
ššššššš
Sayang, hari ini aku pulang ke rumah Papah ya? Kalau kamu sempat tolong jemput aku kalau sudah pulang kerja.
Sarah mengirim pesan singkat padaku, aku pun segera menyelesaikan pekerjaanku agar dapat segera ku susul Sarah di rumah orangtuanya.
Begitu sampai di rumah orangtuanya Sarah segera menemui Papah Dani.
"Papah di mana Mah?"
"Ada di teras belakang kayanya."
"Sarah temuin Papah dulu ya!"
"Iya."
Sarah pun segera menemui Papah Dani di teras belakang.
"Assalamu'alaikum Pah."
"Wa'alaikum salam," jawab Papah Dani, kemudian Sarah pun mencium tangan Papah Dani.
"Kamu sendiri?"
"Iya, nanti Eyza jemput Sarah begitu pulang dari kantor."
"Oh, begitu. Duduk sini dekat Papah!"
Sarah pun duduk di samping Papah Dani.
"Sebenarnya ada yang ingin Sarah tanyakan Pah."
"Apa itu?" tanya Papah Dani penasaran.
"Sarah terdiam untuk beberapa saat.
"Apa benar Bundanya Eyza itu mantan kekasih Papah?"
Papah Dani terkejut Sarah menanyakan soal itu padanya.
"Kamu tahu dari Adit?"
"Iya Pah."
"Yaah, memang benar. Maaf Papah belum ceritakan ini padamu."
"Apa Papah menjodohkan Sarah dengan Eyza hanya karna obsesi Papah sama Bunda."
"Kenapa bisa berpikir seperti itu? Tentu saja tidak. Papah menjodohkan kamu dengan Eyza karna Eyza anak yang baik."
"Papah yakin hanya itu alasannya?"
"Ya memang hanya itu alasannya."
"Apa Papah masih mencintai Bunda?"
"Tentu saja tidak, hubungan Papah dengan Bundanya Eyza hanya masa lalu, kalau Papah masih mencintai Bundanya Eyza buat apa Papah menikah dengan Mamah Lina."
"Papah begitu antusias menjodohkan aku dengan Eyza, mungkin saja karna Papah belum bisa melupakan Bunda."
Papah Dani menarik nafas panjang, lalu merangkul bahu Sarah.
"Papah harap kamu bisa berpikir lebih jernih Sarah, jangan sampai kamu mengorbankan rumah tanggamu hanya karna keegoisanmu. Papah tahu kamu anak yang baik, walau terkadang kamu sedikit keras kepala tapi Papah yakin kamu sudah cukup dewasa untuk memahami ini semua."
"Sarah hanya cukup terkejut mendengar kebenaran ini, apalagi begitu Sarah tahu kalau ternyata Ayah Radin itu juga mantan kekasih Mamah Lina."
Papah Dani hanya tersenyum mendengar ucapan Sarah lalu menatap matanya.
__ADS_1
"Inilah yang di sebut jodoh, hidup, mati, dan rezeki ada di tangan Allah. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari karna manusia hanya bisa berusaha tetap Allah yang maha menentukan."
"Iya Pah. Sarah mengerti."
"Alhamdulillah kalau kamu mengerti."
"Kalau begitu Sarah ke kamar dulu ya Pah, mau istirahat."
"Iya, kamu istirahat dulu sana."
Sarah pun pergi meninggalkan Papah Dani menuju kamarnya.
Baru tiga puluh menit Sarah di kamar, tidak lama kemudian aku pun datang untuk menjemputnya.
"Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai di rumah kedua orangtua Sarah.
"Wa'alaikum salam," ucap Papah Dani yang sudah berda di ruang tamu.
Setelah mencium tangan Papah Dani, aku pun duduk di di hadapannya.
"Sarah dimana Pah?"
"Dia ada di kamarnya, kamu langsung saja ke kamar."
"Kalau begitu Eyza ke kamar ya Pah?"
"Iya, silahkan!"
Aku pun segera pergi ke kamar Sarah, begitu aku buka pintu aku lihat Sarah sedang berbaring di atas tempat namun matanya menerawang ke atap kamar. Aku hanya duduk di sampingnya memperhatikan ekspresi wajahnya.
"Loh, kamu dari tadi di sini?" tanya Sarah begitu sadar aku sudah berada di sampingnya.
"Baru saja, kamu kenapa? Seperti ada yang kamu pikirkan."
"Ah, nggak ada apa-apa kok."
"Iya benar nggak ada apa-apa."
Aku semakin mendekatkan tubuhku, lalu aku genggam tangan Sarah.
"Walau baru satu tahun lebih kita menikah, aku tahu ada yang kamu sembunyikan dari aku. Sekarang ceritakan ada masalah apa?"
