Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Cemburu


__ADS_3

šŸ’”šŸ’”šŸ’”


"Kita jadi belajar kelompok di rumah lo kan Za?" tanya Reno padaku.


"Iya, jadi dong!"


"Lo ikut kan Jang?"


"Iya, insya Allah. Abdi ikut Reno!"


"Syukur deh kalau lo ikut, kalau lo nggak ikut, hadduuh gue pusing deh ntar kerjain agama."


"Hehehe kalau pusing, minum obat atuh Reno!" jawab Ujang meledek Reno.


"Gue pusing bukan karna sakit kepala atuh Ujang. Abdi teh cuma kurang ngerti ilmu agama aja," jawab Reno dengan logat bahasa sunda mirip seperti Ujang.


"Udah, jalan yuk ntar keburu kesiangan!" ucapku lalu segera keluar meninggalkan kelas. Reno dan Ujang mengikutiku dari belakang.


"Kita mau naik apa Za?" tanya Reno padaku.


"Naik taksi aja!"


Tiba-tiba Kak Sarah lewat ketika aku bersama Reno dan Ujang sedang menunggu taksi. Seperti biasa, Reno dengan sikap sok kenal sok dekat, menyapa Kak Sarah.


"Assalamu'alaikum Kak Sarah."


"Wa'alaikum salam, kalian sedang menunggu apa?" tanya Kak Sarah kepada kami.


"Nunggu taksi Kak. Ini mau belajar kelompok di rumah Eyza," jawab Reno kemudian melirikku, seolah menyuruhku menyapa Kak Sarah juga. Aku pun tersenyum menatap Kak Sarah.


"Kak Sarah, pulang naik apa?"


Aku mencoba memberanikan diri menyapa Kak Sarah, walau itu sebenarnya hanya sekedar basa basi saja.


"Kebetulan Kak Salman bawa motor, sekalian antar saya karna rumah kami searah," jawab Kak Sarah kemudian tersenyum padaku.


Setelah mendengar jawaban Kak Sarah, rasanya hatiku seperti terbakar. Sinar matahari yang begitu panas terasa menembus bukan hanya ke kulitku tapi juga ke jantungku.


"Oh, iya. Hati-hati di jalan Kak!" jawabku seperti tak rela Kak Sarah di antar Kak Salman.


"Insya Allah. Oh iya, kamu jangan lupa ya besok kita latihan untuk tampil minggu depan!"


"Iya Kak, insya Allah saya ingat!"


"Bagus kalau begitu," jawab Kak Sarah lalu tersenyum padaku.


Tak lama kemudian Kak Salman muncul dengan motor maticnya.


"Ayo Sarah!" ucap Kak salman kemudian tersenyum kepada kami.


"Iya. Saya duluan ya!" ucap Kak Sarah kepada kami, kemudian pergi bersama Kak Salman dengan motor maticnya.


Ku tatap kepergian Kak Sarah dengan hati yang terluka. Mungkin terlalu dalam aku memendam rasa hingga rasanya, seperti ada sesuatu yang menghimpit jiwa begitu melihat mereka jalan berdua.


Harusnya aku yang disana


dampingimu dan bukan dia


harusnya aku yang kau cinta


dan bukan dia


Rasanya lagu ini mewakili perasaanku yang sedang gegana, gelisah galau merana.


"Za!" tiba-tiba Reno menepuk bahuku, membuat aku terkejut sekaligus membuyarkan kegalauan hatiku.


"Sabar ya!" ucap Reno.


"Lo pikir gue lagi dilanda musibah!" celetukku.


"Kan memang lo lagi di landa musibah. Musibah cemburu. Cintaaa, cinta deritanya tiada akhir. Wakakkkkk!"


"Sialan lo Ren!"

__ADS_1


Ku jepit tengkuk Reno dengan ketiakku, sehingga Reno meringis sambil memegang lenganku.


"Ampun, ampun Za, gue kan cuma bercanda!" ucap Reno padaku, aku pun segera melapaskan tanganku khawatir dia kehabisan nafas.


"Itu Taksi Za. Taksiiii!" teriak Reno memanggil taksi, mencoba mengalihkan perhatianku.


Aku duduk di depan dekat supir. Reno dan Ujang duduk di bekakang. Setelah memberitahukan alamat rumahku, taksi pun melaju meninggalkan pelataran sekolahku.


Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang mengingat kejadian tadi. Masih saja terus menari dalam pikiranku saat ku lihat Kak Sarah berboncengan motor dengan Kak Salman.


Tidak beberapa lama, akhirnya sampai juga taksi ini ke alamat rumahku.


"Alhamdulillaaah sampai juga, berapa Mas?" tanyaku pada supir taksi.


"Tiga puluh delapan ribu!" jawab supir taksi.


"Ada Za uangnya?" tanya Reno


"Ada, lima belas ribu!"


"Kurang dong Za?"


"Banget!"


"Gue ada nih lima belas ribu!"


"Maaf ya. Abdi cuma bisa nyumbang delapan ribu!" ucap Ujang membuat Reno tertawa.


"Hahahaaa lo pikir Eyza lagi minta sumbangan!" celoteh Reno.


