Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Kebenaran yang baru terungkap


__ADS_3

šŸ€šŸšŸ€šŸšŸ€šŸšŸ€šŸ


Tak terasa enam bulan sudah Sarah bekerja di rumah sakit, selama enam bulan pula dia begitu sibuknya menangani para para pasien di rumah sakit tempat dia bekerja, mulai dari yang di rawat jalan sampai rawat inap.


Malam ini tepat pukul delapan malam Sarah menerima telpon dari rumah sakit, yang mengharuskan dia untuk segera pergi ke rumah sakit karna ada salah satu pasiennya yang tiba-tiba harus di rawat inap, sedang orangtua anak itu menginginkan Sarah yang merawat anak mereka.


"Apa harus malam ini kamu ke rumah sakit, tidak bisa kah besok saja?" tanyaku pada Sarah yang sedang tergesa-gesa hendak pergi ke rumah sakit.


"Nggak bisa sayang, pasienku tiba-tiba kejang ketika sedang mendaftar jadi harus di rawat di rumah sakit, orangtua anak itu menginginkan aku yang merawat anaknya."


"Apa kamu harus melihat keadaannya malam ini juga?"


"Iya, aku ini seorang dokter. Aku harus profesional merawat pasien-pasienku di saat mereka membutuhkan aku, tidak bisa aku lebih mementingkan kepentingan pribadi sedang mereka membutuhkan aku."


"Begitu ya, apa kamu akan menginap di rumah sakit malam ini?"


"Kemungkinan seperti itu, ini makanya aku bawa baju ganti untuk besok khawatir harus menginap di sana."


"Kamu akan tidur di mana?"


"Ya paling di ruang kerjaku."


"Kamu yakin?"


"Asal kamu mengizinkan."


"Aku temani ya!"


"Nggak usah, besok kamu juga kerja kan."


"Ya sudah, aku antar saja kamu malam ini."


Sarah hanya menganggukkan kepala, lalu segera mengangkat tas berisi pakaian ganti untuk besok.


Aku segera mengeluarkan mobil, setelah Sarah masuk ke dalam mobil, kami pun segera berangkat ke rumah sakit.


"Aku hanya mengantarmu sampai pintu masuk rumah sakit nggak apa-apa? Aku juga harus menyelesaikan pekerjaanku malam ini."


Begitu sampai di pintu masuk rumah sakit, Sarah mencium tanganku lalu aku pun segera pergi dari rumah sakit.


Sarah berjalan dengan tergesa-gesa menuju UGD begitu sampai segera dia lihat kondisi pasiennya.


"Loh, jadi anak kalian yang sakit?" tanya Sarah pada Salman dan istrinya.


"Iya Dok, tolong di periksa keadaannya Dok." jawab istri Salman, sedangkan Salman hanya diam saja dengan raut muka penuh kekhawatiran.


"Sebentar saya lihat dulu keadaannya ya!"


Sarah pun masuk ke dalam ruangan UGD.


"Ini sudah di kasih obat apa?" tanya Sarah pada suster yang menangani Ryan.


"Obat penurun panas yang melalui ***** Dok."


"Oke, berapa suhu tubuhnya saat kejang?"


"Empat puluh derajat celcius Dok."


"Kalau sekarang?"


"Sekarang sudah turun Dok, sudah tiga puluh tujuh koma lima derajat celcius Dok."


"Kemungkinan suhu tubuhnya masih naik turun, nanti setiap enam jam sekali di kasih obat penurun panas sirup saja ya, untuk malam ini tidak usah di beri obat apa-apa dulu."


"Baik Dok."


"Jangan lupa di pantau terus suhu tubuhnya."


"Apa perlu di beri infus Dok?"

__ADS_1


"Oh iya, di beri saja."


"Baik Dok."


"Segera pindahkan ke ruang perawatan ya nanti akan saya pantau lagi."


"Baik Dok," jawab Suster.


Sarah pun segera menemui Salman dan istrinya.


"Bapak, ibu. Ryan harus di rawat karna panasnya naik turun jadi harus di pantau terus, apalagi sampai kejang begini."


"Iya Dok. Bagaimana baiknya menurut dokter aja," jawab Rita, istrinya Salman.


"Baiklah, nanti suster yang akan menjelaskan, bagaimana prosedur untuk pasien rawat inap di rumah sakit ini, kalau begitu saya permisi dulu."


"Baik Dok, trimakasih."


"Terima kasih Dokter," ucap Salman.


"Sama-sama," ucap Sarah lalu berlalu dari hadapan Salman dan Rita.


"Untuk keluarga yang menemani hanya di izin satu orang saja ya Bapak, Ibu," ucap Suster kedua orangtua Ryan.


"Biar Ayah saja yang menemani Ryan Bun. Bunda jagain adiknya Ryan saja di rumah."


"Iya Yah, kita urus prosedurnya dulu, baru kemudian Bunda pulang."


Salman dan Rita pun segera pergi untuk mengurus prosedur rawat inap.


Sarah berjalan menuju lantai dua untuk ke ruang prakteknya, tiba-tiba seorang laki-laki memanggilnya dari belakang.