Sarah merubah posisi menjadi duduk lalu bersandar di bahuku.
"Apa kamu sudah tahu?"
"Bagaimana aku bisa tahu, dari tadi kamu tidak cerita apapun dengan aku."
"Jadi kamu benar-benar belum tahu?"
"Belum, memangnya apa?"
"Ternyata Papah itu mantan kekasih Bunda."
"Hah? Kamu serius?" tanyaku setengah tidak percaya, lalu menatap Sarah.
"Kamu tahu darimana?"
"Kak Adit, semalam aku ketemu Kak Adit di rumah sakit, dia sedang berobat di sana."
"Kak Adit sakit?"
"Iya, biasa asam lambungnya kambuh."
"Oh yaa? Lalu Kak Adit cerita apa saja sama kamu?"
"Awalnya aku heran, ketika acara pernikahan kita Kak Adit panggil Bunda dengan sebutan Tante Wirda, sedangkan itu baru pertama kali dia bertemu dengan Bunda, tapi dia sudah tahu nama Bunda."
__ADS_1
"Oh, begitu. Lalu?"
"Ya mumpung semalam aku ada waktu untuk mengobrol dengan dia. Ya sudah aku ajak ngobrol aja."
"Oke, lalu itu bagaimana cerita detailnya, Bunda bisa menjalin hubungan dengan Papah."
"Detailnya aku nggak tahu persis, yang aku dengar dari Kak Adit semalam, kalau Bunda itu mantan kekasih Papah, tapi Papah mengalah karna Bunda lebih mencintai Ayah Radin."
"Jadi begitu ceritanya, aku beneran baru tahu soal ini."
"Ada satu cerita lagi yang kamu bakal terkejut mendengarnya."
"Apa itu?"
"Ternyata Mamah Lina itu mantan kekasih Ayah Radin."
"Apaaa? Ternyata banyak kisah orangtua kita yang kita tidak tahu. Pantas saja Ayah dan Bunda bilang sangat mengenal Papah Dani dan Mamah Lina, ternyata di masa lalu mereka memang menjalin hubungan."
"Papah dan Mamah juga begitu antusias menjodohkan aku sama kamu, ternyata mereka memang sudah sangat mengenal Ayah dan Bunda."
"Tapi ini sangat unik sayang, Bunda dan Papahmu tidak berjodoh, ternyata Tuhan lebih memilih kita yang berjodoh."
" Eh, iya juga ya .... Ternyata kita yang berjodoh."
"Kalau Bunda dan Papah menikah mungkin kita tidak akan bisa bersama."
Sarah tersenyum lalu memelukku, aku pun merangkul bahunya "Kamu tahu nggak? Kalau tadi aku sempat berpikir, kalau Papah hanya terobsesi dengan Bunda, makanya menjodohkan aku sama kamu."
"Haha mana mungkin begitu, hubungan dengan Bunda kan sudah puluhan tahun yang lalu, mana mungkin Papah Dani masih punya perasaan cinta sama Bunda, apalagi sekarang sudah sama-sama menikah dan punya anak."
"Hehehe ya namanya juga terkejut mendengar berita ini, jadi pikiran apa aja masuk ke kepala."
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Sarah, lalu aku angkat dagunya agar lebih dekat dengan wajahku.
"Kamu mau ngapain?" tanya Sarah lalu melepaskan pelukannya dari tubuhku.
"Daripada kita memikirkan kisah cinta orangtua kita yang sudah berlalu, lebih baik kita mengenang kisah cinta kita di kamar ini."
" Hehehe .... " Sarah hanya tertawa lalu mendorongku perlahan.
"Kenapa kamu mendorongku?"
"Habisnya kamu genit."
"Loh, kalau aku nggak genit, kita kapan punya anaknya sayang?"
" Hemmm .... "
"Memangnya kamu nggak mau punya anak?"
"Tentu saja aku mau."
"Kalau kita nggak berusaha kapan kamu bisa hamil? Sekarang kita sama-sama sibuk, ketemu hanya malam hari, itu pun hanya untuk tidur."
"Lalu?" tanya Sarah padaku.
"Lalu sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita bernostalgia di kamar kamu ini."
Sarah menutup wajahku dengan bantal, "Hehehe aku mau mandi."
Sarah pun pergi dari hadapanku lalu segera melangkah ke kamar mandi, aku hanya menghelakan nafasku yang panjang, begitu Sarah meninggalkan aku seorang diri di atas tempat tidurnya.
*Bersambung .....
Nanti kita lanjut lagi ya Kakak, Author mau bobo ciang dulu, nguantuuuuuk.
see you š*
__ADS_1