
Bunda membuka pintu setelah Sarah mengetuknya.
"Sarah!" Bunda terkejut melihat Sarah yang sudah basah kuyup karna kehujanan.
"Assalamu'alaikum Bunda," ucap Sarah lalu mencium tangan Bunda.
"Wa'alaikum salam," jawab Bunda dengan wajah penasaran melihat mata Sarah yang memerah seperti habis menangis.
"Sebaiknya kamu segera ke kamar mandi, mandi dulu, kamu habis kehujanan. Biar tidak masuk angin."
"Iya Bun," jawab Sarah.
"Sebentar Bunda ambilkan baju Bunda untuk kamu ganti baju kamu yang basah itu."
Sarah masuk ke dalam lalu duduk di bangku ruang tamu, sedangkan Bunda segera ke kamar mengambil baju.
Tak lama kemudian Bunda pun datang membawa baju daster panjang bermotif bunga tulip untuk Sarah.
"Ini, setelah mandi kamu istirahat di kamar Eyza ya!"
"Iya Bun, terima kasih," ucap Sarah lalu menerima baju daster itu.
Kemudian Sarah pergi ke kamar mandi, setelah selesai mandi dan berganti pakaian Sarah pun pergi ke kamarku.
Bunda membawakan Sarah secangkir teh manis hangat dan semangkuk bubur kacang hijau.
"Ini kamu makanlah dulu, biar tubuh kamu hangat."
Sarah memakan bubur kacang hijau itu sampai habis lalu meminum teh manis hangatnya.
Bunda duduk di samping Sarah lalu mengusap kepala Sarah dengan lembut.
"Sekarang ceritakan pada Bunda, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa di antar laki-laki lain, selain suamimu?"
"Bunda melihat aku di antar laki-laki tadi?"
"Iya, Bunda lihat dari balik jendela."
"Dia Dokter Yudha, teman kerja Sarah di rumah sakit."
"Lalu bagaimana kamu bisa di antar dengan dia?"
Sarah terdiam untuk beberapa saat, tidak langsung menjawab pertanyaan Bunda.
"Karna Eyza marah sama Sarah, dia langsung pergi begitu saja. Dokter Yudha tidak tega melihat Sarah yang sudah kehujanan jadi dia mengantar Sarah pulang."
"Eyza marah sama kamu?"
"Iya Bun."
"Memangnya apa persoalannya?"
"Dia cemburu."
"Cemburu?" tanya Bunda penasaran.
__ADS_1
"Iya, kadang Sarah tidak tahan dengan sifat pencemburunya yang terlalu, dia tidak mau mendengarkan penjelasan Sarah, dan langsung pergi begitu saja."
" Hhhh .... Itu anak memang pencemburu, apalagi dia begitu mencintai kamu Sarah, sejak dia masih duduk di bangku SMA."
"Iya, Sarah tahu dia cinta sama Sarah, tapi apa harus selalu di selesaikan dengan marah-marah? Kalau dia begini terus Sarah capek Bunda."
Bunda menggenggam tangan Sarah erat.
"Kamu sabar ya nanti Bunda bantu bicarakan ini, agar dia bisa merubah sifat cemburunya itu. Insya Allah dia akan mendengarkan kata-kata Bunda. Sekarang jelaskan bagaimana ini bisa terjadi?"
"Jadi begini Bun, dua minggu yang lalu Sarah punya pasien yang harus di rawat di rumah sakit, karena kedua orangtua anak itu meminta Sarah yang merawat anak mereka."
"Lalu apa hubungannya dengan cemburunya Eyza?"
"Anak yang Sarah rawat itu, anaknya Salman. Mantan kekasih Sarah."
"Jadi begitu? Memangnya kamu tidak bilang Eyza sebelumnya?"
"Nggak bun, karna Sarah baru tahu anak itu anaknya Salman setelah di rumah sakit. Sarah lupa memberi tahu dia, karna dia sendiri sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sampai anak itu selesai di rawat pun Sarah lupa memberi tahu."
"Hmmm pantas saja Eyza begitu cemburu, nanti kalau Eyza sudah jemput kamu di sini, kamu jelaskan padanya agar tidak ada lagi kesalahpahaman diantara kalian."