"Ya kan yang lain kan pada patungan, masa Abdi nggak? Tapi beneran uang Abdi teh, memang tinggal delapan ribu, nggak apa-apa ya?" jawab Ujang, kemudian menyerahkan uang kepadaku.


"Oke Jang, gue terima sumbangan dari lo ya!" jawabku sedikit berlelucon, membuat Reno dan Ujang tertawa.


"Hahahaaa ada-ada aja lo Za!"


"Iya nih, Eyza teh lucu pisan."


Reno tertawa lalu menggelengkan kepala. Kemudian menyerahkan uang kepadaku. Supir taksi pun ikut tertawa mendengar celotehku.


"Ntar kita pulangnya gimana Za? Nggak ada uang lagi."


"Kalian berdua pulang abis maghrib aja, kan Bokap gue udah pulang tuh abis maghrib. Nanti gue antar kalian pakai mobil."


"Memang lo punya SIM?" tanya Reno.


"Nggak!"


"Ntar kalau ketilang gimana?"


"Ya kan, gue antarnya nggak sampai ke Jogya kali, masih dekat-dekat sini. Santai ajaaa!"


Setelah membayar taksi, kami segera keluar dari dalam taksi kemudian masuk ke dalam rumahku.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam. Kamu sudah pulang Nak?"


"Sudah Bun, kenalin ini teman-teman aku, mau belajar kelompok disini. Nggak apa-apa ya Bun?"


"Oh iya, nggak apa-apa. Ayo silahkan masuk!" Bunda tersenyum pada Reno dan Ujang, kemudian mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.


"Makan dulu aja, baru kemudian belajar!"


"Iya Bun. Yuk Ren, Ujang kita makan dulu!


Aku pun mengajak Reno dan Ujang menuju ruang makan.


"Masakan nyokap lo enak Za!"


"Iya, enak. Hatur nuhun Abdi sudah diajak makan siang!"


"Masya Allah, masakan Nyokap memang top nggak kalah sama makanan restoran" ucapku pada Reno dan Ujang.

__ADS_1


"Dan lo Jang, santai aja nyokap gue emang gitu kalau teman gue datang, khawatir pada kelaparan makanya di suruh makan."


"Memangnya kita kaya orang kelaparan Za?" ucap Reno.


"Nggak kok, lo mirip orang minta sumbangan," jawabku sekenanya.


"Tega banget sih Za!" jawab Reno sambil menyantap makan siang gratisnya.


"Hehehe udah pada habisin makannya setelah itu kita belajar," ucapku pada Reno dan Ujang.


Setelah menyantap makan siang, kami pun belajar bersama di ruang tamu.


"Assalamu'alaikum."


Dya dan Dita mengucapkan salam begitu sampai dirumah. Kemudian mencium tanganku, lalu ku kecup kening mereka. Mereka melihat kearah Reno dan Ujang kemudian tersenyum, setelah itu masuk ke dalam menemui Bunda.


"Adik lo Za?" tanya Reno padaku


"Tadi kan lo lihat, gue cium kening mereka. Masa anak tetangga gue cium-cium begitu, yang ada di hajar gue sama Bokapnya."


"Hehehe gue kan cuma tanya aja Za. Eh, tapi adik lo cakep-cakep Za," jawab Reno.


"Trusss?"


"Nggak ada terusannya, galak banget sih Za!"


"Heheheee!"


"Eh, serius nih. Kira-kira gue masuk kriteria calon adik ipar nggak?" tanya Reno.


"Nggakkkkk!"


"Lebih galak dari yang tadi," ucap Reno sambil meneguk orange jusnya.


"Hahaha!"


"Dia malah ketawa!" ucap Reno.


"Nah, lo aneh. Adik gue masih SMP masa mau lo pacarin sih!"


"Ya nanti Za. Siapa tahu gue ada berjodoh sama salah satu adik lo," jawab Reno dengan wajah seriusnya.


"Udah. Belajar yuk! Masih SMA, ngomongin jodoh ntar nggak selesai nih tugas," jawabku sambil membuka buku tugas agama. Kami memang diberi tugas kelompok oleh Pak Basri, guru agama di sekolah kami.


"Kak, ajarin Dita dong. Ini Dita ada tugas agama, nggak ngerti."


Tiba-tiba Dita muncul menanyakan tugas agamanya padaku.


"Sini, kebetulan ada pakarnya nih!"


Dita pun menghampiriku lalu menyerahkan buku tugas agamanya padaku.


"Kenalin nih teman Kakak, namanya Ujang. Dia jago banget kalau soal tugas agama."


Dita mengulurkan tangannya.


"Dita!"


"Ujang!"


"Kalau yang ini Reno!" ucapku sambil ku pegang bahunya.


"Reno!"


"Dita!"


"Nih, Jang. Lo ngerti nggak?" tanyaku pada Ujang kemudian menyerahkan buku tugas Dita.


Ujang memberi penjelasan kepada Dita, Dita pun tertegun mendengarkan penjelasan Ujang.


"Ini kayanya adik gue demen sama Ujang nih!" bisikku dalam hati, sambil kulirik Dita yang begitu serius memperhatikan Ujang yang sedang memberikan penjelasan.


šŸ€šŸ€šŸ€

__ADS_1


__ADS_2