lalu duduk di sampingku kemudian memegang bahuku.
"Eyza, kamu ini seorang laki-laki. Pemimpin dalam keluarga, kalau kamu tidak bisa bersikap bijak dalam menyelesaikan setiap permasalahan dalam rumah tangga, maka rumah tangga kamu bisa goyang. Ingat, kamu ini panutan bagi anak-anak kamu kelak, apa yang kamu tampilkan, itu yang akan di tiru oleh anak-anak kamu."
Aku menarik nafas panjang, lalu menggenggam tangan Bunda.
"Maafin Eyza Bun, Eyza malah mengajak Bunda bertengkar seperti ini," ucapku lalu mencium tangan Bunda.
Bunda tersenyum, "Bunda percaya kamu laki-laki yang baik, kamu seperti ini karna kamu begitu mencintai Sarah. Tapi kamu harus ingat, hati wanita itu sangat lembut, itulah sebabnya dia butuh sikap dan kata-kata yang lembut dari suaminya."
"Iya Bun."
__ADS_1
"Kurangi sifat cemburu kamu yang berlebihan. Kalau bukan suami yang percaya dengan istrinya, lalu siapa lagi yang bisa dia harapkan untuk mempercayai perkataannya? Jangan sampai Sarah pergi meninggalkan kamu, karna tidak kuat menghadapi sifat dan sikap kamu yang seperti ini."
"Sekarang Sarah di mana Bun?"
"Ada di dalam kamar kamu, sedang istirahat."
"Kalau begitu, Eyza ke kamar ya Bun?"
Bunda hanya menganggukan kepala, aku pun segera pergi menuju kamarku.
Begitu masuk ke dalam kamar, aku lihat Sarah sudah tertidur nyenyak, aku hampiri dia, lalu aku genggam tangannya, kemudian aku kecup tangan itu.
"Maafkan aku sayang, aku nggak tahu kalau kamu sedang mengandung anak kita."
Aku pandangi wajah Sarah, aku kecup keningnya, lalu aku lepaskan genggaman tanganku, kemudian aku segera pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Setelah melaksanakan sholat isya dan berganti pakaian, aku baringkan tubuhku di samping Sarah, aku usap perutnya dengan perlahan sampai akhirnya aku tertidur pulas.
Jam di dinding sudah menunjukan pukul lima pagi. Sarah terbangun dari tidurnya, betapa terkejutnya dia melihat aku sudah ada di sampingnya.
"Eyza! Eyza!" Sarah mencoba membangunkan aku dengan menepuk dan mengusap pipiku dengan perlahan.
Aku pun terbangun begitu merasakan ada sentuhan lembut di pipiku.
"Sudah shubuh," ucap Sarah, namun begitu dia ingin turun dari tempat tidur, aku langsung meraih tangannya.
"Maafkan aku, aku baru tahu dari Bunda kalau kamu sedang hamil."
"Jadi kamu sudah tahu?"
Aku hanya menganggukan kepala, "Harusnya ini jadi moment paling spesial buat kita tapi aku malah mengacaukannya karna cemburu yang berlebihan."
"Jadi sekarang kamu percaya? Kalau aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Salman."
"Iya, aku percaya."
Aku bangkit dari tidurku lalu memeluk Sarah, Sarah membalas pelukanku. Air matanya tumpah membasahi kedua pipinya.
"Aku benar-benar menyesal, tidak mempercayai kamu, apalagi sudah membiarkan kamu kehujanan dalam keadaan mengandung seperti ini," ucapku dengan mata yang juga sudah berkaca-kaca menahan sedih.
"Ya sudah, semua sudah terjadi kita lupakan saja."
"Kamu mau maafin aku kan?"
"Iya, aku maafkan kamu," jawab Sarah sambil menganggukan kepalanya.
Aku lepaskan pelukanku dari Sarah, lalu aku kecup keningnya cukup lama, kemudian kedua pipinya, lalu tangannya.
"Aku mencintaimu Sarah, sangat mencintaimu."
Sarah hanya tersenyum mendengar ucapanku.
"Kenapa kamu hanya tersenyum?" tanyaku pada Sarah.
"Cinta bukan hanya sekedar di ucapkan, tapi di buktikan dengan sikap, kalau kamu seperti ini terus, sebentar kamu cemburu, sebentar kamu marah, lalu tidak lama kemudian kamu menyadari kekeliruan kamu. Lalu bagaimana aku bisa mempercayainya, kalau kamu benar-benar cinta sama aku."
"Lalu bagimana caranya untuk membuktikan semua ucapan aku?"
"Kamu harus berubah, jangan seperti ini terus, baru aku bisa percaya kalau kamu memang mencintaiku."
"Baiklah, pelan-pelan aku akan merubah sifatku, asal kamu mau bersabar dan terus mendampingi aku."
Sarah tersenyum, "Insya Allah, aku akan terus mendampingi kamu."
Aku membalas senyumannya, "Terima kasih sayang."
"Ayo kita sholat shubuh sekarang, kita sudah kehabisan banyak waktu." Ajak Sarah padaku.
Aku dan Sarah pun segera beranjak dari tempat tidur, lalu kami pergi ke kamar mandi untuk berwudhu untuk melaksanakan sholat shubuh.
__ADS_1
šššššš