"Barusan Sarah sudah mau menjelaskan tapi dia malah pergi meninggalkan Sarah, membiarkan Sarah kehujanan."
"Eyza benar-benar keterlaluan, dia tidak bisa seenaknya begitu."
"Padahal Sarah ingin memberi dia surprise di ko dia pulang kerja tadi, eh dia malah marah-marah."
" Hhhhh .... Kamu sabar yaaa memangnya kamu mau kasih surprise apa ke Eyza?" tanya Bunda sambil terus menggenggam tangan Sarah.
"Apa? Jadi kamu sedang hamil?" ucap Bunda dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.
Sarah hanya menganggukan kepala lalu tersenyum pada Bunda. Bunda memeluk Sarah lalu membelai kepala Sarah.
"Bunda senang sekali mendengar kabar ini Nak, sebentar lagi Bunda akan menimang cucu. Nanti Bunda akan telpon Eyza, agar menjemput kamu di sini."
"Nggak usah Bun, biarkan saja mau dia bagaimana?"
"Ya nggak bisa begitu Nak, kamu sedang hamil, dia sudah membiarkan kamu kehujanan begini sampai akhirnya kamu harus di antar laki-laki lain. Bunda tidak pernah mengajarkan Eyza untuk menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab, dia harus menunjukan sikapnya sebagai pemimpin keluarga, bukan bersikap egois seperti itu."
"Iya Bun."
"Sekarang kamu istirahat saja dulu, kamu
sudah sangat lelah bekerja seharian, apalagi kondisi kamu sedang hamil muda begini, harus banyak istirahat."
"Iya Bun," ucap Sarah lalu melepaskan pelukan Bunda, kemudian merebahkan tubuhnya.
Bunda menutupi tubuh Sarah dengan selimut, kemudian mengusap kepalanya lalu mencium keningnya.
"Bunda keluar dulu ya, kamu istrirahat saja."
Sarah hanya menganggukan kepala, kemudian Bunda pun segera keluar dari kamarku. Tidak lama kemudian Sarah pun tertidur pulas.
Sementara itu, di salah satu restoran milik Reno. Aku mengobrol dengan Reno, karna memang tidak langsung pulang ke rumah.
__ADS_1
"Lo nggak bisa begini terus Za. Cemburu nggak jelas, main tinggalin istri lo begitu aja. Lama-lama dia capek juga sama sikap lo yang seperti ini."
"Gue nggak suka aja kalau di bohongin seperti ini Ren."
"Istri lo pasti punya alasan kenapa dia belum cerita ke elo, seharusnya lo dengerin dulu penjelasan dia, jangan main marah begitu aja."
"Gue kalut Ren, gue terlalu di bakar api cemburu mungkin, makanya gue main tinggalin dia begitu aja."
"Nah, itu dia. Elo terlalu pencemburu, kurangin tuh sifat cemburu lo, jangan sampai sampai Sarah pergi ninggalin lo karna nggak tahan sama sikap lo itu."
"Lo jangan doain begitu dong Ren."
"Gue bukannya doain, tanpa gue doain pun bisa aja nanti Sarah benar-benar akan pergi karna nggak kuat dengan sifat lo itu."
"Iya, iyaaa pelan-pelan gue coba rubah Ren."
Tak lama kemudian ponselku berbunyi, telpon Dari Bunda.
"Sebentar Ren, Bunda telpon."
"Oke."
Aku segera mengagkat telpon dari Bunda.
"Assalamu'alaikum, ada apa Bun?"
Bunda menjawab salamku dari balik ponsel.
"Wa'alaikum salam, kamu bisa ke rumah Bunda sekarang?"
"Sekarang Bun? Ada apa?"
"Sudah, datanglah dulu ke sini, nanti Bunda jelaskan."
"Iya Bun, Eyza berangkat sekarang."
"Ya sudah, Bunda tunggu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Aku menutup ponselku, "Gue ke rumah Bunda dulu ya Ren."
"Iya Za!"
"Kalau begitu, gue pamit Ren. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam."
Aku menuju area parkir mobil di depan Restoran, lalu segera melajukan mobilku menuju rumah Bunda.
*Bersambung ......
Maaf ya cuma sedikit lanjutannya, insya Allah segera di update lagi Kakak.
see you š¤*
__ADS_1