"Sarah!" Sarah pun menoleh ke belakang.


"Kak Adit? Kakak sedang apa di sini?"


"Loh, siapa yang sakit?"


"Asam lambung Kakak kambuh."


"Owalaaah Kakak makan apa memangnya?"


"lagi senang makan yang pedas-pedas eh, malah kambuh."


"Haduuuh dari dulu nggak kapok yaaa sudah tahu punya sakit asam lambung."


"Hehehe oh, iya kamu lagi praktek?"


"Sebenarnya hari ini bukan jadwal aku, tapi barusan terima telpon dari rumah sakit, ada pasien aku yang kejang, dan kedua orangtua anak itu ingin aku yang merawat anak mereka."


"Oh, begitu. Kamu nginep di rumah sakit dong malam ini?"


"Sepertinya begitu."


"Biar Kakak temani."


"Kakak mau nginep juga di sini?"


"Ya, nggak sampai nginep juga, nanti Kakak pulang kalau sudah agak malam."


"Oke lah kalau begitu, bagaimana kalau sekarang ke kantin rumah sakit, kita ngobrol di sana aja?"


"Oke, ayo!" jawab Sarah.


Mereka pun segera pergi ke kantin rumah sakit.


"Oh, iya Kak. Ada yang ingini Sarah tanyakan."


"Kamu mau tanya apa memangnya?"

__ADS_1


"Soal Bundanya Eyza."


Adit terdiam sesaat, "Ada apa dengan Bunda nya Eyza?"


"Kakak kenal Bunda sudah lama? Kenapa Kakak panggil Bunda dengan sebutan tante Wirda?"


"Memangnya kamu nggak ingat sama sekali."


Sarah hanya menggelengkan kepalanya.


"Dulu waktu kita kecil, kita pernah jalan beberapa kali sama tante Wirda."


"Masa sih Kak? Kok aku nggak ingat sama sekali ya!"


"Benaaar, jadi tante Wirda itu dulu mantan kekasih Papah."


"Haahh? Kakak serius?" tanya Sarah dengan wajah terkejutnya.


"Serius, masa Kakak bohong sih."


"Papah cerita ke Kakak?"


"Dulu Kakak juga masih kecil belum memahami benar, tapi seiring bertambahnya usia Kakak mulai banyak bertanya sama Papah. Akhirnya Papah pun menceritakan pada Kakak, mungkin Papah pikir Kakak sudah mulai dewasa, sudah mulai bisa memahami."


"Kenapa Papah akhirnya menikah sama Mamah Lina?"


"Tante Wirda itu lebih mencintai Om Radin, akhirnya Papah mengalah. Nah, Papah bisa menikah sama Mamah Lina, karna di jodohkan sama Tante Wirda dan Om Radin."


"Kakak serius, begitu ceritanya?"


"Buat apa Kakak bohong, memang begitu ceritanya."


"Jadi Bunda itu mantan kekasih Papah," ucap Sarah lalu terdiam beberapa saat."


"Ada satu hal lagi yang mungkin akan membuat kamu terkejut."


"Apa itu Kak?"


"Jadi, Mamah Lina itu ternyata mantan kekasihnya Om Radin."


"Apaaa? Kenapa Papah nggak pernah cerita ini ke Sarah ya?"


"Mungkin dulu Papah menganggapnya tidak perlu menceritakan ini padamu, tapi setelah kamu menikah dengan Eyza, Kakak nggak tahu apa alasan Papah belum juga menceritakan ini padamu."


"Terus terang, aku kaget mengetahui kebenaran ini Kak."


"Tapi kamu harus tetap dewasa menyikapi ini semua ya, jangan sampai kamu merasa di bohongi walau bagaimana pun orangtua pasti punya alasan tertentu kenapa menyembunyikan sesuatu dari kita."


"Iya Kak, terus terang aku masih syok mengetahui kebenaran ini."


"Hehehe dulu Kakak juga kaget waktu tahu ini semua, tapi lama kelamaan Kakak mulai memahami. Inilah yang di sebut jodoh di tangan Tuhan, kita tidak akan pernah tahu sebelumnya dengan siapa kita berjodoh. Sama seperti kamu dengan Eyza, siapa yang bisa menyangka ternyata kamu menikah dengan adik kelas kamu sendiri yang ternyata anak dari mantan kekasih Papah dan Mamah."


"Iya Kak, ternyata skenario Tuhan itu seru dan kadang membuat kita terkejut."


"Hehehe begitulah. Ya sudah, Kakak pulang ya ini sudah malam juga," jawab Adit sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul sebelas malam."


"Iya Kak, Sarah juga mau ke ruang praktek, mau istirahat di sana saja."


"Ya sudah, yuk biar Kakak antar kamu dulu!"


Mereka pun akhirnya pergi ke lantai dua menuju ruang praktek tempat Sarah menerima pasien-pasiennya.


*Semangat ya menulisnya Kakak Author (menyemangati diri sendiri šŸ˜€)


Oke, sampai jumpa di episode berikutnya yang lebih seru lagi ya Kakak.


See you šŸ˜‰


🌹🌹*

__ADS_1


__ADS_2